Pringsewu Dikepung ODOL



Konon, jalan dibangun agar perjalanan menjadi lebih mudah, lebih cepat, dan nyaman. Entah sejak kapan, di Pringsewu, jalan justru menjadi tempat masyarakat belajar bersabar.

Pagi bersabar.

Siang bersabar.

Malam pun tetap bersabar.

 

Yang lewat bukan lagi sekadar kendaraan. Yang lewat adalah antrean panjang truk bermuatan berat yang seolah tidak pernah mengenal jam istirahat. Suara rem angin menjadi alarm harian warga. Debu menjadi tamu yang datang tanpa diundang. Kemacetan berubah menjadi rutinitas yang dianggap biasa, padahal tidak pernah seharusnya dibiasakan.

 

Pringsewu memang berada di posisi yang strategis. Diapit jalur nasional yang menghubungkan berbagai daerah. Dari ruas jalan ini melintas angkutan pasir dari kawasan tambang di Lampung Tengah, truk pengangkut sawit dari Pesisir Barat menuju Kalirejo, kendaraan berat yang menuju Tanggamus, Pesisir Barat, Bengkulu hingga Sumatera Barat, termasuk mobilisasi logistik dan peralatan dari kawasan Tanggamus Electrical Power serta Pertamina Geothermal Energy (PGE) Area Ulubelu/PLTP Ulubelu. Semua melintas di jalan yang sama.

 

Kalau jalan bisa berbicara, mungkin ia sudah lama meminta cuti.

Sayangnya jalan hanya bisa retak.

Lalu berlubang.

Kemudian ditambal.

Retak lagi.

Begitu terus, seolah kerusakan sudah masuk dalam kalender tahunan.

 

Tidak ada yang menolak pembangunan. Pasir harus diangkut. Sawit harus dipasarkan. Listrik harus dibangun. Energi panas bumi harus dikembangkan. Semua itu penting bagi pertumbuhan ekonomi. Tetapi pertumbuhan tidak boleh diukur hanya dari banyaknya truk yang lewat, sementara rakyat yang tinggal di sepanjang jalan justru menjadi pihak yang paling sering menanggung akibatnya.

 

Apalagi jika masih terdapat kendaraan yang beroperasi dengan dimensi atau muatan melebihi ketentuan atau ODOL (Over Dimension Over Loading). Jalan yang dirancang untuk menahan beban tertentu dipaksa memikul beban yang bukan haknya. Seperti memaksa seorang anak memikul karung beras. Mungkin masih bisa berjalan, tetapi jangan salahkan jika akhirnya roboh.

 

Yang lebih ironis, masyarakat Pringsewu ikut membayar ongkos yang tidak pernah mereka sepakati.

Mereka membayar melalui pajak.

Mereka membayar lagi melalui kendaraan yang cepat rusak.

Mereka membayar melalui waktu yang habis di kemacetan.

Mereka membayar melalui bahan bakar yang terbuang.

 

Mereka membayar melalui rasa cemas setiap kali anak berangkat sekolah atau keluarga melintas di antara kendaraan-kendaraan raksasa.

Semua membayar.

Kecuali jalan.

Karena jalan tidak punya dompet.

Ia hanya punya tubuh yang terus dipaksa menanggung beban.

 

Sering kali kita bangga mengatakan roda ekonomi terus berputar. Kalimat itu memang indah. Namun, roda ekonomi seharusnya tidak berputar dengan membuat roda sepeda motor rakyat lebih cepat penyok. Sebab kemajuan yang membuat masyarakat harus terus mengalah bukanlah kemajuan yang utuh. Ia hanya memindahkan beban dari satu pundak ke pundak yang lain.

 

Negara tentu tidak boleh memilih antara ekonomi atau rakyat. Tugas negara justru memastikan keduanya berjalan beriringan. Jalan harus tetap menjadi urat nadi distribusi barang, tetapi juga tetap aman dan nyaman bagi masyarakat yang setiap hari menggantungkan hidup di atasnya. Karena itu, pengawasan terhadap kendaraan yang melebihi dimensi dan muatan, peningkatan kualitas infrastruktur, serta penataan lalu lintas angkutan barang menjadi bagian penting dari perlindungan terhadap kepentingan publik.

 

Pringsewu tidak meminta jalan tol.

Tidak meminta jalan dari marmer.

Tidak meminta karpet merah.

Warganya hanya ingin jalan yang benar-benar menjadi jalan. Bukan ruang ujian kesabaran setiap pagi dan sore.

Sebab jalan yang rusak memang bisa diperbaiki dengan aspal.

Tetapi kesabaran rakyat yang terus-menerus diuji, tidak selalu bisa ditambal dengan proyek berikutnya.

 

Dan ketika rakyat mulai bertanya, "Negara ada di mana?", sesungguhnya mereka bukan sedang meminta belas kasihan.

Mereka hanya sedang mengingatkan bahwa jalan ini milik negara, tetapi yang setiap hari menanggung akibatnya adalah rakyat.


Post a Comment

Previous Post Next Post