Ada satu kata yang hampir selalu hadir dalam pidato
pembangunan, tetapi sering tidak mendapat tempat yang layak dalam pelaksanaannya.
Kata itu adalah pemberdayaan.
Ia sering disebut dengan penuh semangat di ruang rapat,
ditulis rapi dalam dokumen perencanaan, dan dicetak tebal dalam proposal
kegiatan. Namun ketika anggaran mulai dibagi, target mulai dikejar, dan proyek
mulai dijalankan, pemberdayaan sering kali duduk sendirian di sudut ruangan,
seperti anak tiri yang diingat saat diperlukan, lalu dilupakan setelah urusan
selesai.
Belakangan ini, perbincangan tentang Program Makan Bergizi
Gratis (MBG) menjadi contoh yang menarik untuk direnungkan. Program yang lahir
dari niat baik ini hadir dengan skala yang luar biasa besar. Jutaan penerima
manfaat, anggaran yang tidak kecil, jaringan pelaksana yang panjang, dan
harapan publik yang tinggi.
Namun di tengah perjalanan, muncul berbagai kabar yang
membuat masyarakat bertanya. Ada dugaan penyimpangan anggaran yang menyeret
sejumlah pihak. Ada berita tentang anak-anak yang mengalami gangguan kesehatan
setelah menyantap makanan yang dibagikan. Ada kritik mengenai porsi dan jenis
makanan yang dinilai belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan gizi. Ada guru yang
harus ikut repot mengurusi distribusi makanan sehingga waktu belajar ikut
terdistraksi. Ada pula daerah yang mengeluhkan berkurangnya ruang gerak akibat
kebijakan efisiensi yang menyertai besarnya kebutuhan anggaran program tersebut.
Semua itu tentu perlu disikapi secara jernih dan
proporsional. Namun di balik berbagai perdebatan tersebut, ada satu pertanyaan
yang jarang terdengar.
Apakah kita terlalu terburu-buru menjalankan program besar
tanpa terlebih dahulu memberdayakan orang-orang yang akan menjalankannya?
Dalam dunia pendampingan masyarakat, ada pelajaran sederhana
yang sudah lama dikenal. Jika ingin menanam padi, jangan hanya membawa benih.
Siapkan juga sawahnya, airnya, petaninya, dan cara merawatnya. Sebab benih terbaik
sekalipun bisa gagal tumbuh jika dilempar begitu saja ke lahan yang belum siap.
Sayangnya, dalam banyak program pembangunan, yang sering
menjadi pusat perhatian adalah hasil yang terlihat cepat. Yang penting bangunan
berdiri. Yang penting bantuan tersalurkan. Yang penting program diluncurkan.
Yang penting ada angka yang bisa dipresentasikan.
Sementara proses menyiapkan manusianya dianggap terlalu
lambat.
Padahal pembangunan yang tergesa-gesa sering menyerupai
orang yang membeli bus pariwisata untuk perjalanan jauh, tetapi lupa mengajari
sopir membaca rute. Kendaraannya megah, penumpangnya banyak, tujuan
perjalanannya mulia, tetapi sepanjang jalan semua sibuk mencari arah.
Di sinilah pemberdayaan sering menjadi korban pertama.
Karena pemberdayaan memang tidak pandai membuat sensasi. Ia
tidak menghasilkan foto seremonial yang ramai. Ia tidak mudah dipotong menjadi
video pendek berdurasi tiga puluh detik. Hasilnya juga tidak selalu terlihat
dalam hitungan minggu.
Pemberdayaan membutuhkan waktu untuk mendengar, melatih,
mendampingi, mencoba, gagal, memperbaiki, lalu mencoba lagi. Proses yang
panjang ini sering dianggap membosankan oleh zaman yang menyukai segala sesuatu
serba instan.
Mungkin karena itulah kita lebih sering menyukai program
yang langsung berlari dibanding program yang mengajak belajar berjalan.
Padahal hampir semua keberhasilan besar lahir dari proses
kecil yang sabar. Anak yang pandai membaca tidak langsung diberi buku setebal
ensiklopedia. Ia diajari mengeja huruf demi huruf. Petani yang berhasil tidak
langsung memanen. Ia mengolah tanah lebih dahulu. Bahkan rumah yang kokoh pun
menghabiskan lebih banyak waktu untuk mengerjakan pondasi daripada memasang
atap.
Anehnya, dalam pembangunan, kita kadang berharap hasil besar
lahir dari persiapan yang minim.
Akibatnya, setiap kali muncul masalah, masyarakat langsung
terbelah. Ada yang membela program mati-matian. Ada yang menolaknya
habis-habisan. Padahal bisa jadi persoalannya bukan pada tujuan program,
melainkan pada cara kita menyiapkannya.
Seseorang dapat mendukung makan bergizi bagi anak-anak
sekaligus meminta pengelolaan yang transparan. Seseorang dapat menyetujui
tujuan program tanpa harus menutup mata terhadap kekurangannya. Kritik dan
dukungan tidak harus menjadi dua kubu yang saling bermusuhan.
Negara tentu memiliki kewajiban untuk hadir. Bukan sekadar
memastikan program berjalan, tetapi juga memastikan tata kelolanya benar,
pengawasannya kuat, dan manfaatnya benar-benar sampai kepada rakyat. Sebab
konstitusi tidak hanya mengamanatkan kesejahteraan, tetapi juga keadilan dan
akuntabilitas.
Pada akhirnya, kisah pembangunan sering kali bukan tentang
kurangnya program. Negeri ini tidak pernah kekurangan program. Yang sering
kurang adalah kesabaran untuk menyiapkan manusia sebelum menjalankan program
tersebut.
Dan mungkin di situlah letak pelajaran yang paling mahal.
Bahwa pembangunan tidak selalu gagal karena kekurangan
anggaran. Tidak selalu pula karena kekurangan ide. Kadang ia tersandung karena
terlalu sibuk membagikan manfaat, tetapi lupa memberdayakan mereka yang akan
menjaga manfaat itu tetap hidup.
Pemberdayaan memang jarang mendapat tepuk tangan paling
meriah. Ia tidak sering menjadi bintang utama dalam panggung pembangunan.
Tetapi seperti pondasi rumah yang tersembunyi di bawah
tanah, justru dialah yang menentukan apakah bangunan akan berdiri kokoh atau
retak ketika musim pertama datang.
Barangkali sudah saatnya anak tiri bernama pemberdayaan itu
tidak lagi sekadar diundang dalam pidato, melainkan benar-benar diajak duduk di
meja utama pembangunan. Sebab sering kali, masa depan sebuah program ditentukan
bukan oleh seberapa besar anggarannya, melainkan oleh seberapa siap manusianya.
إرسال تعليق