Ada orang yang membangun dirinya
dengan belajar. Ada yang mengasah kemampuan dengan pengalaman. Ada pula yang
memilih jalan berbeda: membangun kesan seolah-olah dirinya mampu, meskipun
fondasinya rapuh.
Di zaman ketika citra sering lebih
cepat dinilai daripada karya, sebagian orang menemukan cara unik untuk
bertahan. Ketika kemampuan belum cukup, maka kedekatan dijadikan modal. Ketika
pengetahuan masih dangkal, maka pujian diperbanyak. Ketika hasil kerja belum
mampu berbicara, maka pencitraan dibuat sedemikian rupa agar orang lain percaya
bahwa dirinya luar biasa.
Akhirnya, yang dijual bukan
kompetensi, melainkan kenyamanan bagi orang-orang di sekitarnya. Senyum dibuat
lebih lebar dari kemampuan. Pujian diberikan lebih banyak daripada kontribusi.
Jamuan disiapkan bukan semata sebagai bentuk penghormatan, tetapi sebagai cara
agar kekurangan tidak terlalu terlihat.
Teknologi pun kadang ikut dijadikan
alat untuk memperkuat ilusi. Foto, dokumentasi, unggahan, dan berbagai simbol
keberhasilan dipamerkan seolah menjadi bukti bahwa seseorang memiliki
kapasitas. Padahal sebuah kamera hanya mampu menangkap gambar, bukan kedalaman
ilmu. Sebuah dokumentasi hanya merekam momen, bukan membuktikan kemampuan.
Yang lebih menyedihkan, ketika
topeng mulai terlihat retak, sebagian orang tidak memilih memperbaiki wajahnya.
Mereka justru memilih memperbaiki topengnya.
Kesalahan yang seharusnya menjadi
bahan evaluasi berubah menjadi bahan mencari kambing hitam. Teman yang pernah
membantu bisa dikorbankan. Orang yang selama ini berjalan bersama bisa
dijadikan tangga agar dirinya tetap terlihat tinggi. Baginya, menjaga citra
lebih penting daripada menjaga persahabatan, dan mempertahankan pujian lebih
penting daripada mempertahankan kejujuran.
Inilah titik ketika menjilat bukan
lagi sekadar perilaku, tetapi telah menjadi strategi hidup. Sebab ketika
seseorang tidak mampu memenangkan kepercayaan dengan kualitas, ia mencoba
mendapatkannya melalui kedekatan. Ketika tidak mampu dihargai karena karya, ia
berusaha dihargai karena perhatian yang diberikan kepada orang yang tepat.
Yang menarik, orang seperti ini
sering memiliki daya tahan malu yang luar biasa. Berkali-kali ucapannya tidak
sesuai kenyataan. Berkali-kali kelemahannya diketahui orang lain. Berkali-kali
hasil kerjanya tidak sebanding dengan cerita tentang dirinya. Namun bukannya
berhenti, ia justru semakin pandai memainkan peran.
Seolah-olah hidup ini adalah
panggung sandiwara, dan ia lupa bahwa penonton juga memiliki mata.
Padahal orang-orang yang benar-benar
memiliki kemampuan biasanya tidak terlalu sibuk membuktikan bahwa dirinya
hebat. Pohon yang berbuah tidak perlu berteriak bahwa ia memiliki buah. Laut
yang dalam tidak perlu membuat suara gaduh untuk menunjukkan kedalamannya.
Kompetensi memiliki caranya sendiri
untuk berbicara. Ia terlihat dari hasil, dari sikap, dari tanggung jawab, dan
dari kemampuan menyelesaikan persoalan ketika tidak ada lagi tempat untuk
bersembunyi di balik pencitraan.
Sebab pada akhirnya, jabatan bisa
membuat seseorang dihormati sementara, fasilitas bisa membuat seseorang
terlihat berhasil sesaat, dan pujian bisa membuat seseorang merasa tinggi
seketika. Tetapi ketika ujian nyata datang, ketika masalah membutuhkan solusi,
ketika tanggung jawab tidak bisa dialihkan kepada orang lain, hanya satu yang
tersisa: kemampuan yang sebenarnya.
Karena dunia mungkin bisa ditipu
oleh kemasan, tetapi kenyataan selalu memiliki cara untuk membuka isi.
Dan pada akhirnya, orang yang
terlalu sibuk membuat dirinya terlihat hebat sering lupa satu hal: kehormatan
tidak pernah lahir dari seberapa banyak orang yang kita buat terkesan, tetapi
dari seberapa banyak kebaikan dan kemampuan yang benar-benar kita tinggalkan.
.
إرسال تعليق