Balada Fasilitator 6: Masyarakat Bukan Kertas Kosong

 


Ada satu kebiasaan yang hampir selalu mengiringi langkah seorang fasilitator ketika hendak turun ke masyarakat. Di dalam tasnya sudah ada modul, di tangannya sudah ada target, dan di kepalanya sudah tersusun materi yang harus disampaikan. Bahkan tidak jarang sudah diberi tanda dengan rapi: poin mana yang wajib dibahas, halaman mana yang tidak boleh terlewat, dan capaian mana yang harus masuk laporan. Seolah-olah keberhasilan fasilitasi ditentukan oleh seberapa banyak materi yang berhasil dipindahkan dari buku ke kepala peserta.

 

Padahal sesampainya di lokasi, fasilitator sering lupa bahwa orang-orang yang duduk di hadapannya bukanlah kertas kosong yang menunggu ditulisi. Mereka adalah manusia yang telah puluhan tahun hidup bersama masalah yang sedang dibahas. Mereka mengenal tanah tempat mereka berpijak, memahami musim yang datang dan pergi, mengerti adat yang diwariskan leluhurnya, dan memiliki pengalaman yang kadang jauh lebih panjang daripada usia program yang sedang dijalankan.

 

Ironisnya, tidak sedikit fasilitator yang datang membawa jawaban sebelum sempat mendengar cerita. Datang membawa kesimpulan sebelum memahami keadaan. Datang membawa pengetahuan seolah-olah masyarakat tidak memiliki apa-apa. Padahal banyak hal yang dicari oleh program sesungguhnya sudah hidup di tengah masyarakat. Ada yang tersimpan dalam ingatan para sesepuh, ada yang hidup dalam kebiasaan gotong royong, ada yang melekat dalam adat istiadat, dan ada pula yang tersimpan rapi di alam yang setiap hari mereka baca tanpa pernah menyebutnya sebagai teori.

 

Saya teringat sebuah ungkapan lama yang dahulu sering disampaikan dalam pelatihan fasilitasi: "Nothing plus Nothing is Something." Kalimat yang terdengar aneh bagi logika matematika, tetapi sangat masuk akal dalam dunia pemberdayaan. Ketika fasilitator datang tanpa merasa paling tahu, dan masyarakat diberi ruang untuk mengeluarkan pengetahuan yang mereka miliki, justru dari ruang yang tampak kosong itulah sering lahir sesuatu yang besar. Muncul gagasan, tumbuh kesadaran, dan ditemukan solusi yang benar-benar berasal dari kebutuhan masyarakat sendiri.

 

Karena itu sesungguhnya modal utama seorang fasilitator ketika pertama kali memasuki sebuah desa bukanlah tumpukan materi, bukan pula sederet istilah teknis yang rumit. Modal yang paling berharga adalah etika, kemampuan berkomunikasi, dan pengetahuan dasar tentang budaya setempat. Sebab masyarakat biasanya tidak langsung menilai isi kepala kita. Mereka lebih dahulu menilai sikap kita. Cara kita menyapa. Cara kita duduk. Cara kita mendengar. Cara kita menghormati tokoh masyarakat dan adat yang mereka pegang. Dari situlah kepercayaan mulai tumbuh. Dan tanpa kepercayaan, materi sehebat apa pun sering hanya lewat di telinga tanpa pernah sampai ke hati.

 

Tentu bukan berarti fasilitator harus membuang tema kegiatan, melupakan judul pelatihan, atau mengabaikan target program. Target tetap harus dicapai. Perubahan tetap harus diupayakan. Namun jalan menuju target itu tidak harus selalu dimulai dari modul. Jika temanya tentang lingkungan, mulailah dengan bertanya bagaimana leluhur mereka menjaga alam. Jika temanya tentang ekonomi, mulailah dengan mendengar bagaimana mereka bertahan menghadapi masa sulit. Jika temanya tentang kelembagaan, carilah terlebih dahulu bentuk-bentuk kebersamaan yang telah hidup di tengah masyarakat. Dari situlah fasilitator menjahit pengetahuan lokal dengan tujuan program, sehingga target tercapai tanpa membuat masyarakat merasa sedang diajari.

 

Semakin lama saya mengamati dunia fasilitasi, semakin saya percaya bahwa tugas fasilitator bukan mengisi masyarakat dengan pengetahuan baru, melainkan membantu mereka menemukan kembali pengetahuan yang sudah lama mereka miliki. Sebab masyarakat bukan ruang hampa. Mereka adalah perpustakaan hidup yang tidak memiliki rak buku. Mereka adalah buku tebal yang ditulis oleh pengalaman, adat istiadat, kegagalan, keberhasilan, dan hubungan panjang dengan alam.

 

Mungkin itulah sebabnya fasilitator terbaik bukanlah yang paling banyak berbicara, melainkan yang paling banyak mendengar. Bukan yang paling cepat memberi jawaban, melainkan yang paling sabar menggali pertanyaan. Sebab dalam banyak kesempatan, masyarakat sebenarnya tidak kekurangan pengetahuan. Yang mereka butuhkan hanyalah seseorang yang membantu membuka kembali halaman-halaman kebijaksanaan yang selama ini telah mereka miliki.

 

Dan ketika itu terjadi, fasilitator tidak lagi menjadi pusat kegiatan. Ia hanya menjadi jembatan. Ia hanya menjadi penghubung. Ia hanya menjadi orang yang membantu masyarakat menemukan kekuatan yang sesungguhnya sudah ada dalam diri mereka sendiri.

 

Karena pada akhirnya, sebagaimana balada-balada fasilitator lainnya, pelajaran terbesar sering bukan berasal dari materi yang kita bawa, melainkan dari kerendahan hati untuk menyadari bahwa masyarakat yang kita datangi ternyata tidak pernah kosong. Mereka hanya menunggu untuk didengar. Mereka hanya menunggu untuk dipercaya. Mereka hanya menunggu seseorang yang datang bukan untuk menulis di atas kertas, melainkan untuk membaca buku yang telah lama terbuka di hadapannya.

Post a Comment

أحدث أقدم