Sebuah
bangsa jarang runtuh karena satu bencana besar. Ia lebih sering melemah karena
terlalu lama memaklumi kerusakan kecil. Retakan yang mula-mula hanya sebesar
rambut dibiarkan menjadi celah, celah berubah menjadi lubang, dan lubang
akhirnya menjadi jalan masuk bagi kehancuran. Yang menghancurkan bukan
semata-mata kerusakannya, melainkan kebiasaan mengatakan, "Masih bisa
ditoleransi."
Begitulah
pembiaran bekerja. Ia tidak gaduh. Ia tidak menggelegar. Ia datang dengan wajah
yang tenang, dibungkus kalimat-kalimat yang terdengar bijaksana: sudah biasa,
jangan dibesar-besarkan, nanti juga selesai sendiri. Padahal
sejarah tidak pernah mencatat ada persoalan yang selesai hanya karena
didiamkan. Yang ada, persoalan tumbuh lebih besar daripada keberanian untuk
menghadapinya.
Korupsi
yang dimaklumi akan melahirkan koruptor baru. Ketidakadilan yang dibiarkan akan
melahirkan kemarahan baru. Hukum yang dipilih-pilih akan melahirkan
ketidakpercayaan baru. Semua bermula dari satu penyakit yang tampak sepele:
pembiaran. Sebab kerusakan tidak pernah berkembang sendirian; selalu ada orang-orang
baik yang memilih diam, orang-orang pintar yang memilih aman, dan orang-orang
berkuasa yang memilih terlihat sibuk daripada benar-benar memperbaiki.
Ironisnya,
kita sering lebih cepat tersinggung oleh kritik daripada oleh kenyataan. Orang
yang menunjukkan retakan dianggap merusak suasana, sementara mereka yang
menutupi retakan justru dipuji karena menjaga ketenangan. Seolah-olah menutup
mata lebih mulia daripada membuka kesadaran. Padahal dinding yang retak tidak
pernah menjadi utuh hanya karena dicat lebih tebal.
Bangsa
ini sesungguhnya tidak kekurangan orang cerdas. Tidak kekurangan aturan. Bahkan
tidak kekurangan pidato tentang perubahan. Yang mulai langka adalah keberanian
untuk mengatakan bahwa yang salah memang salah, meskipun pelakunya dekat; bahwa
yang rusak memang harus diperbaiki, meskipun perbaikannya mengganggu
kenyamanan. Ketika keberanian itu hilang, pembiaran menjelma budaya. Dan ketika
pembiaran menjadi budaya, kehancuran hanya tinggal menunggu waktu.
Maka,
jangan terlalu sibuk mencari siapa yang harus disalahkan ketika keadaan semakin
memburuk. Bertanyalah lebih dahulu, berapa kali kita memilih diam saat
seharusnya bersuara, berapa kali kita memaklumi yang tidak patut dimaklumi, dan
berapa kali kita menganggap retakan hanyalah persoalan kecil. Sebab sebuah
bangsa tidak roboh hanya karena banyak orang jahat. Ia lebih sering roboh
karena terlalu banyak orang baik yang menganggap semua masih baik-baik saja.
Retakan
terbesar itu memang bukan pada bangunan negara, bukan pula pada kerasnya zaman.
Retakan terbesar itu bernama pembiaran. Dan setiap kali pembiaran dianggap
kewajaran, sesungguhnya kita sedang menambah satu retakan lagi pada masa depan
yang kelak diwariskan kepada anak-anak kita.
Post a Comment