Bukan Sedang Memimpin, Hanya Senang Menyuruh


 

Pernah suatu ketika saya menjumpai seseorang yang begitu mudah mengeluarkan kata-kata perintah. Ini kerjakan, itu selesaikan, jangan begitu, harus begini. Sebenarnya memberi arahan bukanlah kesalahan. Dalam organisasi memang ada struktur, pembagian tugas, serta kewenangan. Yang terasa aneh adalah ketika perintah justru semakin banyak keluar saat semakin banyak orang hadir. Di situlah saya kadang bertanya: ini sedang mengarahkan pekerjaan, atau sedang mencari penonton?


Relasi kuasa memang terjadi di mana saja dan kapan saja. Dalam pandangan ilmu sosial, kuasa tidak hanya berada di ruang politik atau pemerintahan, tetapi hadir dalam hubungan sehari-hari: di kantor, keluarga, sekolah, organisasi, dan lingkungan pergaulan. Persoalannya bukan pada adanya kuasa, karena organisasi tanpa kewenangan juga bisa kehilangan arah. Persoalannya adalah ketika kuasa digunakan bukan untuk menggerakkan pekerjaan, melainkan untuk memuaskan ego dan menunjukkan kepada orang lain bahwa dirinya sedang berada di atas.


Dalam hubungan interpersonal, pola seperti ini mungkin juga tidak bisa dilepaskan dari warisan budaya patriarkal, feodal, dan jejak sistem kerajaan yang cukup panjang. Ada kebiasaan melihat hubungan secara vertikal: yang di atas memberi perintah, yang di bawah menerima. Pola itu kadang masih terbawa sampai sekarang. Bedanya, tidak perlu singgasana. Cukup jabatan, sedikit kewenangan, atau posisi tertentu, seseorang sudah merasa memiliki hak untuk mengatur semua orang di sekitarnya.


Padahal memimpin dan senang menyuruh adalah dua hal yang berbeda. Memimpin berarti memberi arah sekaligus memikul tanggung jawab, berani mengambil keputusan tetapi juga bersedia mendengar. Sedangkan menyuruh jauh lebih mudah: cukup merasa punya posisi, lalu menunjuk ke sana dan ke sini. Apalagi jika dilakukan di depan banyak orang, mungkin ada kepuasan tersendiri ketika semua orang terlihat bergerak setelah mendengar perintahnya.


Padahal orang bisa patuh karena jabatan, tetapi belum tentu hormat karena sikap. Orang bisa mengangguk karena struktur, tetapi belum tentu menghargai cara kita memperlakukan mereka. Mengucapkan kata tolong tidak menurunkan kewibawaan, dan mendengarkan pendapat orang lain juga tidak mengurangi kekuasaan. Justru pemimpin yang tidak sibuk mempertontonkan kuasanya sering kali lebih dihormati.


Jabatan bukan pengeras suara untuk memperbesar ego. Kuasa juga bukan panggung untuk menunjukkan siapa yang paling berhak menyuruh. Jabatan adalah amanah dan, seperti semua amanah, ada masanya. Karena itu, sesekali kita perlu bertanya kepada diri sendiri: apakah saya benar-benar sedang memimpin, atau sebenarnya hanya senang melihat orang lain bergerak setelah menerima perintah dari saya? Sebab menyuruh memang mudah, tetapi membuat orang tetap menghormati kita setelah kuasa itu hilang, itulah yang tidak semua orang mampu.

 

Post a Comment

Previous Post Next Post