Yang Pergi Bukan Orangnya, Melainkan Egonya

 



Ada satu penyakit yang tidak membuat demam, tetapi mampu menghangatkan kepala. Tidak membuat tubuh lemah, tetapi melemahkan nurani. Penyakit itu bernama ego.


Ego selalu datang dengan pakaian yang meyakinkan. Kadang bernama kepintaran, kadang bernama pengalaman, kadang pula bernama jabatan. Dari luar tampak mengagumkan, tetapi dari dalam perlahan menggerogoti kejujuran. Ia membuat seseorang merasa mampu melakukan segalanya, seolah pendapatnya selalu paling benar dan keputusannya tak layak dipertanyakan.


Padahal orang yang benar-benar berilmu justru semakin sadar betapa banyak hal yang belum ia ketahui. Semakin tinggi ilmunya, semakin rendah hatinya. Sebab ilmu melahirkan kebijaksanaan, sedangkan ego hanya melahirkan kebutuhan untuk selalu dikagumi.


Ego juga mempunyai kebiasaan lain: ia tidak suka transparansi. Hampir setiap langkah selalu dihitung dengan neraca keuntungan. Kebaikan pun terkadang dipilih bukan karena benar, melainkan karena menguntungkan. Bahkan kemurahan hati dapat berubah menjadi panggung pertunjukan. Sebungkus jajanan, secangkir kopi, atau sekadar traktiran kecil bisa menjadi alat membeli citra jika niatnya bukan berbagi, melainkan agar orang lupa pada tabiat yang sebenarnya.


Maka jangan tergesa-gesa menilai seseorang dari apa yang ia bagikan. Sebab tangan yang memberi belum tentu sedang tulus, sebagaimana tangan yang tidak memberi belum tentu pelit. Nilai sebuah pemberian tidak diukur dari isinya, melainkan dari hati yang menggerakkannya.


Di sinilah manusia diuji. Bukan saat tidak memiliki kesempatan berbuat salah, melainkan ketika mempunyai kesempatan mengambil lebih banyak, memanfaatkan keadaan, atau memoles citra, tetapi memilih menahan diri. Itulah pengendalian diri. Sebuah kemampuan yang jauh lebih mahal daripada sekadar kecerdasan. Sebab kecerdasan tanpa pengendalian diri hanya akan melahirkan manusia yang pandai mencari pembenaran.


Namun berhenti pada pengendalian diri saja belum cukup. Setelah mampu menahan ego, seseorang harus mulai memberdayakan dirinya. Memperbaiki ilmu, memperhalus adab, melatih kejujuran, memperkuat integritas, dan memperbesar manfaat bagi orang lain. Sebab hidup bukan perlombaan untuk tampak hebat, melainkan kesempatan untuk menjadi lebih baik dari hari kemarin.


Ironisnya, banyak orang rela menghabiskan waktu berjam-jam mempercantik citra, tetapi enggan meluangkan beberapa menit memperbaiki karakter. Padahal citra hanya hidup di mata manusia, sedangkan karakter hidup dalam setiap keputusan yang kita ambil. Citra bisa dibangun dalam sehari, tetapi karakter dibentuk seumur hidup.


Ada pepatah lama yang sederhana, tetapi selalu benar.


Batu hitam tetaplah batu hitam meskipun disepuh menjadi emas. Sebaliknya, emas tetaplah emas meskipun bertahun-tahun terpendam di dalam lumpur.


Hakikat tidak pernah tunduk pada kemasan. Waktu selalu menjadi hakim yang paling adil. Cepat atau lambat, topeng akan lelah menempel di wajahnya sendiri. Yang tersisa hanyalah watak.


Karena itu, jangan terlalu sibuk membuat orang lain percaya bahwa kita baik. Jauh lebih penting memastikan bahwa ketika tidak ada seorang pun yang melihat, kita tetap memilih berbuat baik. Jangan terlalu sibuk mengejar pujian, karena tepuk tangan hanya bertahan beberapa detik, sedangkan kehormatan bertahan selama karakter masih dijaga.


Tulisan ini bukan untuk mencari siapa yang paling egois. Sebab jika kita terlalu sibuk mencarinya di luar sana, jangan-jangan ia sedang tersenyum dari dalam cermin.


Bukankah musuh terberat manusia bukan selalu orang lain, melainkan dirinya sendiri?


Maka bila hari ini ada yang benar-benar layak kita lepaskan, semoga itu bukan persahabatan, bukan persaudaraan, bukan pula kemanusiaan.


Yang pergi bukan orangnya, melainkan egonya.


Karena ketika ego pergi, ruang itu akan diisi oleh kerendahan hati. Saat kesombongan pergi, kebijaksanaan datang. Dan ketika manusia berhasil mengalahkan dirinya sendiri, saat itulah ia tidak lagi membutuhkan panggung untuk terlihat besar. Kehadirannya sudah cukup menjadi cahaya bagi sekelilingnya.

 

Post a Comment

Previous Post Next Post