Pujian Diambil, Kesalahan Dilempar

 


Menjadi leader ternyata tidak selalu berarti menjadi pemimpin. Ada yang jabatannya leader, tetapi perilakunya justru seperti orang yang masih menunggu perintah. Inisiatif minim, gerakan lambat, diingatkan malah ngeyel, ditegur marah. Ketika pekerjaan tersendat, sibuk mencari alasan. Tetapi ketika pimpinan bertanya, tiba-tiba paling tahu. Ketika program berhasil, paling cepat berdiri di depan. Ketika masalah datang, paling cepat menunjuk ke belakang. Begitulah kalau jabatan lebih cepat naik daripada kematangan memimpin.


Yang lebih menarik, kadang ide anggota tim bisa berubah menjadi ide leader. Gagasan yang lahir dari diskusi bersama, ketika disampaikan kepada pimpinan, seolah-olah datang dari satu kepala. Anggota yang bekerja keras cukup menjadi latar belakang. Leader yang menerima pujian menjadi tokoh utama. Tetapi ketika ada kesalahan, ceritanya berubah. Tiba-tiba pekerjaan itu bukan lagi pekerjaan bersama. Kesalahan menjadi milik anggota. Seakan-akan seorang leader hanya ikut memiliki keberhasilan, tetapi tidak ikut memiliki kegagalan.


Padahal menjadi leader bukan perkara siapa yang namanya paling tinggi dalam struktur. Leader adalah orang yang seharusnya berada paling depan ketika arah harus ditentukan dan paling siap berdiri ketika masalah harus dihadapi. Ia bukan sekadar pembagi tugas, tetapi juga pemikul tanggung jawab. Kalau anggota melakukan kesalahan, tugas leader bukan pertama-tama mencari siapa yang harus disalahkan, tetapi melihat apa yang harus diperbaiki. Kalau anggota punya inisiatif, tugas leader bukan mengambil kredit, tetapi memberi ruang dan penghargaan.


Sebab kepemimpinan yang sehat tidak takut melihat anggotanya terlihat hebat. Justru salah satu ukuran leader yang baik adalah ketika orang-orang yang dipimpinnya semakin berani berpikir, semakin mampu mengambil keputusan, dan semakin percaya diri melakukan pekerjaan. Leader tidak harus menjadi matahari yang selalu ingin menjadi pusat cahaya. Sesekali ia cukup menjadi orang yang memastikan cahaya orang lain tidak padam.


Sayangnya, masih ada cara pandang bahwa leader harus selalu terlihat paling pintar. Karena itu, ketika tidak tahu, gengsi bertanya. Ketika belum paham, pura-pura paham. Ketika keliru, mencari kambing hitam. Padahal tidak tahu bukan sesuatu yang memalukan. Yang memalukan adalah tidak tahu tetapi tidak mau belajar, lalu membuat orang lain menanggung akibat dari ketidaktahuan tersebut.


Seorang leader juga harus memahami bahwa tanggung jawabnya memang lebih besar. Ada alasan mengapa ia diberi posisi lebih tinggi. Ada kepercayaan yang dititipkan. Bahkan dalam banyak program, honor yang diterima leader juga lebih besar dibandingkan anggota. Maka logikanya sederhana: kalau menerima lebih, tanggung jawabnya pun harus lebih. Jangan sampai yang lebih hanya honornya, sementara ketika ada masalah tanggung jawabnya justru ingin disamakan dengan anggota.


Memimpin memang enak ketika pekerjaan berjalan mulus. Nama disebut, foto bersama, mendapat apresiasi, lalu pulang dengan perasaan berhasil. Tetapi kepemimpinan sebenarnya baru terlihat ketika rencana tidak berjalan sesuai harapan. Ketika target tidak tercapai. Ketika anggota melakukan kesalahan. Ketika pimpinan meminta penjelasan. Di situlah terlihat siapa yang benar-benar leader dan siapa yang hanya menikmati posisi sebagai leader.


Leader idealnya mengatakan, “Ini tanggung jawab saya sebagai leader, mari kita perbaiki.” Bukan, “Itu kesalahan mereka.” Kalimat sederhana, tetapi menunjukkan kualitas yang berbeda. Orang yang benar-benar memimpin tidak sibuk menyelamatkan dirinya sendiri dengan mengorbankan tim. Ia tahu bahwa keberhasilan tim adalah keberhasilannya, dan persoalan tim juga bagian dari tanggung jawabnya.


Karena itu, kalau merasa belum mampu, sebenarnya tidak ada yang salah dengan berkata jujur. Tidak perlu malu mengatakan belum tahu. Tidak perlu memaksakan diri terlihat pintar. Tidak perlu mempertahankan jabatan hanya karena takut dianggap gagal. Mengakui keterbatasan jauh lebih terhormat daripada berpura-pura mampu, tetapi setiap masalah selalu diserahkan kepada anggota.


Sebab menjadi leader bukan tentang siapa yang paling sering berbicara di depan pimpinan. Bukan pula tentang siapa yang paling cepat mengaku punya ide. Leader adalah tentang siapa yang tetap berdiri ketika orang lain mulai mencari tempat untuk bersembunyi. Pujian boleh dibagi, tetapi tanggung jawab jangan dilempar.


Pada akhirnya, jabatan hanya menunjukkan siapa yang diberi posisi. Tetapi sikap menunjukkan siapa yang benar-benar memimpin. Sebab leader sejati tidak sibuk mencari orang untuk disalahkan ketika gagal. Ia berdiri di depan, pasang badan, lalu berkata: kita perbaiki bersama.

 

Post a Comment

Previous Post Next Post