Ketika Pemimpin Tidak Lagi Percaya pada Struktur Organisasi

 



Suatu hari saya kembali membuka buku lama tentang Organisasi dan Manajemen. Di dalamnya terdapat sebuah gambar yang sangat sederhana: beberapa kotak yang dihubungkan oleh garis-garis. Namanya struktur organisasi. Bagi sebagian orang, gambar itu mungkin hanya pelengkap presentasi atau sekadar pajangan yang ditempel di dinding kantor agar ruangan tampak lebih resmi. Padahal, semakin lama saya memandanginya, semakin saya menyadari bahwa gambar sederhana itu sesungguhnya adalah peta kehidupan sebuah organisasi. Dari sanalah kita mengetahui siapa memimpin siapa, siapa bertanggung jawab kepada siapa, siapa berkoordinasi dengan siapa, siapa mengambil keputusan, siapa melaksanakan, siapa mengawasi, serta sampai di mana batas kewenangan setiap jabatan. Garis-garis itu bukan sekadar coretan administratif. Ia adalah jalur kepercayaan. Sebab organisasi hanya akan berjalan sehat ketika setiap orang percaya bahwa perannya dihargai, kewenangannya dihormati, dan tanggung jawabnya tidak diambil alih oleh orang lain.


Pemikir manajemen modern Peter F. Drucker menekankan bahwa efektivitas sebuah organisasi sangat ditentukan oleh kualitas kepemimpinan dan sistem yang dibangunnya. Struktur organisasi yang dirancang sebaik apa pun tidak akan memiliki arti apabila pemimpinnya sendiri gemar melompati jalur komando, mengambil alih pekerjaan bawahan, atau mencampuradukkan fungsi antarbagian. Yang rusak bukan hanya prosedurnya, melainkan juga kepercayaan orang-orang di dalam organisasi. Lambat laun mereka belajar bahwa yang harus diikuti bukan lagi sistem, melainkan suasana hati atasan. Ketika itu terjadi, struktur organisasi tinggal menjadi gambar yang tergantung di dinding, sementara organisasi sesungguhnya dijalankan oleh kebiasaan yang tidak pernah tertulis.


Barangkali karena itulah, pemimpin yang benar-benar memahami arti penting struktur organisasi umumnya adalah mereka yang memiliki jiwa kepemimpinan demokratis. Mereka sadar bahwa kewenangan harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab, bahwa kepercayaan adalah bahan bakar organisasi, dan bahwa bawahan tidak akan pernah tumbuh jika setiap keputusan selalu diambil alih oleh atasannya. Dalam kepemimpinan paternalistik yang sehat pun, seorang pemimpin hadir sebagai pembimbing dan pelindung, bukan sebagai pengganti seluruh fungsi yang ada di bawahnya. Sebaliknya, mereka yang belum pernah mempelajari teori organisasi dan manajemen, atau mempelajarinya tetapi tidak pernah menghayatinya, sering kali menganggap bahwa pemimpin hebat adalah pemimpin yang memerintah hingga ke lapisan paling bawah, mengawasi setiap detail pekerjaan, mengetahui semua persoalan, bahkan ikut mengerjakan pekerjaan semua orang. Sekilas memang tampak mengagumkan. Pemimpinnya terlihat sibuk, terlihat menguasai keadaan, dan terlihat hadir di mana-mana. Oh, tentu tidak. Kesibukan bukanlah ukuran kepemimpinan. Mengambil alih bukanlah tanda kepedulian. Melompati jalur komando bukanlah bukti ketegasan. Sebab semakin sering seorang pemimpin harus mengerjakan pekerjaan bawahannya, semakin besar kemungkinan ia sedang gagal mengerjakan pekerjaan yang hanya bisa dilakukan oleh seorang pemimpin.


Hal itu sering terlihat dalam kehidupan organisasi sehari-hari. Seorang pimpinan memanggil langsung office boy untuk memberikan instruksi, sementara koordinator kebersihan hanya mengetahui setelah pekerjaan selesai. Seorang kepala instansi sibuk mengoreksi pekerjaan staf paling bawah, seolah kepala seksi, kepala bidang, dan para manajer hanyalah deretan jabatan yang kebetulan memiliki ruangan sendiri. Banyak yang menganggap perilaku seperti itu sebagai bentuk kepedulian. Katanya, pemimpin harus turun langsung. Katanya, pemimpin harus mengetahui semuanya. Katanya, pemimpin tidak boleh hanya duduk di balik meja. Semuanya benar. Tetapi turun langsung tidak sama dengan mengambil alih. Mengetahui tidak sama dengan mencampuri. Mengawasi tidak sama dengan mengerjakan pekerjaan orang lain.


