Surat Sakit untuk Kejujuran



Setiap instansi memiliki tradisi dan budaya kerjanya sendiri. Regulasi yang digunakan boleh sama, berasal dari pemerintah yang sama, bahkan ditandatangani oleh pejabat yang sama. Namun ketika aturan itu diterjemahkan ke dalam praktik sehari-hari, hasilnya bisa berbeda. Ada kantor yang menjadikan aturan sebagai alat menciptakan keadilan, ada yang menjadikannya sekadar alat menjaga ketertiban, dan ada pula yang tanpa sadar membangun aturan-aturan tidak tertulis yang justru lebih berkuasa daripada regulasi resmi.

 

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan budaya organisasi. Setiap lembaga memang membutuhkan karakter dan identitasnya sendiri. Yang menjadi persoalan adalah ketika budaya tersebut perlahan menggeser nilai-nilai dasar yang seharusnya dijaga, terutama kejujuran.

 

Di beberapa tempat, entah karena kebiasaan atau karena cara pandang yang sudah berlangsung lama, kejujuran justru sering terasa lebih merepotkan daripada kepura-puraan.

 

Bayangkan ada dua pegawai yang tidak masuk kerja. Pegawai pertama datang kepada atasannya dan berkata dengan jujur bahwa ia harus mengurus sekolah anaknya. Sebagai orang tua, ia memiliki tanggung jawab yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Alasannya jelas, masuk akal, dan disampaikan apa adanya. Namun sering kali kejujuran semacam ini harus melewati berbagai prosedur. Ada surat yang harus dibuat, ada izin yang harus diajukan, ada penjelasan yang harus diberikan.

 

Sementara pegawai kedua cukup mengirim pesan singkat, "Maaf Pak, saya sakit."

 

Aneh tapi nyata, alasan yang kedua sering kali jauh lebih mudah diterima. Tidak banyak pertanyaan, tidak banyak penjelasan, bahkan kadang langsung disertai ucapan semoga cepat sembuh. Padahal belum tentu yang bersangkutan benar-benar sakit. Bisa jadi ia sedang mengurus urusan yang sama, hanya memilih jalan yang dianggap lebih aman dan lebih praktis.

 

Di sinilah kejujuran sering terasa seperti anak tiri dalam rumah yang bernama birokrasi. Ia diundang dalam pidato-pidato resmi, dipasang dalam spanduk integritas, ditulis dalam visi dan misi organisasi, tetapi dalam praktik sehari-hari tidak selalu mendapatkan tempat yang layak.

 

Tentu tidak semua pimpinan demikian. Masih banyak pemimpin yang menghargai keterbukaan dan memahami bahwa pegawai adalah manusia yang memiliki kehidupan di luar kantor. Namun kita juga tidak bisa menutup mata bahwa masih ada sebagian pimpinan yang lebih nyaman mendengar alasan yang terdengar baik daripada kenyataan yang apa adanya. Yang dicari bukan selalu kebenaran, melainkan kenyamanan.

 

Akibatnya muncul pelajaran tidak tertulis yang berbahaya. Jika ingin urusan mudah, jangan terlalu jujur. Jika ingin cepat diterima, sampaikan alasan yang paling enak didengar. Lama-kelamaan yang tumbuh bukan budaya integritas, melainkan budaya kosmetik. Semua terlihat baik di permukaan, sementara kebenaran perlahan tersisih di belakang meja.

 

Padahal organisasi yang sehat tidak dibangun oleh kemampuan memoles kata-kata. Organisasi yang sehat dibangun oleh keberanian menerima fakta apa adanya. Sebab kejujuran bukanlah ancaman bagi sebuah sistem. Justru kejujuran adalah fondasi yang membuat sistem tetap berdiri kokoh.

 

Kita sering berbicara tentang reformasi birokrasi, tata kelola pemerintahan yang baik, transparansi, dan akuntabilitas. Namun reformasi tidak akan pernah lahir hanya dari tumpukan regulasi. Reformasi lahir ketika kejujuran lebih dihargai daripada pencitraan. Ketika fakta lebih penting daripada drama. Ketika pimpinan lebih memilih mendengar kenyataan yang pahit daripada kebohongan yang terdengar indah.

 

Sistem yang baik seharusnya memanusiakan manusia. Sistem tidak boleh memaksa seseorang untuk berbohong agar terlihat patuh. Sistem tidak boleh membuat orang merasa lebih aman menyembunyikan fakta daripada menyampaikan kebenaran. Sebab ketika kejujuran mulai dianggap merepotkan, maka ketidakjujuran akan perlahan dianggap sebagai solusi.

 

Dan dari sinilah aroma KKN sering bermula. Bukan langsung dalam bentuk kasus besar yang menggemparkan. Bukan pula dalam angka-angka fantastis yang memenuhi pemberitaan. Ia tumbuh dari pembiasaan-pembiasaan kecil yang dianggap sepele. Dari toleransi terhadap alasan yang tidak benar. Dari kebiasaan menerima kemasan tanpa memeriksa isi. Dari keputusan-keputusan kecil yang lebih mengutamakan kenyamanan daripada keadilan.

 

Hari ini mungkin hanya soal izin tidak masuk kerja. Besok bisa menjadi soal penilaian kinerja. Lusa bisa menjadi soal promosi jabatan. Ketika kejujuran tidak lagi menjadi nilai utama, maka yang berkembang adalah kemampuan menyesuaikan cerita dengan selera pendengar.

 

Karena itu, yang perlu dibangun bukan sekadar sistem yang tertib, melainkan sistem yang adil. Sistem yang menghargai keterbukaan. Sistem yang memberikan ruang bagi manusia untuk berkata jujur tanpa takut dipersulit. Sebab pada hakikatnya pegawai bukan mesin administrasi. Mereka adalah manusia yang memiliki keluarga, tanggung jawab sosial, dan berbagai persoalan kehidupan yang tidak selalu bisa diselesaikan dengan formulir dan tanda tangan.

 

Pada akhirnya, jabatan hanyalah titipan. Masa tugas akan berakhir. Ruang kerja akan berganti penghuni. Nama kita mungkin hanya tersisa dalam arsip dan dokumen yang suatu saat akan berdebu. Namun setiap keputusan yang pernah kita buat akan tetap menjadi bagian dari pertanggungjawaban kita sebagai manusia.

 

Maka sebelum meminta bawahan jujur, pastikan sistem yang kita bangun tidak menghukum kejujuran itu sendiri. Sebelum berbicara tentang integritas, pastikan kejujuran mendapatkan tempat yang terhormat dalam setiap kebijakan. Sebab kelak, ketika seluruh atribut jabatan telah ditinggalkan, yang tidak akan ikut pensiun adalah pertanggungjawaban atas setiap keputusan yang pernah kita ambil.

 

Jangan sampai suatu hari nanti kita sadar bahwa selama ini kebohongan sering mendapat dispensasi, sementara kejujuran justru harus mengajukan izin terlebih dahulu. Karena bisa jadi, di hadapan Sang Khalik, bukan laporan yang paling rapi yang akan diperhitungkan, melainkan hati yang paling jujur dalam menjalankan amanah yang pernah dipercayakan kepada kita.

Post a Comment

Previous Post Next Post