Bersuara di Desa Itu Mudah, Menggerakkan Desa yang Sulit

 



Desa kita hari ini mungkin tidak kekurangan suara. Setiap tahun ada rapat, sosialisasi, bimbingan teknis, pelatihan, musyawarah, pendampingan, seminar, webinar, hingga forum koordinasi. Narasumber datang silih berganti. Moderator bergantian memegang acara. Pendamping dan fasilitator hadir membawa materi. Mikrofon selalu tersedia. Yang sering tidak tersedia adalah perubahan. Karena ternyata bersuara di desa itu mudah, menggerakkan desa yang sulit.


Saya sering memperhatikan fenomena ini dalam berbagai ruang pemberdayaan masyarakat. Orang datang membawa data, konsep, dan presentasi yang tersusun rapi. Forum berlangsung lancar. Peserta mengangguk. Dokumentasi lengkap. Daftar hadir terisi penuh. Laporan kegiatan selesai tepat waktu. Namun beberapa minggu kemudian, tidak ada yang berubah. Tidak ada yang bergerak. Tidak ada yang tumbuh. Kata-kata yang begitu panjang seolah hanya mampir sebentar lalu pergi tanpa meninggalkan jejak.


Di sisi lain, saya juga pernah bertemu orang-orang yang penampilannya biasa saja. Tubuhnya tidak besar, tidak tinggi, bahkan terkadang terlihat lebih ringkih dibanding sebagian peserta yang hadir. Namun ketika ia mulai berbicara, suasana berubah. Orang mendengarkan. Orang memperhatikan. Orang percaya. Bukan karena suaranya paling keras atau jabatannya paling tinggi, melainkan karena ada kekuatan yang tidak terlihat. Ada daya yang membuat kata-katanya hidup dan mampu menggerakkan orang lain.


Di sinilah saya mulai memahami bahwa power bicara tidak lahir dari tenggorokan. Ia lahir dari sesuatu yang lebih dalam: isi kepala, pengalaman hidup, integritas, dan ketulusan. Pakar komunikasi Dale Carnegie menjelaskan bahwa keberhasilan komunikasi tidak hanya ditentukan oleh kata-kata yang diucapkan, tetapi oleh kepribadian dan keyakinan yang dirasakan orang lain. Jauh sebelumnya, Aristotle menyebutnya sebagai ethos, yakni karakter dan kredibilitas yang membuat seseorang layak dipercaya.


Karena itu, power bicara tidak muncul begitu saja. Ia lahir dari pengetahuan yang terus diasah, pengalaman yang terus diperkaya, kesalahan yang berani diakui, dan ketulusan yang tetap dijaga. Namun ada satu faktor yang sering dilupakan, yaitu jam terbang dan latihan. Banyak orang mengira kemampuan berbicara adalah bakat bawaan. Padahal sering kali ia merupakan hasil dari ratusan forum, puluhan diskusi, berbagai kegagalan, kritik, dan rasa gugup yang berhasil dilewati. Kepercayaan diri bukan selalu penyebab seseorang berani berbicara. Justru kepercayaan diri sering lahir karena seseorang sudah berkali-kali berbicara dan belajar dari pengalaman itu.


Bagi seorang pemberdaya masyarakat, persoalan ini menjadi jauh lebih penting. Seorang pemberdaya sesungguhnya tidak memiliki banyak instrumen kekuasaan. Ia bukan pengambil keputusan anggaran. Ia bukan pemegang kewenangan tertinggi. Ia tidak bisa memerintah masyarakat sesuka hati. Yang ia miliki sering kali hanyalah pengetahuan, pengalaman, kepercayaan, dan kata-kata. Karena itu, power bicara bukan sekadar keterampilan tambahan. Ia adalah alat kerja utama.


Tanpa power bicara, seorang pemberdaya hanya menjadi penyampai informasi. Dengan power bicara, ia dapat menjadi penggerak perubahan. Sebab pemberdayaan pada dasarnya bukan pekerjaan membangun gedung, jalan, atau sarana fisik semata. Pemberdayaan adalah pekerjaan membangun keyakinan, keberanian, dan kesadaran. Ia adalah upaya membuat masyarakat percaya bahwa mereka mampu menyelesaikan persoalannya sendiri.


