Ada satu kata yang beberapa tahun
terakhir begitu akrab di telinga kita: pemberdayaan.
Pemerintah mengucapkannya, perusahaan memasukkannya dalam program CSR, lembaga
sosial menjadikannya tema kegiatan. Ia hadir dalam pidato, proposal, seminar,
spanduk, sampai laporan pertanggungjawaban. Kata yang terdengar begitu mulia,
sampai kadang kita lupa bertanya: benarkah
yang kita lakukan itu pemberdayaan?
Masyarakat diberi bantuan, lalu
disebut diberdayakan. Barang dibagikan, foto diambil. Uang disalurkan, spanduk
dibentangkan. Pejabat hadir, sambutan disampaikan. Kamera berbunyi, dokumentasi
lengkap, lalu program dianggap selesai. Laporan dibuat, anggaran
dipertanggungjawabkan, dan kegiatan diberi tanda centang. Soal apakah
masyarakat setelah itu menjadi lebih mampu menentukan hidupnya sendiri, sering
kali menjadi urusan evaluasi yang entah kapan dilakukan.
Padahal, memberi dan memberdayakan adalah dua hal yang berbeda. Memberi
dapat menolong seseorang bertahan hari ini, sedangkan memberdayakan seharusnya
membuatnya lebih siap menghadapi hari esok. Bantuan bisa habis dipakai, tetapi
keberdayaan mestinya tetap tinggal dalam diri orang yang menerimanya.
Masalahnya, memberi memang jauh
lebih mudah daripada memberdayakan. Memberi bisa selesai dalam satu acara.
Memberdayakan membutuhkan proses. Memberi cukup dengan daftar penerima.
Memberdayakan membutuhkan pengetahuan, keterampilan, kesempatan, pendampingan,
kepercayaan, dan kesabaran. Memberi menghasilkan foto. Memberdayakan belum
tentu menghasilkan tepuk tangan.
Bantuan tentu tidak salah. Orang
lapar harus diberi makan. Korban bencana harus segera ditolong. Masyarakat yang
sedang berada dalam kesulitan tidak mungkin hanya diberi ceramah tentang
kemandirian. Jangan sampai orang yang sedang membutuhkan makan justru kita ajak
mengikuti seminar mindset pengusaha sukses. Itu bukan pemberdayaan,
melainkan salah alamat.
Tetapi bantuan yang bersifat darurat
berbeda dengan bantuan yang kemudian menjadi kebiasaan. Di sinilah kita perlu
berani bertanya: apakah program kita
membuat masyarakat semakin mandiri, atau justru semakin pandai menunggu?
Selama ini kita sering menghitung
keberhasilan dari berapa paket yang dibagikan, berapa orang yang menerima, dan
berapa rupiah yang disalurkan. Angkanya besar, program dianggap berhasil.
Tetapi jarang kita bertanya: setelah
bantuan diberikan, berapa orang yang akhirnya mampu berdiri dengan kekuatannya
sendiri?
Kalau setiap tahun orang yang sama
menerima bantuan yang sama, melalui program yang hampir sama, dengan kemasan yang
sedikit berbeda, mungkin ada sesuatu yang harus kita evaluasi. Jangan-jangan
masyarakatnya tidak berubah. Tetapi jangan-jangan juga programnya memang tidak
pernah sungguh-sungguh dirancang agar masyarakat berubah.
Sebab masyarakat yang benar-benar
mandiri memiliki satu konsekuensi yang kadang tidak kita sadari: suatu hari mereka tidak lagi membutuhkan
kita.
Dan bukankah itu seharusnya menjadi
keberhasilan?
Pemberdayaan sesungguhnya juga tidak
selalu berbicara tentang uang. Ada orang yang kekurangan modal, tetapi ada pula
yang kekurangan pengetahuan, keterampilan, kesempatan, keberanian, atau
kemampuan menentukan masa depannya sendiri. Karena itu, tidak semua orang yang
tidak berdaya membutuhkan bantuan ekonomi.
Seseorang yang bertahun-tahun
bekerja dalam sebuah sistem, terbiasa menerima perintah dan keputusan orang
lain, misalnya, bisa saja memiliki penghasilan yang baik. Tetapi ketika
pensiun, kehilangan pekerjaan, atau harus memulai kehidupan baru, ia justru
kebingungan menentukan arah. Secara ekonomi mungkin ia berdaya, tetapi secara
mental dan sosial belum tentu.
Ada pula orang yang sangat baik
secara ekonomi, tetapi tidak pernah mengambil bagian dalam kehidupan
masyarakat. Rumahnya besar, pagarnya tinggi, kendaraannya lebih dari satu,
tetapi ketika ada kerja bakti ia sibuk; ketika ada persoalan lingkungan ia
berkata, “Itu bukan urusan saya.”
