Negeri yang Ramai oleh Informasi, Sepi oleh Kepastian

 


Kita hidup di zaman yang aneh. Informasi berlimpah, tetapi kepastian terasa langka. Setiap hari telepon genggam kita dipenuhi kabar dari berbagai arah. Ada berita dari media massa, pernyataan pejabat, unggahan media sosial, pesan berantai, hingga analisis dadakan dari orang-orang yang kemarin masih menjadi penonton dan hari ini mendadak menjadi ahli. Informasi bergerak begitu cepat, seolah tidak lagi mengenal batas ruang dan waktu.

 

Jika dahulu orang harus membeli koran atau menunggu siaran berita malam untuk mengetahui apa yang sedang terjadi, kini informasi datang tanpa diundang. Ia masuk melalui notifikasi, grup WhatsApp, beranda media sosial, dan berbagai kanal digital lainnya. Setiap detik ada kabar baru. Setiap menit ada pendapat baru. Setiap jam muncul "fakta" baru yang belum tentu benar. Yang benar bercampur dengan yang salah, yang faktual berdesakan dengan yang spekulatif, sementara yang ilmiah berjalan berdampingan dengan yang sekadar cocoklogi.

 

Ironisnya, ketika informasi palsu semakin mudah diproduksi, kepercayaan terhadap informasi resmi justru tidak selalu meningkat. Pemerintah sesungguhnya telah memiliki berbagai saluran informasi resmi dan kantor berita negara untuk menyampaikan informasi kepada publik. Namun pengalaman sejarah membuat sebagian masyarakat tetap memelihara keraguan.

 

Kita pernah hidup pada masa ketika sebagian informasi lebih sibuk merawat citra daripada merawat fakta. Yang pahit diberi gula, yang retak ditutup cat, yang bermasalah dipindahkan dari halaman depan ke catatan kaki. Dalam keadaan seperti itu, kebohongan sering kali tidak datang dengan wajah menakutkan. Ia datang dengan pakaian rapi, bahasa resmi, dan disampaikan berulang-ulang. Hari ini diucapkan, besok diulangi, minggu depan ditegaskan kembali. Lama-kelamaan sebagian orang mulai menganggapnya sebagai kebenaran. Bukan karena faktanya berubah, tetapi karena pengulangan memiliki kekuatan yang kadang lebih besar daripada logika. Sebab tidak semua orang memiliki waktu memeriksa fakta, sementara hampir semua orang memiliki telinga untuk mendengar hal yang sama berkali-kali.

 

Akibatnya, meskipun zaman berubah, bekas luka ketidakpercayaan itu masih tersimpan di ingatan banyak orang. Masyarakat akhirnya berada pada posisi yang unik. Ketika informasi resmi disampaikan, sebagian bertanya-tanya apakah itu benar adanya. Ketika informasi tidak resmi beredar, sebagian lain justru mempercayainya tanpa verifikasi. Kebenaran akhirnya tidak lagi diukur berdasarkan data, tetapi berdasarkan siapa yang paling cepat mengirim pesan ke grup WhatsApp.

 

Persoalannya bukan hanya soal benar atau salah. Ada masalah lain yang sering membuat masyarakat jengah, yaitu lambannya kepastian. Informasi yang benar tetapi terlambat sering kali kehilangan manfaatnya. Sebab masyarakat membutuhkan informasi bukan sekadar untuk diketahui, melainkan untuk dijadikan dasar mengambil keputusan.

 

Contoh sederhana dapat dilihat pada pengumuman hasil kelulusan tes masuk SMA melalui jalur prestasi pagi ini.. Secara logika pelayanan publik, hasil yang sudah selesai semestinya dapat diumumkan sejak pagi hari agar siswa dan orang tua memiliki cukup waktu menyiapkan langkah berikutnya. Namun tidak jarang informasi yang ditunggu-tunggu itu baru muncul menjelang siang. Akibatnya banyak orang tua yang sejak pagi belum berangkat kerja. Mereka menunggu sambil memegang telepon genggam, membuka laman pengumuman berulang kali, lalu menutupnya kembali karena belum ada perubahan. Ada yang harus menemani anaknya mendaftar ulang, ada yang perlu mengatur biaya pendidikan, dan ada yang hanya ingin memperoleh kepastian tentang masa depan anaknya.