Pekerjaan seperti itu tidak bisa dilakukan hanya dengan surat tugas atau atribut kelembagaan. Ia membutuhkan kata-kata yang hidup. Kata-kata yang dipercaya. Kata-kata yang lahir dari pengalaman nyata. Seorang pemberdaya yang baik tidak sedang berusaha menjadi tokoh utama. Ia justru sedang berusaha membuat masyarakat berani menjadi tokoh utama dalam kehidupannya sendiri.


Kita bisa belajar dari para orator besar Indonesia. Soekarno mampu membangkitkan semangat bangsa bukan karena tubuhnya paling besar, tetapi karena keyakinannya menyatu dengan kata-katanya. Zainuddin MZ dicintai banyak kalangan karena mampu menerjemahkan gagasan besar ke dalam bahasa yang dipahami rakyat. Pada masa yang lebih modern, kemampuan komunikasi Anies Baswedan, Ridwan Kamil, dan Najwa Shihab menunjukkan bahwa gaya boleh berbeda, tetapi substansi, kredibilitas, dan latihan tetap menjadi fondasi yang sama.


Sayangnya, dalam dunia pemberdayaan kita terkadang lebih sibuk menghitung jumlah kegiatan daripada menghitung jumlah perubahan. Laporan semakin tebal. Dokumentasi semakin lengkap. Absensi semakin rapi. Namun keberdayaan masyarakat sering kali masih berjalan di tempat. Mungkin karena kita terlalu sering mengukur keberhasilan dari berapa kali berbicara, bukan dari berapa banyak orang yang akhirnya bergerak. Terlalu sering menghitung jumlah peserta, tetapi lupa menghitung berapa banyak inisiatif yang lahir setelah forum berakhir.


Padahal hakikat pemberdayaan bukan membuat masyarakat kagum kepada pendamping. Bukan membuat masyarakat bergantung kepada fasilitator. Bukan membuat masyarakat selalu menunggu arahan. Hakikat pemberdayaan adalah membuat masyarakat percaya pada kemampuannya sendiri. Membuat mereka berani mengambil keputusan, berani memecahkan masalah, dan berani bergerak tanpa harus selalu ditemani.


Karena itu, menjaga power bicara bukan berarti belajar berbicara semakin lama. Yang lebih penting adalah belajar berbicara semakin bermakna. Lebih banyak membaca agar pikiran tidak kosong. Lebih banyak mendengar agar tidak merasa paling tahu. Lebih banyak turun ke lapangan agar kata-kata tetap membumi. Lebih banyak berlatih agar pesan sampai dengan baik. Dan yang paling penting, menjaga integritas agar kepercayaan tidak runtuh oleh satu tindakan yang bertentangan dengan ucapan.


Pada akhirnya, masyarakat mungkin lupa data yang kita tampilkan. Mereka mungkin lupa materi yang kita sampaikan. Mereka bahkan mungkin lupa nama program yang kita dampingi. Tetapi mereka akan selalu ingat siapa yang membuat mereka merasa mampu. Siapa yang membuat mereka berani. Siapa yang membuat mereka percaya bahwa perubahan itu mungkin terjadi.


Karena sesungguhnya desa tidak pernah kekurangan orang yang bisa berbicara. Yang masih langka adalah orang yang mampu membuat desa bergerak. Dan mungkin, di tengah begitu banyak forum, rapat, sosialisasi, pelatihan, dan pendampingan yang terus berlangsung dari tahun ke tahun, pertanyaan ini tetap layak kita renungkan:


Apakah selama ini kita hanya sedang mengisi mikrofon, atau benar-benar sedang mengisi harapan? Apakah kita hanya pandai bersuara di desa, atau benar-benar sedang menggerakkan desa?

Post a Comment

Previous Post Next Post