Ironinya semakin terlihat ketika seorang pemimpin meminta satu divisi mengerjakan pekerjaan divisi lain hanya dengan alasan, "Biar saling membantu" atau "Yang penting cepat selesai." Kalimat itu terdengar bijaksana, tetapi jika menjadi kebiasaan, organisasi perlahan kehilangan logikanya. Orang tidak lagi memahami batas tanggung jawabnya. Semua merasa berhak mengerjakan semua hal, tetapi ketika terjadi kesalahan, tidak ada yang benar-benar merasa bertanggung jawab. Organisasi akhirnya tidak kekurangan orang yang bekerja, tetapi kekurangan orang yang memahami apa yang menjadi tanggung jawabnya.


Saya kemudian membayangkan organisasi itu seperti sebuah bus antarkota. Sopir bertugas mengemudikan kendaraan. Kondektur mengatur penumpang. Kernet membantu naik turun penumpang. Petugas loket menjual tiket. Montir memastikan mesin tetap sehat. Namun kemudian datang seorang sopir yang ingin menjadi semuanya. Sambil memegang setir, ia sibuk mengecek tiket. Ketika bus berhenti, ia berlari membuka pintu. Saat mesin terdengar berisik, ia turun membawa kunci inggris. Ketika melihat sampah di lorong bus, ia mengambil sapu. Bahkan ketika ada penumpang bertanya tentang jadwal keberangkatan, ia ikut menjawab layaknya petugas loket. Penumpang mungkin akan bertepuk tangan, "Hebat sekali sopirnya. Serba bisa. Tidak ada pekerjaan yang tidak ia kuasai." Namun hanya tinggal menunggu waktu sampai bus itu kehilangan arah. Bukan karena sopirnya tidak pandai, melainkan karena ia terlalu sibuk menjadi semua orang hingga lupa menjalankan pekerjaan utamanya.


Begitulah organisasi yang dipimpin dengan semangat one man show. Semua keputusan harus singgah di satu meja. Semua persoalan harus diketahui satu orang. Semua pekerjaan harus disentuh satu tangan. Lama-kelamaan para manajer kehilangan fungsi, supervisor kehilangan wibawa, koordinator kehilangan keberanian mengambil keputusan, dan bawahan kehilangan inisiatif. Yang tumbuh bukan budaya bekerja, melainkan budaya menunggu. Orang tidak lagi bertanya, "Apa yang menjadi tanggung jawab saya?" tetapi lebih sering bertanya, "Maunya pimpinan apa hari ini?" Padahal organisasi tidak dibangun agar semua orang bergantung pada satu manusia. Organisasi dibangun agar sistem tetap bekerja, siapa pun yang sedang memimpinnya.


Saya lebih senang membayangkan organisasi sebagai sebuah orkestra. Di dalam orkestra tidak ada pemain biola yang sibuk merebut drum. Tidak ada pemain cello yang mengambil alih piano. Tidak ada dirigen yang tiba-tiba meniup trompet hanya karena merasa dirinya paling memahami musik. Semua memainkan alat musik yang berbeda, menghasilkan bunyi yang berbeda, dan memiliki peran yang berbeda. Namun ketika konser dimulai, semuanya terdengar indah karena mereka seirama. Seirama bukan berarti memainkan irama yang sama, tetapi memperdengarkan iramanya masing-masing di dalam ketukan yang sama. Tidak ada yang berusaha terdengar lebih dominan hanya karena merasa dirinya paling penting. Tidak ada yang memainkan nadanya lebih keras demi menenggelamkan suara yang lain. Justru perbedaan itulah yang melahirkan harmoni.


Demikian pula sebuah organisasi. Pemimpin tidak ditugaskan memainkan seluruh alat musik. Ia cukup memastikan setiap orang memainkan bagiannya pada waktu yang tepat, dengan tempo yang tepat, menuju tujuan yang sama. Karena pada akhirnya, ukuran seorang pemimpin bukanlah seberapa banyak pekerjaan yang berhasil ia ambil alih, melainkan seberapa besar kepercayaan yang berhasil ia bangun. Sebab ketika seorang pemimpin tidak lagi percaya pada struktur organisasinya sendiri, sesungguhnya yang pertama kali runtuh bukanlah bagan yang tergantung di dinding. Yang runtuh adalah kepercayaan orang-orang yang setiap hari diminta bekerja di dalamnya. Dan ketika kepercayaan itu hilang, organisasi mungkin masih berdiri, tetapi yang bergerak bukan lagi sistem, melainkan ego.

 

Post a Comment

أحدث أقدم