 

Sementara informasi resmi masih tertahan, rumor justru sudah lebih dahulu berkeliling. Dugaan berkembang menjadi keyakinan. Spekulasi berubah menjadi seolah-olah fakta. Grup WhatsApp bekerja lebih cepat daripada sebagian meja pelayanan.

 

Dalam situasi seperti itu, ada sebagian orang yang sedikit lebih beruntung. Mereka kebetulan memiliki sahabat wartawan senior yang selama puluhan tahun bergelut dengan fakta dan peristiwa. Ketika informasi resmi belum juga muncul dan masyarakat mulai sibuk menerka-nerka, mereka bisa bertanya kepada kawan lamanya itu. Bukan untuk mendapatkan perlakuan khusus, melainkan untuk memperoleh kepastian yang lebih masuk akal. Kelangkaan informasi sedikit terobati. Setidaknya ada pegangan yang lebih dapat dipercaya dibandingkan kabar berantai yang lahir tanpa bapak dan ibu yang jelas.

 

Di tengah kelangkaan informasi yang valid itu, saya teringat sebuah ungkapan lama di dunia jurnalistik: *bad news is good news*. Kabar buruk adalah kabar baik bagi pemberitaan. Entah siapa yang pertama kali menciptakannya, tetapi ungkapan itu tampaknya masih hidup sehat hingga hari ini. Kabar tentang keributan sering kali berlari lebih cepat daripada kabar tentang kerja keras. Yang gaduh mendapat panggung, yang bekerja mendapat tugas tambahan. Ketika seratus orang melakukan kebaikan, sering kali tidak ada yang menoleh. Tetapi ketika satu orang berbuat kesalahan, seluruh kampung seperti mendapat bahan diskusi gratis selama berhari-hari.

 

Padahal negeri ini tidak hanya berisi masalah. Masih banyak guru yang mengajar dengan ikhlas, petani yang menanam dengan sabar, tenaga kesehatan yang bekerja tanpa banyak bicara, aparatur yang menjalankan tugas dengan jujur, dan warga biasa yang setiap hari menjaga agar kehidupan tetap berjalan sebagaimana mestinya. Hanya saja mereka kalah populer dibandingkan kegaduhan. Mungkin karena kebaikan memang tidak pandai berteriak. Ia bekerja diam-diam. Tidak membuat sensasi. Sementara keburukan sering kali datang sambil membawa pengeras suara.

 

Di sinilah tantangan besar pengelola informasi publik saat ini. Masyarakat tidak hanya membutuhkan informasi yang benar, tetapi juga informasi yang cepat, transparan, dan mudah diakses. Sebab ruang kosong yang ditinggalkan oleh informasi resmi hampir selalu segera diisi oleh prasangka, dugaan, dan hoaks.

 

Kepercayaan publik tidak dibangun melalui slogan, baliho, atau konferensi pers. Kepercayaan lahir dari kebiasaan berkata jujur, terbuka, dan tepat waktu. Ketika informasi disampaikan dengan cepat dan dapat diverifikasi, masyarakat akan belajar percaya. Sebaliknya, ketika informasi sering terlambat, berbelit-belit, atau lebih sibuk menjaga citra daripada melayani kebutuhan publik, maka keraguan akan terus menemukan alasan untuk hidup.

 

Pada akhirnya, masalah terbesar kita mungkin bukan kekurangan informasi. Justru sebaliknya, kita kebanjiran informasi. Yang sering kurang adalah kepastian. Kita hidup di negeri yang ramai oleh informasi, tetapi kadang masih sepi oleh kepastian. Dan ketika kepastian terlalu lama ditunda, masyarakat akan mencari jawabannya sendiri. Di situlah hoaks, prasangka, dan ketidakpercayaan menemukan rumahnya.

 

Sebab manusia bisa bersabar menunggu kabar. Tetapi tidak semua manusia sanggup terlalu lama menunggu kepastian.

Post a Comment

Previous Post Next Post