Kita hidup di zaman ketika hampir
semua hal diukur dengan uang. Kesuksesan dilihat dari besarnya rekening,
kehormatan dari mahalnya kendaraan, bahkan kebaikan pun sering ditanya lebih
dahulu, "Apa untungnya?" Tidak ada yang salah dengan investasi
modal karena ia menggerakkan roda ekonomi. Namun, ketika uang menjadi
satu-satunya ukuran, kita diam-diam sedang kehilangan kemampuan menghitung
sesuatu yang jauh lebih mahal daripada rupiah: kasih sayang.
Ada investasi yang tidak pernah
muncul dalam laporan keuangan. Tidak memiliki grafik pertumbuhan, tidak
menjanjikan dividen, dan tidak dibahas dalam rapat para pemegang saham. Namanya
investasi sosial. Modalnya bukan uang, melainkan waktu, kepedulian, kesabaran,
dan ketulusan. Hasilnya memang tidak bisa dipanen dalam hitungan bulan, tetapi
sering kali bertahan sepanjang usia. Salah satu bentuk investasi sosial yang
paling sunyi adalah menjadi tukang momong. Upahnya mungkin tidak besar, bahkan
pekerjaannya sering dipandang sebelah mata. Padahal setiap suapan makanan,
setiap pelukan ketika anak menangis, setiap doa yang dipanjatkan diam-diam,
sesungguhnya adalah setoran investasi ke dalam hati seorang manusia. Anak yang
diasuhnya mungkin tidak lahir dari rahimnya, tetapi tumbuh bersama kasih
sayangnya. Ikatan itu dibangun bukan oleh hubungan darah, melainkan oleh
ketulusan yang diulang setiap hari.
Saya pernah menyaksikan sendiri
bagaimana investasi itu dipanen. Bukan di bank. Bukan pula di pasar modal.
Seorang ibu yang telah puluhan tahun bekerja sebagai tukang momong menggelar
resepsi pernikahan anaknya. Tidak ada kemewahan yang dipertontonkan. Namun,
jauh sebelum tamu berdatangan, orang-orang yang dahulu pernah menjadi
momongannya sudah lebih dulu memenuhi lokasi acara. Mereka tidak datang untuk
duduk menikmati hidangan. Mereka datang untuk bekerja. Sejak pagi hingga acara
usai, mereka seolah menjadi bagian dari panitia keluarga. Ada yang mengatur
tamu, membantu di dapur, mengangkat perlengkapan, melayani kebutuhan tamu,
hingga mengerjakan apa pun yang perlu dilakukan tanpa harus diminta.
Pemandangan itu begitu mengharukan. Tidak terdengar kalimat, "Saya
membantu karena diminta." Yang terlihat justru sebaliknya. Mereka
berebut membantu karena merasa memiliki. Mereka hadir bukan sebagai tamu
undangan, melainkan sebagai anak-anak yang pulang membantu ibunya sendiri. Saat
itulah saya memahami bahwa perempuan sederhana itu mungkin tidak memiliki
saham, deposito, atau portofolio investasi yang mengagumkan. Namun, ia memiliki
kekayaan yang tidak pernah tercatat dalam neraca keuangan: hati manusia yang
pernah disentuhnya dengan ketulusan, digendongnya dengan penuh kasih sayang,
disuapinya dengan kesabaran, dan dibesarkannya dengan cinta yang tak pernah
meminta balasan.
Bukankah itu keuntungan yang
sesungguhnya? Atau kita baru menganggap sesuatu bernilai jika dapat dihitung
dengan angka? Ironisnya, kita lebih mudah mengagumi orang yang pandai menanam
modal daripada mereka yang tekun menanam kasih sayang. Kita sibuk mengejar
pertumbuhan ekonomi, tetapi sering lupa menumbuhkan empati. Kita bangga
menyambut investor yang membawa modal, tetapi kurang memberi penghormatan
kepada mereka yang setiap hari menginvestasikan dirinya untuk membesarkan
manusia. Padahal masyarakat tidak hanya membutuhkan orang-orang yang mampu
memperkaya perekonomian, tetapi juga orang-orang yang memperkaya kemanusiaan.
Di sinilah saya memahami bahwa
pemberdayaan yang sesungguhnya bukan hanya tentang bantuan, pelatihan, atau
modal usaha. Semua itu penting, tetapi tidak akan berarti banyak jika manusia
kehilangan kepedulian. Pemberdayaan yang sejati adalah ketika kehadiran kita
membuat orang lain bertumbuh, merasa dicintai, lalu suatu hari kelak menebarkan
cinta yang sama kepada orang lain. Kasih sayang ternyata memiliki efek berganda
yang jauh melampaui bunga deposito. Ia tidak pernah tercatat di bursa, tetapi
selalu hidup dalam ingatan. Ia tidak memiliki nilai tukar, tetapi memiliki
nilai yang tak ternilai.
Mungkin sudah saatnya kita berhenti
bertanya berapa banyak uang yang telah kita investasikan, lalu mulai bertanya
berapa banyak hati yang telah kita tumbuhkan. Sebab rekening hanya mencatat
kekayaan yang kita miliki, sedangkan kehidupan akan selalu mengingat kebaikan
yang kita tinggalkan. Jika semua diukur dengan uang, lalu kasih sayang diukur
dengan apa? Barangkali jawabannya sederhana: diukur dari berapa banyak orang
yang tetap datang, tetap peduli, dan tetap menggenggam tangan kita ketika hidup
tidak lagi menawarkan apa pun selain kenangan tentang ketulusan.
Post a Comment