Ketika Kursi Masih Penuh, Teman Sudah Pergi

 


Memimpin itu bukan sekadar punya kursi, lalu merasa semua orang harus tunduk. Kursi hanya tempat duduk. Kepemimpinan adalah seni membuat orang mau bergerak, bukan ilmu membuat orang takut bergerak. Karena itu, memimpin membutuhkan ilmu untuk memahami tujuan dan teori, tetapi juga membutuhkan seni untuk membaca keadaan, menghargai manusia, dan menyelaraskan keputusan dengan kearifan lokal. Sayangnya, ada pemimpin yang menguasai teori kepemimpinan tetapi gagal memahami manusia yang dipimpinnya.

 

Ia pintar berbicara tentang strategi, target, aturan dan pencapaian. Semua harus rasional. Semua harus sesuai pikirannya. Seolah-olah hanya kepalanya yang diberi Tuhan kemampuan untuk berpikir. Ketika orang lain berbeda pendapat, dianggap tidak paham. Ketika bawahan bertanya, dianggap melawan. Ketika masyarakat memberi masukan, dianggap menghambat. Pikirannya begitu tinggi, sampai lupa bahwa manusia yang dipimpinnya punya hati.

 

Padahal memimpin dengan hati bukan berarti lembek. Bukan pula berarti semua keinginan orang harus dituruti. Memimpin dengan hati justru tahu kapan harus tegas tanpa merendahkan, kapan harus marah tanpa menghina, kapan harus memutuskan tanpa mematikan suara orang lain. Hati membuat seorang pemimpin memahami bahwa di balik sebuah jabatan ada manusia yang punya harga diri, keluarga, persoalan, keterbatasan dan perasaan.

 

Pemimpin yang hanya mendewakan pikirannya biasanya merasa dirinya sedang memimpin, padahal bisa jadi orang-orang di sekelilingnya hanya sedang bertahan. Di depan ia dihormati karena jabatan. Di belakang, ia menjadi bahan cerita. Bukan karena semua bawahannya tidak baik, tetapi mungkin karena terlalu lama mereka tidak menemukan ruang untuk didengar. Senyum di hadapannya belum tentu tanda bahagia. Anggukan belum tentu persetujuan. Diam belum tentu hormat. Kadang diam hanyalah cara paling aman untuk bertahan di bawah pemimpin yang tidak mau mendengar.

 

Yang paling menarik justru ketika masa jabatan berakhir. Saat itu kursi tidak lagi menjadi pelindung. Telepon yang dulu ramai mulai sepi. Ruangan yang dulu penuh orang perlahan kosong. Mereka yang dahulu datang hampir setiap hari tiba-tiba sibuk dengan urusannya sendiri. Di situlah seorang mantan pemimpin bisa mengetahui sesuatu yang tidak pernah tertulis dalam laporan kinerja: apakah orang-orang dahulu mendekat karena menghormati dirinya, atau karena menghormati kursinya.

 

Sebab jabatan bisa membuat seseorang memiliki banyak bawahan, tetapi belum tentu memiliki teman. Kekuasaan bisa membuat banyak orang datang, tetapi belum tentu membuat seseorang dicintai. Bahkan tanda tangan bisa membuat urusan orang bergerak, tetapi tidak otomatis membuat hati orang ikut bergerak.

 

Pada akhirnya, seorang pemimpin tidak akan dikenang hanya karena berapa banyak perintah yang pernah dikeluarkan. Ia akan dikenang dari bagaimana ia memperlakukan manusia ketika dirinya berada di atas. Sebab ketika sudah tidak berada di atas, yang tersisa bukan lagi kewenangan, melainkan kenangan orang lain tentang dirinya.

 

Maka silakan menjadi pemimpin yang cerdas. Kuasai ilmu. Pahami teori. Gunakan strategi. Tegakkan aturan. Tetapi jangan terlalu bangga dengan ketajaman pikiran sampai lupa mengasah hati.

 

Sebab pemimpin yang kehilangan hati mungkin masih bisa mempertahankan kursinya. Tetapi ketika kursinya sudah tidak ada, ia baru sadar: ternyata yang pergi bukan hanya jabatan, teman, kawan, bahkan sahabat pun sudah lebih dulu meninggalkannya.

Post a Comment

Previous Post Next Post