Ia mungkin berdaya secara ekonomi,
tetapi belum tentu berdaya secara sosial.
Namun orang seperti ini juga tidak
perlu buru-buru kita hakimi. Bisa jadi ia pernah kecewa, pernah disakiti,
pernah merasa tidak diterima, atau memang tidak pernah menemukan alasan untuk
terlibat. Karena itu, memberdayakan juga berarti membuka ruang agar seseorang
kembali merasa menjadi bagian dari masyarakat.
Lalu siapa yang harus memberdayakan?
Pemerintah tentu memiliki tanggung
jawab besar. Perusahaan yang menjalankan usaha dan memanfaatkan sumber daya di
tengah masyarakat juga memiliki tanggung jawab sosial. Tetapi pemberdayaan
tidak mungkin hanya diserahkan kepada pemerintah dan perusahaan.
Sebab di tengah masyarakat sendiri
banyak orang yang memiliki keberdayaan. Ada guru yang memiliki ilmu. Ada petani
yang memahami tanah. Ada peternak yang memahami usaha. Ada pengusaha yang telah
mengalami jatuh bangun. Ada tokoh agama, tokoh masyarakat, pensiunan, pemuda,
ibu rumah tangga, dan banyak orang lain yang memiliki pengetahuan serta
pengalaman yang dapat dibagikan.
Seorang petani yang mengajari anak
muda bertani sedang melakukan pemberdayaan. Seorang pengusaha kecil yang
membimbing orang lain memulai usaha juga sedang memberdayakan. Seorang guru
yang dengan sabar membuka pengetahuan bagi anak-anak di lingkungannya pun
sedang melakukan hal yang sama.
Tidak semua pemberdayaan membutuhkan
proposal, anggaran, panitia, seminar, dan spanduk. Kadang pemberdayaan hanya membutuhkan seseorang yang bersedia berbagi apa
yang ia punya agar orang lain mampu berdiri.
Yang lebih menarik, kita sering
sibuk mencari siapa yang harus diberdayakan, tetapi jarang bertanya: jangan-jangan kita sendiri belum berdaya?
Kita punya ilmu, tetapi tidak mau
berbagi. Punya jabatan, tetapi hanya pandai menyuruh. Punya kekuasaan, tetapi
tidak mampu membuat orang lain tumbuh. Punya uang, tetapi miskin kepedulian.
Punya pengalaman, tetapi memilih menyimpannya sendiri.
Bahkan bisa jadi kita senang
berbicara tentang pemberdayaan, tetapi diam-diam takut melihat orang lain
menjadi lebih berdaya daripada kita.
Sebab orang yang berdaya mulai
berpikir. Ia mulai bertanya. Ia mulai memiliki pendapat. Ia mulai berani
menentukan pilihan. Ia tidak lagi selalu menunggu.
Dan bagi mereka yang terbiasa
menentukan segalanya, orang yang mulai berdaya memang kadang terasa merepotkan.
Karena itu, jangan sampai pemberdayaan hanya menjadi kata indah di atas
panggung, sementara di lapangan kita justru memelihara ketergantungan.
Jangan sampai kita bangga karena antrean penerima bantuan semakin panjang,
tetapi tidak pernah gelisah karena antrean itu tidak juga berkurang.
Jangan pula kita mengukur
keberhasilan pemberdayaan hanya dari banyaknya bantuan yang keluar dari gudang,
tetapi lupa menghitung berapa banyak manusia yang akhirnya mampu keluar dari
ketergantungan.
Sebab ukuran pemberdayaan yang
paling sederhana sebenarnya tidak sulit dipahami: suatu hari, orang yang kita bantu tidak lagi membutuhkan kita.
Ia mampu berdiri.
Ia mampu menentukan arah.
Ia mampu mengambil keputusan.
Ia mampu menghasilkan sesuatu dari
kemampuan dan keringatnya sendiri.
Dan ketika sudah kuat, ia tidak lupa
menoleh ke belakang untuk membantu orang lain.
Di situlah pemberdayaan menemukan
maknanya.
Bukan ketika spanduk diturunkan.
Bukan ketika laporan selesai dijilid. Bukan ketika foto kegiatan ramai
mendapatkan tanda suka. Bukan pula ketika bantuan berhasil dibagikan kepada
sebanyak-banyaknya penerima.
Pemberdayaan
berhasil ketika tangan yang dahulu selalu menengadah, suatu hari mampu terulur
untuk membantu tangan yang lain.
Sebab memberi memang baik.
Tetapi jangan sampai kita terlalu
sibuk memberi, sampai lupa membuat orang mampu.
Sebab seseorang bisa saja
berkali-kali diberi.
Namun belum tentu pernah benar-benar
diberdayakan.
Diberi,
tapi tak berdaya.
Post a Comment