Hukum mengajarkan kita membedakan
benar dan salah. Etika mengajarkan mana yang pantas dan mana yang tidak. Namun
kehidupan, sering kali datang membawa soal yang tidak sesederhana itu.
Ada seseorang yang tertangkap
mengutil. Barang yang diambil tidak mahal. Tetapi alasan di baliknya membuat
hati enggan segera mengetuk palu. Bukan untuk berfoya-foya. Bukan untuk
memenuhi gaya hidup. Melainkan agar adiknya bisa makan. Agar ibunya bisa minum
obat. Agar dapur tetap berasap satu hari lagi.
Perbuatannya tetap salah.
Tidak ada kalimat yang dapat
mengubah pencurian menjadi kebaikan. Tidak ada penderitaan yang serta-merta
menghapus aturan. Sebab bila kesalahan dibenarkan, hukum akan kehilangan
pijakan.
Tetapi benarkah setelah mengatakan,
"Ia salah," urusan kita selesai?
Mungkin tidak.
Karena di balik satu tangan yang
mengambil milik orang lain, ada sistem yang lebih dulu mengambil harapan
hidupnya. Ada kesempatan kerja yang tak pernah datang. Ada pendidikan yang
terhenti di tengah jalan. Ada harga kebutuhan yang terus naik, sementara
penghasilan tertinggal jauh di belakang.
Kita begitu cepat menghakimi orang
yang mencuri sepotong roti. Namun sering kali terlalu lambat mempertanyakan
mengapa masih ada orang yang harus mempertaruhkan harga dirinya demi sepotong
roti.
Barangkali di sinilah nurani diuji.
Menghukum perbuatannya memang perlu.
Tetapi memahami sebabnya juga tidak kalah penting. Sebab hukum menjaga
ketertiban, sedangkan empati menjaga kemanusiaan. Jika salah satunya hilang,
kita hanya akan memiliki masyarakat yang tertib, tetapi dingin. Atau
sebaliknya, hangat tetapi tanpa aturan.
Ada pengorbanan yang tidak pernah
dipajang di etalase kepahlawanan.
Seseorang memilih dicap penjahat,
agar orang yang dicintainya tidak tidur dalam kelaparan. Ia tahu risikonya. Ia
tahu akibatnya. Namun ia tetap berjalan ke arah yang mungkin akan menghancurkan
dirinya sendiri.
Mungkin, inilah lilin yang
sesungguhnya.
Lilin yang tidak berdiri di atas
meja perayaan. Tidak pula menyala di ruang-ruang megah.
Ia menyala di lorong kehidupan yang
gelap.
Menghabiskan tubuhnya sendiri agar
orang lain masih dapat melihat secercah cahaya.
Namun, jika kita benar-benar
menghargai pengorbanan itu, bukankah tugas kita bukan sekadar meneteskan air
mata atau menjatuhkan hukuman?
Tugas kita adalah memastikan tidak
semakin banyak orang yang dipaksa menjadi lilin.
Di sinilah pemberdayaan menemukan
maknanya.
Pemberdayaan bukan sekadar memberi
bantuan sesaat, lalu selesai. Pemberdayaan adalah menghadirkan kesempatan agar
seseorang mampu berdiri dengan martabatnya sendiri. Membuka akses pendidikan,
memperluas lapangan kerja, menguatkan usaha kecil, membangun keterampilan,
serta memastikan setiap orang memiliki jalan yang halal untuk menghidupi
keluarganya.
Karena masyarakat yang berdaya tidak
lahir dari banyaknya hukuman yang dijatuhkan, melainkan dari banyaknya harapan
yang dibangun.
Ketika seseorang memiliki kesempatan
bekerja, memiliki keterampilan, memiliki akses untuk berkembang, maka pilihan
antara melanggar hukum atau membiarkan keluarganya kelaparan tidak lagi menjadi
persimpangan yang harus ia hadapi.
Pada akhirnya, ukuran sebuah bangsa
bukan hanya seberapa tegas menghukum orang yang bersalah.
Tetapi juga seberapa sungguh bangsa
itu memberdayakan mereka yang lemah, sebelum keadaan memaksa mereka memilih
jalan yang salah.
Sebab bisa jadi, yang sedang kita
hakimi hari ini bukan hanya seseorang yang melanggar hukum.
Melainkan seseorang yang sedang
kalah melawan keadaan.
Dan barangkali, pemberdayaan adalah
cara paling manusiawi untuk memadamkan penderitaan, tanpa harus memadamkan
manusianya.
Agar tak ada lagi lilin yang harus
menghabiskan dirinya sendiri, hanya supaya orang-orang yang dicintainya tetap
memiliki alasan untuk bertahan hidup.
Post a Comment