Jangan Hanya Pandai Menerima, Belajarlah Musimah

 


Ada manusia yang ingin selalu diberi, tetapi tersinggung ketika diminta memberi. Ingin dibantu, tetapi berat membantu. Ingin dihargai, tetapi pelit menghargai. Ingin orang lain berbagi ilmu, tetapi ilmunya sendiri disimpan seperti harta warisan yang haram dibagikan.

 

Kita memang aneh. Ketika tangan orang lain terbuka kepada kita, kita menyebutnya rezeki. Tetapi ketika tangan kita diminta terbuka kepada orang lain, kita mulai mencari alasan. Ketika orang lain meluangkan waktu untuk kita, kita menyebutnya kepedulian. Tetapi ketika kita diminta meluangkan waktu, mendadak waktu menjadi barang paling mahal di dunia.

 

Jangan-jangan yang membuat kita miskin bukan karena sedikit memiliki, tetapi karena terlalu pelit untuk berbagi.

 

Dalam Bahasa Lampung Pesisir/Liwa ada sebuah kata yang sederhana tetapi dalam: musimah. Artinya tidak pelit, suka berbagi. Berbagi ilmu, rezeki, pengalaman, tenaga, waktu, bahkan kesenangan. Musimah tidak menunggu kaya untuk memberi. Tidak menunggu berlebih untuk berbagi. Karena berbagi bukan persoalan banyak atau sedikit, melainkan persoalan lapang atau sempitnya hati.

 

Ada orang yang hartanya tidak seberapa, tetapi kalau melihat orang lain kesusahan, tangannya ringan. Ada yang ilmunya sederhana, tetapi senang mengajarkannya. Ada yang waktunya terbatas, tetapi masih menyempatkan diri membantu. Sebaliknya, ada yang memiliki banyak, tetapi untuk berbagi selalu punya satu kata: “Nanti.” Dan sering kali “nanti” itu tidak pernah datang.

 

Karena itu, fasilitator atau pendamping semestinya adalah pribadi yang musimah. Ia datang bukan untuk mempertontonkan bahwa dirinya lebih pintar, lebih berpengalaman, atau lebih tahu. Ia datang untuk berbagi. Berbagi ilmu, pengalaman, gagasan, tenaga, waktu, dan semangat. Kalau seorang pendamping datang membawa ilmu, menyimpannya rapat-rapat, lalu pulang dengan rasa bangga karena masyarakat masih membutuhkannya, sesungguhnya ada yang keliru dalam memahami pendampingan.

 

Pendamping yang hebat bukan yang berhasil membuat dirinya selalu dibutuhkan. Pendamping yang hebat adalah yang suatu hari berhasil membuat dirinya tidak lagi dibutuhkan.

 

Sebab tujuan pemberdayaan bukan menciptakan ketergantungan baru. Tujuannya membuat orang lain mampu berdiri dengan kekuatannya sendiri. Kalau setelah bertahun-tahun didampingi masyarakat masih menunggu kita datang untuk bergerak, mungkin bukan masyarakatnya yang tidak mampu. Bisa jadi kita yang terlalu nyaman menjadi orang yang dibutuhkan.

 

Islam pun mengajarkan bahwa berbagi tidak sesempit memberikan uang. Sedekah dapat hadir dalam banyak bentuk kebaikan. Harta yang diberikan adalah sedekah. Ilmu yang bermanfaat dan dibagikan adalah kebaikan. Tenaga yang digunakan untuk membantu adalah kebaikan. Waktu yang diberikan untuk mendampingi adalah kebaikan. Bahkan perkataan yang baik pun dapat menjadi sedekah.

 

Jadi, hampir semua orang sebenarnya punya sesuatu untuk diberikan.

 

Yang tidak semua orang punya adalah kemauan untuk berbagi.

 

Kita punya ilmu, bagikan. Punya rezeki, sisihkan. Punya waktu, luangkan. Punya pengalaman, wariskan. Punya tenaga, gunakan untuk membantu. Punya kebahagiaan, jangan selalu dinikmati sendiri.

 

Sebab hidup bukan tentang siapa yang paling banyak menerima. Hidup adalah tentang seberapa banyak yang bisa kita berikan sebelum kesempatan memberi itu benar-benar habis.

 

Jangan hanya pandai menerima. Jangan menjadi tangan yang selalu terbuka ketika mendapatkan, tetapi mengepal ketika harus memberikan.

 

Belajarlah musimah.

 

Tidak pelit. Suka berbagi.

 

Karena suatu hari nanti, semua yang kita kumpulkan akan kita tinggalkan. Jabatan selesai. Harta berpindah. Rumah ditempati orang lain. Nama perlahan dilupakan.

 

Tetapi kebaikan yang pernah kita bagikan bisa terus berjalan melalui orang-orang yang pernah kita bantu.

 

Maka sebelum bertanya, “Apa yang akan saya dapat?” tanyakan lebih dahulu: “Apa yang bisa saya berikan?”

 

Sebab boleh jadi, ukuran keberhasilan hidup bukan seberapa banyak tangan orang lain pernah mengulurkannya kepada kita, tetapi seberapa sering tangan kita menjadi alasan orang lain mampu berdiri.

 

Itulah musimah.

 

Post a Comment

Previous Post Next Post