Peningkatan kapasitas kerap dipuja sebagai obat mujarab dalam dunia pembangunan. Hampir setiap kegagalan program, setiap persoalan sumber daya manusia, selalu berujung pada satu jawaban yang sama: pelatihan. Namun ironinya, di tengah maraknya pelatihan, integritas justru terasa kian langka di lapangan.
Di titik ini, pertanyaan
sederhana menjadi penting: yang meningkat itu kapasitas, atau sekadar
aktivitas?
Peningkatan kapasitas
sejatinya bukan urusan menambah pengetahuan dan keterampilan teknis belaka. Ia
adalah proses membentuk kesadaran, menanam nilai, dan meneguhkan tanggung
jawab. Ketika nurani dikeluarkan dari proses ini, pelatihan hanya akan
melahirkan individu cakap yang lihai membaca celah, bukan memperbaiki keadaan.
Pintar bekerja, tetapi miskin keberpihakan.
Banyak program
peningkatan kapasitas tergesa-gesa melompat ke urusan teknis. Tahap penyadaran
dilompati, nilai dan etika dianggap tambahan, sementara pendampingan
pasca-pelatihan sering diabaikan. Yang tertinggal hanyalah sertifikat, laporan rapi,
dan rutinitas yang terus berulang tanpa perubahan berarti.
Lebih ironis lagi, mereka
yang telah “ditingkatkan kapasitasnya” kerap harus kembali bekerja dalam sistem
yang permisif terhadap penyimpangan. Dalam situasi seperti ini, kapasitas
personal mudah dikalahkan oleh budaya organisasi yang rusak. Orang yang masih
memegang nilai perlahan lelah, sementara yang pandai menyesuaikan diri justru
bertahan.
Peningkatan kapasitas
juga kehilangan makna ketika motifnya keliru. Saat yang dikejar hanya serapan
anggaran dan gugurnya kewajiban program, maka proses dikorbankan demi target.
Nilai ditukar dengan indikator administratif, sementara perubahan hanya hidup
di atas kertas.
Padahal, peningkatan
kapasitas yang sejati tidak gaduh. Ia bekerja dalam sunyi, pelan, dan
konsisten. Tidak sibuk memamerkan kegiatan, tetapi menumbuhkan kesadaran. Tidak
riuh di awal, namun terasa dalam jangka panjang.
Dalam dunia pendampingan
dan pemberdayaan, peningkatan kapasitas sejatinya adalah amanah moral.
Pendamping berdiri di teras depan negara—tempat pertama keluhan disampaikan dan
harapan digantungkan. Karena itu, kapasitas tanpa kejujuran batin hanya akan
melahirkan pendamping yang fasih berbicara, tetapi rapuh menjaga tanggung
jawab. Pada akhirnya, yang diuji bukan seberapa banyak pelatihan diikuti,
melainkan seberapa teguh nurani dijaga.
Tanpa nurani, peningkatan
kapasitas hanyalah kepintaran yang kehilangan arah.
Post a Comment