Mental
adalah sesuatu yang tidak kelihatan, tetapi sangat mudah dirasakan. Ia tidak
tertulis di dahi, tidak tercantum dalam kartu identitas, dan tidak selalu
tampak dari cara seseorang berbicara. Mental justru terlihat dari bagaimana
seseorang bersikap ketika berhadapan dengan orang lain, terutama ketika tidak
ada kepentingan yang sedang diperjuangkan. Dari sanalah kita bisa membedakan
mana pribadi yang benar-benar memiliki karakter dan mana yang sekadar pandai
memainkan peran.
Begitu
pula dengan sebuah lembaga. Cara menerima orang luar, cara mendengar pendapat,
cara merespons kritik, bahkan cara memperlakukan orang yang dianggap tidak
penting, sesungguhnya adalah cermin mental lembaga itu sendiri. Ada yang merasa
komunikasi sebagai jembatan, ada pula yang menjadikannya pagar. Ada yang
melihat orang lain sebagai manusia yang harus dihargai, ada yang baru
menghargai manusia setelah tahu jabatan dan kedudukannya.
Ironisnya,
kita hidup di negeri yang sangat rajin berbicara tentang Pancasila. Lima
silanya hafal, lambangnya tahu, upacara memperingatinya, pidato mengucapkannya,
bahkan dinding kantor pun sering menjadi tempat paling ramai memajang
kalimat-kalimat tentang Pancasila. Tetapi persoalannya bukan apakah kita hafal
Pancasila. Persoalannya adalah apakah
Pancasila sudah menjadi mental? Sebab Pancasila yang hanya berada di
kepala akan menjadi hafalan,
Pancasila
yang hanya berada di mulut akan menjadi slogan, dan Pancasila yang hanya
terpampang di dinding akan menjadi pajangan. Pancasila baru benar-benar hidup ketika
ia sampai ke hati dan kemudian terlihat dalam perilaku. Ketika kita menghormati
manusia bukan karena jabatannya. Ketika kita mau mendengar bukan hanya karena
yang berbicara memiliki kekuasaan. Ketika kita menerima kritik tanpa merasa
sedang dipermalukan. Ketika kita memperlakukan orang lain dengan adil meskipun
tidak ada keuntungan yang bisa kita peroleh darinya.
Mental
Pancasila tidak perlu banyak bicara. Ia cukup terlihat dalam keseharian. Sila
tentang kemanusiaan terlihat dari cara kita memperlakukan sesama. Persatuan
terlihat dari kemampuan kita menghargai perbedaan. Kerakyatan terlihat dari
kesediaan mendengar, bukan hanya berbicara. Keadilan terlihat dari keberanian
memperlakukan orang secara patut, bukan berdasarkan kedekatan dan kepentingan. Dan
ketuhanan seharusnya membuat manusia semakin beradab, bukan semakin merasa
paling benar. Karena itu, jangan terlalu cepat mengatakan diri kita Pancasilais
hanya karena mampu mengucapkan kelima sila. Lihatlah bagaimana kita memperlakukan orang lain ketika tidak ada kamera,
tidak ada atasan, tidak ada tepuk tangan, dan tidak ada kepentingan yang sedang
kita kejar. Di situlah mental kita sesungguhnya berbicara.
Mungkin
sudah waktunya kita bertanya lebih jujur: jangan-jangan selama ini Pancasila
terlalu sering kita ucapkan, tetapi terlalu sedikit kita hidupkan. Kita sibuk
menjadikan Pancasila sebagai kata-kata, sementara mental kita masih sibuk
mengejar kuasa, penghormatan, dan kepentingan. Kalau begitu, masalahnya bukan
Pancasila. Pancasilanya tidak pernah salah.
Yang perlu kita periksa adalah hati dan mental kita. Sebab ketika Pancasila
berhenti di ujung lidah, ia hanya menjadi suara. Tetapi ketika Pancasila masuk
ke hati, ia akan menjadi sikap, menjadi perilaku, dan akhirnya menjadi watak
bangsa.
Post a Comment