Renungan filosofis tentang
ketulusan, pembuktian, dan kebijaksanaan dalam mencintai.
Malam
itu, seorang laki-laki duduk terdiam menatap jendela kamarnya yang masih di
terbuka. Wajahnya tampak sesekali tertiup angin malam, pikirannya melayang, dan sangat tampak ada persoalan
hidup yang belum sanggup ia ceritakan. Bukan karena ia tidak percaya kepada
perempuan yang dicintainya, melainkan karena terkadang seorang laki-laki pun
membutuhkan waktu untuk mengurai kusut pikirannya sendiri.
Biasanya,
mereka saling berbalas pantun, mengirim kata-kata manis, dan mengucapkan betapa
dalam rasa cinta di antara mereka. Ada tawa, ada rindu, ada janji untuk selalu
bersama. Namun, malam itu ia tidak memiliki banyak kata. Ia hanya ingin duduk
tenang, berharap kehadiran orang yang dicintainya bisa menjadi tempat
beristirahat bagi hati yang sedang lelah.
Sayangnya, ketika ia tidak banyak
berbicara, suasana pun berubah. Kehangatan yang biasanya terasa perlahan
memudar. Percakapan menjadi hambar, perhatian berkurang, dan hal-hal sederhana
yang biasanya dilakukan dengan senang hati seakan kehilangan maknanya.
Laki-laki
itu kemudian merenung dalam diam: Apakah cinta hanya terasa ketika aku mampu
memberikan sesuatu? Apakah aku hanya pantas mendapatkan keramahan ketika dompetku
cukup tebal, pikiranku sedang ringan, dan aku mampu memenuhi harapan orang yang
kucintai?
Pertanyaan itu mungkin terdengar
sederhana. Namun, bagi siapa pun yang pernah merasa dicintai hanya ketika
dirinya sedang mampu memberi, pertanyaan tersebut bisa terasa begitu
menyakitkan.
Sebab, salah satu kesedihan terdalam
dalam sebuah hubungan bukanlah ketika kita tidak memiliki cukup uang untuk
membahagiakan seseorang, melainkan ketika kita mulai bertanya-tanya apakah diri
kita masih layak disayangi saat tidak memiliki apa-apa untuk diberikan selain
kejujuran, kehadiran, dan hati yang sedang berjuang.
Tentu, kita tidak boleh tergesa-gesa
menghakimi. Bisa jadi, pasangan itu juga sedang lelah, memiliki persoalan
sendiri, atau belum memahami bagaimana cara mendampingi seseorang yang sedang
tertekan. Tidak setiap perubahan sikap berarti hilangnya cinta. Namun, jika
kehangatan terus-menerus bergantung pada apa yang dapat diberikan, ada sesuatu
dalam hubungan itu yang patut direnungkan.
Di sinilah kita perlu membedakan
antara cinta yang tulus dan hubungan yang tanpa sadar berubah menjadi
transaksi. Sebab, uang memang dapat membantu memenuhi kebutuhan hidup,
perhatian dapat membuat seseorang merasa bahagia, dan pelayanan dapat menjadi
bentuk kasih sayang. Akan tetapi, ketika semuanya selalu menuntut balasan yang
setimpal, hubungan perlahan kehilangan ruang bagi ketulusan.
Bukankah cinta seharusnya menjadi
tempat seseorang merasa diterima sebagai manusia, bukan hanya dihargai ketika
ia sedang berguna?
Aristoteles, dalam Etika
Nikomakea, membedakan persahabatan berdasarkan manfaat, kesenangan, dan
kebaikan karakter. Pemikirannya mengajak kita merenungkan apakah kita
menghargai seseorang karena manfaat yang diberikannya, atau karena pribadi dan
kebaikan yang ada dalam dirinya.
Sementara itu, Erich Fromm, dalam The
Art of Loving, memandang cinta sebagai seni yang menuntut kepedulian,
tanggung jawab, penghormatan, dan pemahaman. Dengan demikian, cinta bukan
sekadar perasaan yang indah ketika keadaan menyenangkan, melainkan sesuatu yang
perlu dipelajari dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Maka, sebelum kita begitu fasih
mengucapkan kata sayang, ada baiknya kita bertanya kepada diri sendiri:
sudahkah kita menjadi tempat yang menenangkan bagi orang yang kita cintai?
Sudahkah kita belajar memahami sebelum menuntut untuk dipahami? Dan sudahkah
kata-kata indah yang kita ucapkan benar-benar menjelma menjadi sikap dan
perbuatan?
Sebab, cinta yang paling
dibutuhkan seseorang terkadang bukanlah seribu kata tentang kesetiaan,
melainkan satu sikap sederhana yang membuatnya merasa bahwa, bahkan ketika
hidup sedang berat, ia tidak harus menghadapi semuanya sendirian.

Post a Comment