“Dang Lupa di Lapahan, Ingok Jama Sai Tinggal.” Kalimat ini sudah lama tinggal dalam ingatanku. Sejak era
1990-an, ketika kami, Muli-Meranai Liwa, berangkat ke Bandar Lampung untuk
menuntut ilmu. Waktu itu kalimat tersebut menjadi kredo MM-Pelikat (Muli-Meranai Pengikok Liwa Sepakat). Sederhana memang
bunyinya. Tetapi semakin jauh perjalanan hidup, semakin terasa dalam maknanya.
“Dang Lupa di Lapahan”
seperti mengingatkan kami pada niat ketika berangkat: ada cita-cita yang ingin
diperjuangkan. Sedangkan “Ingok Jama
Sai Tinggal” membuat kami tetap membawa serta wajah-wajah yang ada di
rumah. Mungkin karena itulah kalimat sederhana itu begitu lama bertahan dalam
ingatan.
Kepada
anak-anak muda yang sekarang sedang menuntut ilmu, saya sering teringat pada
masa itu. Mungkin zamannya sudah sangat berbeda, tetapi perasaan seorang anak
yang meninggalkan rumah barangkali tidak banyak berubah. Ada orang tua yang
melepas dengan senyum, ada ibu yang mungkin diam-diam menyimpan air mata, ada
keluarga yang berharap suatu hari anaknya pulang membawa cerita baik.
Dulu
kami juga begitu. Kami berangkat dengan bekal seadanya, tetapi membawa
kepercayaan yang besar dari orang-orang di rumah. Mereka mungkin tidak mampu memberikan banyak hal, tetapi mereka
memberikan sesuatu yang jauh lebih mahal: kepercayaan bahwa kami bisa.
Perjalanan
kami dahulu seperti berjalan di tengah
malam yang sunyi tanpa penerangan. Jalan di depan belum jelas. Masa
depan pun masih menjadi tanda tanya. Tidak ada telepon pintar, Google Maps,
media sosial, chatgpt, dan berbagai kemudahan yang sekarang begitu dekat dengan
kehidupan. Kalau rindu, tidak bisa setiap saat mendengar suara orang tua. Kalau
kesulitan, tidak selalu ada tempat bertanya. Meski sebagian dari kami
dimudahkan karena tinggal menumpang dengan keluarga yang ada di Banda Lampung
Maka
kami berjalan dengan apa yang ada: sedikit bekal, alamat di tangan, doa dari
rumah, dan keyakinan bahwa sekolah akan membuka jalan yang lebih baik. Di rumah
pun perjuangan sedang berlangsung. Kami belajar menahan keinginan, sementara
orang tua menahan kebutuhan. Sama-sama
“puasa”, sama-sama mengencangkan ikat pinggang. Bukan karena tidak ingin
menikmati hidup, tetapi karena ada satu harapan yang sedang diperjuangkan
bersama: anak bisa terus sekolah.
Barangkali
itulah yang membuat “Ingok Jama Sai
Tinggal” terasa begitu dekat. Yang teringat bukan hanya wajah orang tua,
tetapi juga hal-hal kecil yang dahulu menjadi bagian dari kehidupan kami.
Sholat dan mengaji yang menemani hari-hari di kampung. Latihan pencak silat
yang membuat tubuh lebih bugar dan mengajarkan kedisiplinan. Adat, budaya, sopan
santun, dan nilai-nilai yang pelan-pelan ditanamkan tanpa banyak kata. Semua
itu ikut berangkat bersama kami, meskipun tidak masuk ke dalam koper.
Dan
ada satu lagi yang selalu baik untuk diingat: jalan pulang. Sebab mungkin rumah bukan hanya tempat kita kembali
setelah perjalanan panjang. Rumah adalah tempat kita mengingat kembali siapa
diri kita sebelum dunia mengenalkan begitu banyak hal.
Sekarang
jalan menuju masa depan tentu jauh lebih terang. Informasi begitu mudah
ditemukan. Dunia terasa dekat. Anak-anak muda hari ini memiliki kesempatan yang
mungkin dahulu hanya bisa kami bayangkan. Tetapi setiap zaman rupanya memiliki
gelapnya sendiri. Dulu kami takut
karena jalan tidak terang.
Sekarang mungkin kita justru perlu hati-hati karena
terlalu banyak jalan yang menawarkan cahaya.
Tidak ada yang salah dengan menikmati masa muda, mengenal dunia, memiliki
cita-cita besar, atau ingin berhasil. Semua itu bagian dari perjalanan. Hanya
saja, di tengah perjalanan yang panjang, mungkin sesekali kita perlu berhenti sebentar.
Mengingat wajah di rumah. Mengingat pesan-pesan kecil yang dulu terdengar
biasa. Mengingat dari mana kita berangkat. Bukan untuk merasa bersalah, tetapi
supaya langkah kita tetap punya arah.
Mungkin
pesan itu akhirnya bukan lagi soal masa lalu. Ia adalah pesan sederhana dari
mereka yang pernah berjalan lebih dahulu kepada mereka yang sedang berjalan
sekarang. “Dang Lupa di Lapahan, Ingok
Jama Sai Tinggal.” Silakan kejar ilmu. Kejar cita-cita. Pergilah sejauh
kesempatan membawamu. Kenali dunia seluas-luasnya.
Tetapi
kalau suatu hari perjalanan terasa terlalu ramai, barangkali ada baiknya
menengok sebentar ke belakang. Di sana mungkin masih ada wajah ayah dan ibu
yang dahulu melepasmu. Ada rumah yang pernah menjadi tempatmu bermimpi. Ada doa
yang pernah mengiringi langkahmu. Dan ada jalan pulang yang selalu menunggu, tanpa pernah bertanya mengapa
engkau begitu lama pergi. Sebab pada
akhirnya, yang paling kita rindukan bukan hanya tempat untuk pulang, tetapi
orang-orang yang membuat kita ingin pulang. Wallahu A'lam Bishawab.
Post a Comment