Beberapa hari yang lalu, saya
dikejutkan oleh dua piring kudapan yang telah tersaji di meja makan. Sekilas
mata saya langsung mengenalinya. Sagon.
Sudah lama saya tidak melihatnya.
"Darimana sagon ini?" tanya
saya kepada istri.
"Dari tetangga. Kebetulan
cucunya baru lahir," jawabnya singkat.
"Oh...," spontan saya
tersenyum. "Ini memang kue yang biasa dibuat untuk menyambut kelahiran
bayi. Dulu, hampir setiap keluarga Ulun Lampung membuatnya."
Jawaban sederhana itu tiba-tiba
membawa ingatan saya puluhan tahun ke belakang, ke Liwa pada era 1980-an. Saat
itu, kelahiran seorang bayi bukan hanya membahagiakan sebuah keluarga, tetapi
juga menghangatkan seluruh kampung. Dapur-dapur kembali hidup. Aroma kelapa sangrai
berpadu dengan tepung ketan memenuhi ruangan. Para ibu sibuk membuat sagon,
lalu membagikannya kepada tetangga, kerabat, dan siapa saja yang datang
menjenguk sang bayi. Tidak ada kemasan mewah, tidak ada kartu ucapan, apalagi
unggahan di media sosial. Yang dibagikan hanyalah sagon dan segenggam
ketulusan.
Nenek pernah bercerita bahwa sagon
bukan sekadar makanan. Ia adalah ungkapan syukur kepada Allah atas lahirnya
kehidupan baru sekaligus titipan doa. Dengan membagikan sagon, keluarga
berharap kebahagiaan yang mereka rasakan ikut tersebar bersama doa-doa dari
orang-orang yang menerimanya. Sebab orang-orang tua dahulu percaya, seorang
anak tidak cukup dibesarkan oleh kasih sayang ayah dan ibunya. Ia juga
membutuhkan restu, perhatian, dan kepedulian masyarakat tempat ia bertumbuh.
Karena itu, kelahiran seorang bayi adalah kebahagiaan bersama.
Sagon yang dibuat untuk menyambut
kelahiran bayi pun memiliki ciri yang berbeda dengan sagon yang biasa
disuguhkan saat Hari Raya Idulfitri. Sagon kelahiran tidak dicetak menjadi
kepingan-kepingan. Bentuknya tetap berupa butiran atau remahan hasil perpaduan
tepung ketan putih, kelapa parut setengah tua, gula pasir, dan sedikit garam
yang telah dipanggang hingga harum. Tepung ketan dan kelapa terlebih dahulu
disangrai secara terpisah, kemudian dicampur bersama gula tanpa menggunakan
air. Setelah itu adonan dipanggang hingga matang dan diremahkan agar mudah
dibagikan kepada setiap tamu yang datang.
Ada kebiasaan sederhana yang hingga
kini masih lekat dalam ingatan saya. Di ruang tamu biasanya telah tersedia
sepiring besar berisi sagon. Di sampingnya tersusun beberapa piring kecil dan
sendok. Setiap tamu yang datang dipersilakan mengambil sendiri beberapa sendok
sagon ke piring kecilnya, lalu menikmatinya sambil berbincang dengan keluarga
yang sedang berbahagia. Sebelum pulang, sebagian tamu juga dibekali sagon untuk
dibawa ke rumah. Suasananya begitu sederhana, tetapi hangat. Dari sepiring
sagon itulah percakapan mengalir, doa-doa dipanjatkan, dan silaturahmi dirawat.
Bagi orang tua dahulu, setiap bagian
dari sagon memiliki makna. Rasa manisnya melambangkan harapan agar sang bayi
kelak menjalani kehidupan yang manis, penuh kebahagiaan, dan keberkahan.
Gurihnya kelapa menjadi simbol kesederhanaan, kebaikan hati, dan harapan agar
ia tumbuh menjadi pribadi yang bermanfaat bagi sesama. Sementara teksturnya
yang padat menjadi doa agar anak itu tumbuh kuat, tangguh, dan tidak mudah
menyerah menghadapi berbagai ujian kehidupan.
Yang menarik, filosofi itu tidak
hanya tersimpan dalam rasanya, tetapi juga dalam proses pembuatannya. Tepung
ketan dan kelapa harus disangrai dengan sabar hingga mengeluarkan aroma harum.
Tidak boleh terlalu cepat dan tidak boleh pula terlalu lama. Semua membutuhkan
ketelitian dan kesabaran. Bukankah membentuk manusia juga demikian? Karakter
yang baik tidak lahir dalam sekejap. Ia dibentuk oleh waktu, keteladanan,
kesabaran, dan kasih sayang yang terus-menerus.
Orang-orang tua dahulu mungkin tidak
mengenal istilah modal sosial, pendidikan karakter, atau kearifan
lokal. Namun mereka telah mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui sagon, mereka mengajarkan bahwa kebahagiaan menjadi lebih bermakna
ketika dibagikan, bahwa tetangga bukan sekadar orang yang tinggal di sebelah
rumah, melainkan keluarga yang ikut menjaga kehidupan. Sebuah kue sederhana
mampu menjadi perekat hubungan antarmanusia.
Hari ini, sagon semakin jarang
dijumpai di keluarga-keluarga Ulun Lampung. Kelahiran seorang bayi lebih sering
diumumkan melalui layar telepon daripada melalui langkah kaki yang mengetuk
pintu tetangga. Ucapan selamat mungkin semakin banyak, tetapi kehangatan
perjumpaan perlahan berkurang. Kita semakin mudah terhubung, tetapi belum tentu
semakin dekat.
Tentu tidak ada yang salah dengan
perubahan zaman. Tradisi boleh berubah mengikuti perkembangan kehidupan. Namun
ada nilai-nilai yang tidak seharusnya ikut ditinggalkan. Sebab sebuah
masyarakat tidak hanya bertahan karena kemajuan teknologi, melainkan juga
karena kemampuannya menjaga makna di balik kebiasaan-kebiasaan kecil yang
diwariskan oleh para leluhurnya.
Sagon
sesungguhnya hanyalah sebuah kue. Yang membuatnya istimewa bukan tepung
ketannya, bukan kelapanya, dan bukan pula rasa manisnya. Yang membuatnya
berharga adalah doa yang menyertainya, tangan-tangan yang membuatnya dengan
penuh kasih, langkah-langkah yang mengantarnya dari rumah ke rumah, serta
hati-hati yang menerimanya dengan rasa syukur.
Karena itu, yang hilang bukan sagon. Yang perlahan menghilang adalah kebiasaan berbagi kebahagiaan, merawat persaudaraan, dan mewariskan kasih sayang melalui tindakan-tindakan kecil yang tulus. Sebab sebuah peradaban tidak runtuh ketika kehilangan makanan tradisionalnya. Ia mulai rapuh ketika kehilangan nilai-nilai yang selama ini disimpan di balik makanan itu

إرسال تعليق