Suatu
ketika, tanpa sengaja saya mendengar dua orang rekan kerja sedang berbincang.
Saya tidak sedang menguping. Hanya saja, meja kami memang berdekatan sehingga
beberapa potong kalimat singgah begitu saja di telinga.
"Capek
ya," kata salah satunya sambil mengaduk kopi yang mungkin sudah dingin.
"Capek bekerja di tempat yang lebih sibuk membuat gimmick daripada
menyelesaikan masalah."
Temannya
mengangguk pelan.
"Itu
belum seberapa. Yang lebih melelahkan justru karena di kantor ini mataharinya
terlalu banyak. Kita ikuti arahan A, dianggap salah oleh B. Kita sesuaikan
dengan keinginan B, giliran C yang marah. Ujung-ujungnya bukan lagi berpikir
bagaimana pekerjaan selesai, tetapi bagaimana semua yang merasa penting tetap
merasa puas."
Saya
tidak ikut menyela. Tetapi kalimat terakhir itu membuat saya berpikir cukup
lama.
Barangkali
di situlah banyak organisasi mulai kehilangan arah.
Energi
pegawai habis bukan untuk mencari solusi, melainkan untuk membaca arah angin.
Mereka tidak lagi bertanya, "Apa yang benar?" tetapi, "Siapa
yang sedang harus disenangkan?"
Di
kantor seperti itu, kemampuan yang paling dihargai bukan lagi kompetensi,
melainkan insting politik. Bukan ketepatan mengambil keputusan, tetapi
kecepatan membaca suasana. Yang rajin bekerja belum tentu aman. Yang pandai
membaca selera atasan sering kali justru lebih nyaman.
Ironisnya,
semua itu sering dibungkus dengan istilah yang terdengar indah: koordinasi,
harmonisasi, sinergi, komunikasi. Padahal, yang sesungguhnya terjadi hanyalah
perlombaan mencari posisi paling aman agar tidak menjadi sasaran omelan.
Percakapan
mereka berlanjut.
"Saya
sih sebenarnya nggak masalah diatur bagaimana pun," ujar yang satu.
"Namanya juga bawahan. Mau diperintah begini atau begitu, saya ikut. Yang
penting aturannya jelas, konsisten, dan masih masuk akal secara etika."
Kalimat
itu sederhana, tetapi menurut saya justru itulah inti dari kepemimpinan.
Bawahan
bukan antiaturan. Mereka hanya lelah menghadapi aturan yang berubah mengikuti
siapa yang sedang berbicara. Hari ini benar karena diperintahkan A. Besok
menjadi salah karena B memiliki tafsir yang berbeda. Lusa berubah lagi karena C
merasa pendapatnya paling layak diikuti.
Kalau
aturan kalah oleh selera, maka yang bekerja bukan lagi sistem, melainkan
suasana hati.
Yang
lebih menarik adalah kalimat berikutnya.
"Kalau
memang bos mau memerintah, ya perintah saja. Nggak usah pura-pura ngajak
diskusi kalau ujung-ujungnya keputusan sudah dibuat sebelum rapat
dimulai."
Saya
hampir tersenyum.
Betapa
banyak rapat yang sebenarnya hanya seremoni demokrasi. Semua diminta memberi
pendapat. Semua dipersilakan berbicara. Bahkan sering dibuka dengan kalimat
yang terdengar sangat modern.
"Silakan
sampaikan pendapat secara terbuka."
Masalahnya,
keterbukaan itu sering berhenti tepat ketika ada pendapat yang berbeda dengan
keinginan pimpinan.
Sisanya
berubah menjadi pelajaran diam-diam: bahwa berbeda pendapat boleh saja, selama
pendapatnya sama.
Dalam
situasi seperti itu, diskusi tidak lagi menjadi ruang mencari kebenaran. Ia
berubah menjadi panggung untuk melegitimasi keputusan yang sebenarnya sudah
selesai sebelum rapat dimulai.
Yang
dicari bukan perspektif baru, melainkan pembenaran.
Yang
dibutuhkan bukan argumentasi, melainkan persetujuan.
Lama-kelamaan
organisasi melahirkan dua jenis pegawai. Yang pertama, mereka yang memilih diam
karena tahu suaranya tidak akan mengubah apa pun. Yang kedua, mereka yang
selalu pandai mengangguk karena tahu anggukan lebih cepat mendekatkan diri pada
kenyamanan dibandingkan gagasan.
Ironisnya,
setelah itu pimpinan sering mengeluh.
"Mengapa
bawahan saya tidak inovatif?"
Padahal
inovasi hanya tumbuh di tempat yang menghargai kejujuran intelektual. Di tempat
orang takut berbeda pendapat, kreativitas akan mati bahkan sebelum sempat
dilahirkan.
Organisasi
tidak pernah kekurangan orang pintar.
Yang
sering kurang adalah pemimpin yang cukup percaya diri untuk mendengar sesuatu
yang tidak ingin ia dengar.
Percakapan
dua rekan itu akhirnya selesai. Mereka kembali ke meja masing-masing. Mungkin
pekerjaan mereka masih sama. Targetnya juga masih sama. Tetapi saya yakin,
kelelahan mereka bukan semata karena banyaknya pekerjaan.
Mereka
lelah karena setiap hari harus menebak siapa yang sedang menjadi pusat orbit.
Dalam
perjalanan pulang, saya terus mengingat satu kalimat yang tanpa sengaja saya
dengar pagi itu.
Mungkin
benar, banyak organisasi hari ini tidak sedang kesulitan mencari solusi.
Mereka
justru terlalu sibuk mencari siapa yang harus disenangkan.
Dan
ketika menyenangkan orang menjadi tujuan utama, jangan heran jika kebenaran
perlahan kehilangan tempat duduknya, kompetensi diparkir di sudut ruangan,
sementara akal sehat hanya dipanggil saat dibutuhkan untuk membenarkan
keputusan yang sudah ditetapkan sejak awal.
إرسال تعليق