Belajar dari Lapangan: Catatan tentang Peningkatan Kapasitas

 


Saya belajar dari lapangan bahwa perubahan tidak pernah lahir dari ruang yang sepenuhnya nyaman. Ia tumbuh dari kegelisahan—dari rasa tidak tenang ketika sesuatu terasa keliru, tetapi diperlakukan sebagai kewajaran. Dalam perjalanan pendampingan yang saya jalani, kesadaran itu selalu datang lebih dulu: ada situasi yang tidak adil, dan saya tidak sanggup berpura-pura tidak melihatnya.

 

Perlawanan pertama, saya sadari, tidak pernah terjadi di ruang publik. Ia berlangsung di dalam diri—ketika nurani menolak diam dan akal menolak tunduk. Dari kegelisahan batin itulah saya kemudian bertemu dengan orang-orang yang memiliki keresahan serupa. Kami datang dari latar berbeda, tetapi dipertemukan oleh rasa tidak nyaman yang sama. Di sanalah kesadaran pribadi mulai menemukan bentuk kolektifnya.

 

Kelompok-kelompok kecil itu tidak pernah besar secara jumlah, tetapi kuat dalam pertanyaan. Kami belajar untuk tidak silau oleh istilah-istilah besar dan tidak mudah menerima narasi yang terlalu rapi. Kami membiasakan diri bertanya “mengapa” sebelum sibuk membahas “bagaimana”. Dari proses itulah saya memahami bahwa perubahan sering kali dimulai dari keberanian untuk berpikir jujur dan konsisten.

 

Kesadaran kritis semacam ini tidak tumbuh secara instan. Ia dibangun melalui proses pendidikan yang panjang dan melelahkan. Pada periode awal pendampingan, metode yang kami gunakan sederhana tetapi mendalam: belajar kelompok, diskusi bedah kasus, dan praktik langsung menghadapi masalah. Bacaan-bacaan teori sosial menjadi pintu masuk diskusi, bukan tujuan akhir. Proses belajar itu berlangsung di rumah-rumah sederhana, di gubuk tengah sawah, dan di bawah pohon—ruang-ruang di mana teori diuji oleh kenyataan hidup orang-orang yang didampingi.

 

Pada periode berikutnya, ketika peningkatan kapasitas mulai ditata lebih sistematis, pendekatan tersebut tidak ditinggalkan. Pelatihan berlangsung selama 7 hingga 14 hari, dengan jumlah peserta yang dibatasi. Metode belajar tetap berbasis kelompok, diskusi kasus lapangan, dan praktik langsung menghadapi persoalan nyata. Pengetahuan diperdalam, sikap dibentuk, dan keterampilan diasah melalui proses yang berulang dan terpantau. Pelatihan pada masa itu benar-benar menjadi ruang belajar, bukan sekadar ruang hadir.

 

Namun pengalaman lapangan juga memperlihatkan sisi lain dari sistem. Saya pernah berada dalam sebuah forum evaluasi kegiatan yang berjalan sangat tertib dan administratif. Di forum itu, satu fakta kemanusiaan nyaris terlewat: seorang fasilitator yang terlibat dalam kegiatan tersebut telah meninggal dunia saat menjalankan tugasnya. Forum tetap berlangsung rapi, tetapi nyaris tanpa jeda empati—seolah peristiwa itu tidak memiliki ruang dalam pembacaan prosedural.

 

Pengalaman tersebut meninggalkan pelajaran mendalam bagi saya. Bukan semata pada proses evaluasinya, melainkan pada cara memandang manusia di dalam sistem. Saya belajar bahwa akuntabilitas yang tercerabut dari kemanusiaan berisiko menjelma kepatuhan yang dingin. Ketika manusia direduksi menjadi angka, tabel, dan temuan, nilai pengabdian perlahan terhapus dari kesadaran bersama.

 

Seiring waktu, saya semakin sering menyaksikan perubahan metode pelatihan hari ini. Waktu dipadatkan menjadi hanya beberapa hari, peserta diperbanyak, dan proses belajar disederhanakan. Peserta diminta membaca sendiri materi dalam waktu yang sangat terbatas, dengan pengawasan yang minim. Diskusi kelompok dipersempit, bedah kasus hampir tidak terjadi, dan praktik menghadapi masalah lapangan nyaris absen. Proses belajar berubah menjadi formalitas: yang penting materi dibagikan, bukan dipahami.

 

Dalam konteks pendampingan dan pemberdayaan, kecenderungan ini patut menjadi bahan refleksi bersama. Kita berbicara tentang peningkatan kapasitas, tetapi menghilangkan ruang belajar yang sesungguhnya. Kita mengharapkan perubahan sikap, tetapi tidak menyediakan proses yang memungkinkan sikap itu tumbuh. Kita menginginkan hasil cepat, padahal kesadaran manusia tidak pernah lahir dari bacaan singkat tanpa dialog dan pergulatan.

 

Bagi saya, pendampingan bukan sekadar pekerjaan teknis. Ia adalah amanah. Mendampingi manusia berarti mengakui keutuhannya—akalnya, sikapnya, dan martabatnya. Kerja pendampingan adalah kerja batin: mengasah akal agar tetap jernih, menjaga sikap agar tidak netral terhadap ketidakadilan, dan merawat nurani agar tetap berpihak pada yang lemah. Di sanalah nilai ibadah menemukan bentuk sosialnya.

 

Dan ketika peningkatan kapasitas menghapus proses belajar, yang tersisa bukanlah perubahan—melainkan kepatuhan yang sunyi dan dingin.

 


Post a Comment

Previous Post Next Post