Di era media sosial, hampir semua hal dapat menjadi viral. Sebuah peristiwa, ucapan, bahkan sepotong video berdurasi beberapa detik mampu menguasai ruang percakapan publik selama berhari-hari. Algoritma bekerja tanpa mengenal benar atau salah, tanpa memilah pujian atau kecaman. Yang dihitung hanyalah perhatian. Semakin ramai diperbincangkan, semakin panjang pula umur sebuah isu. Namun pertanyaannya sederhana, setelah semua itu berlalu, apa yang benar-benar tertinggal bagi masyarakat?
Viral memang memiliki daya ledak
yang luar biasa, tetapi daya ubahnya tidak selalu sebesar gaung yang
ditimbulkannya. Banyak momentum berakhir hanya sebagai jejak digital yang
perlahan tenggelam oleh isu berikutnya. Padahal setiap perhatian publik
sesungguhnya adalah modal sosial yang sangat mahal. Ketika sebuah daerah
menjadi sorotan, budaya mulai dikenal, potensi ekonomi dilirik, pariwisata memperoleh
ruang promosi, dan produk lokal memiliki kesempatan menjangkau pasar yang lebih
luas. Sayangnya, peluang itu kerap habis di tengah perdebatan yang tak pernah
selesai.
Di sinilah perbedaan mendasar antara
viralitas dan pemberdayaan. Viral melahirkan percakapan, sedangkan pemberdayaan
melahirkan perubahan. Viral dapat mengundang jutaan penonton dalam hitungan
jam, tetapi pemberdayaan membutuhkan kerja yang tidak selalu terlihat;
mendampingi pelaku UMKM agar naik kelas, membuka akses pasar bagi petani dan
nelayan, memperkuat kelembagaan desa, melatih generasi muda agar memiliki
keterampilan, serta menjaga nilai-nilai budaya agar tidak sekadar
dipertontonkan, melainkan menjadi sumber kesejahteraan masyarakat.
Masyarakat sesungguhnya tidak hidup
dari banyaknya unggahan, melainkan dari banyaknya kesempatan. Mereka tidak
membutuhkan lebih banyak konten daripada pekerjaan, tidak memerlukan lebih
banyak perdebatan daripada solusi. Sebab kesejahteraan tidak lahir dari kolom
komentar, melainkan dari keberpihakan yang diwujudkan melalui kebijakan,
kolaborasi, dan kerja nyata. Di situlah seluruh unsur, mulai dari pemerintah,
dunia usaha, perguruan tinggi, tokoh adat, tokoh agama, hingga komunitas
masyarakat, memiliki tanggung jawab yang sama untuk mengubah perhatian menjadi
manfaat.
Sudah saatnya cara pandang kita
bergeser. Jangan berhenti bertanya mengapa sesuatu menjadi viral, tetapi
mulailah bertanya apa yang dapat dibangun setelah viralitas itu datang. Sebab
viral hanyalah pintu masuk, bukan tujuan akhir. Keberhasilan sebuah momentum
tidak diukur dari berapa lama ia bertahan sebagai trending topic, melainkan
dari seberapa panjang manfaatnya dirasakan oleh masyarakat. Viral memiliki usia
yang singkat, sedangkan pemberdayaan mampu hidup jauh melampaui usia sebuah
peristiwa. Ketika perhatian berhasil diubah menjadi gerakan, dan gerakan
melahirkan kesejahteraan, saat itulah sebuah momentum menemukan makna yang
sesungguhnya: bukan sekadar dikenang karena pernah ramai dibicarakan, tetapi
karena berhasil mengubah kehidupan masyarakat.
إرسال تعليق