Suatu hari saya berbincang dengan
seorang kawan tentang kegiatan lomba dalam rangka memeriahkan HUT Kemerdekaan
Republik Indonesia. Pertanyaannya sederhana: apakah kegiatan tersebut perlu
dicatat dalam logbook harian? Sebab, kegiatan seperti itu tentu menyita
waktu. Ada persiapan, koordinasi, pelaksanaan, dan berbagai aktivitas lain yang
sedikit banyak dapat memengaruhi progres pekerjaan. Namun kawan saya menjawab,
kegiatan tersebut tidak perlu dicatat karena tidak tercantum dalam kontrak.
Saya memahami maksudnya. Kontrak memang harus menjadi pedoman dan setiap
pekerjaan memiliki ruang lingkup serta ketentuan yang harus dipatuhi.
Tetapi kemudian saya berpikir, apakah mencatat sebuah kenyataan berarti kita
mengakui bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari pekerjaan?
Bukankah mencatat fakta berbeda dengan membenarkan atau memperhitungkannya
sebagai prestasi pekerjaan? Kalau memang kegiatan itu bukan bagian dari
kontrak, bukankah bisa saja dicatat sebagai aktivitas lain yang memengaruhi
waktu kerja, tanpa menjadikannya bagian dari pekerjaan yang dibayar? Dengan
begitu, kontrak tetap dihormati, administrasi tetap tertib, tetapi kenyataan di
lapangan juga tidak perlu diubah menjadi cerita lain.
Sebab kalau tidak, kita bisa masuk
ke situasi yang agak lucu. Di lapangan orang sedang mengikuti lomba, sementara
di logbook tertulis sedang melakukan koordinasi. Di lapangan waktu
tersita untuk kegiatan bersama, tetapi dalam laporan progres tetap berjalan
seolah tidak terjadi apa-apa. Bukan berarti orang sedang berniat melakukan
sesuatu yang salah. Bisa jadi mereka hanya berusaha menyesuaikan diri dengan
sistem yang tersedia. Tetapi kalau keadaan seperti ini terus berlangsung,
lama-lama orang akan lebih sibuk mencari kalimat yang aman untuk ditulis
daripada menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
Padahal semua orang biasanya tahu.
Atasan tahu, bawahan tahu, rekan kerja tahu, bahkan masyarakat pun mungkin
melihat kegiatan tersebut. Karena itu, menurut saya, yang perlu dibangun
bukanlah kebiasaan untuk menyembunyikan kenyataan, tetapi sistem yang mampu
membedakan antara fakta, pekerjaan, dan
pertanggungjawaban. Kalau kegiatan itu bukan bagian dari kontrak,
katakan bukan bagian dari kontrak. Kalau kegiatan tersebut memengaruhi waktu
kerja, catat dampaknya. Kalau tidak dapat diperhitungkan sebagai prestasi
pekerjaan, jangan diperhitungkan. Sederhana. Dengan begitu kita tidak perlu
mengorbankan kejujuran hanya demi membuat laporan terlihat sempurna.
Saya kira persoalannya bukan pada
lomba 17 Agustus. Lomba hanyalah contoh kecil bahwa kenyataan di lapangan tidak
selalu tersedia kolomnya dalam sebuah format administrasi. Pekerjaan manusia
tidak selalu berjalan lurus seperti timeline. Ada kegiatan sosial,
kondisi lapangan, rapat mendadak, dan berbagai keadaan yang tidak semuanya
dapat diprediksi ketika kontrak dibuat. Sistem yang baik seharusnya mampu
mengakomodasi kenyataan tersebut, bukan memaksa kenyataan menyesuaikan diri
dengan laporan.
Kita sedang merayakan kemerdekaan.
Ada bendera berkibar, lomba digelar, dan kebersamaan dibangun. Alangkah
ironisnya jika dalam suasana merayakan kemerdekaan, kita justru merasa tidak leluasa
untuk menuliskan kenyataan sederhana tentang apa yang benar-benar terjadi. Mencatat kenyataan bukan berarti membenarkan
semuanya. Mengakui sesuatu terjadi juga bukan berarti meminta sesuatu itu
dibayar. Barangkali yang perlu kita pikirkan adalah bagaimana membuat
sistem yang memungkinkan keduanya berjalan bersama: aturan tetap dihormati dan
kejujuran tetap memiliki tempat.
Karena pada akhirnya, lomba boleh, aturan tetap dijaga, tetapi
jangan sampai kejujuran justru tidak punya ruang dalam logbook.
إرسال تعليق