Berangkat dalam Diam, Pulang dengan Makna

 



Saya berangkat dalam diam,

karena saya tahu, niat yang terlalu ramai sering kehilangan arah. Saya memilih tidak banyak bicara, agar langkah ini lebih dulu didengar oleh Tuhan, bukan oleh manusia.

 

Motor ini melaju pelan di jalan yang basah dan berdebu. Bukan karena saya ragu pada tujuan, tetapi karena saya sedang belajar percaya: bahwa setiap jalan yang Allah izinkan, selalu membawa pelajaran, meski tidak selalu kenyamanan. Lumpur yang menempel di roda bukan gangguan, ia adalah pengingat—bahwa hidup memang diciptakan untuk diuji, bukan dimanjakan.

 

Di balik topi yang menutup wajah, saya lebih sering berdoa daripada berharap. Saya sadar, kuat saya terbatas, dan niat saya mudah goyah. Maka setiap tarikan napas saya jadikan istighfar, setiap hentakan roda saya titipkan sebagai dzikir yang berjalan. Jika lelah datang, saya ingat: Allah tidak pernah meminta saya sampai, hanya meminta saya berusaha dengan jujur.

 

Saya tidak datang untuk merasa paling berguna. Saya hanya ingin hadir tanpa menyakiti. Mendengar tanpa menghakimi. Membantu tanpa merasa berjasa. Saya belajar, amal yang paling selamat adalah yang tidak sibuk mencari pengakuan, dan pengabdian yang paling ikhlas adalah yang tidak sibuk menghitung hasil.

 

Di jalan sunyi ini, saya semakin paham makna tawadhu. Semakin jauh melangkah, semakin seharusnya kepala menunduk. Semakin banyak bertemu kehidupan, semakin jelas betapa sedikit yang saya tahu. Semua ini bukan tentang saya—ini tentang Allah yang sedang mendidik saya melalui perjalanan.

 

Saya berangkat dalam diam, agar ego tidak ikut serta. Agar hati tidak sibuk memamerkan niat. Agar langkah tetap ringan dan tidak dibebani rasa ingin diingat. Dan jika suatu hari saya pulang, saya ingin pulang dengan makna: iman yang lebih jujur, sabar yang lebih panjang, dan syukur yang tidak bergantung pada keadaan.

 

Jika tidak ada yang menyebut nama saya, tidak mengapa. Cukup jalan ini yang tahu bahwa saya pernah lewat dengan niat sederhana: ingin berguna, meski hanya sebentar, dan memilih merendah agar makna tetap hidup.

 

Ya Allah,

jika langkah ini masih sering goyah, jangan Kau hentikan perjalanannya—cukup Kau luruskan niatnya. Jika lelah ini mulai terasa berat, jangan Kau ringankan jalannya—cukup Kau kuatkan hati yang menjalaninya.

 

Saya tidak meminta jalan yang mudah, karena saya tahu, kemudahan sering membuat saya lupa. Saya hanya memohon agar Engkau tidak melepaskan saya dari-Mu, meski kaki ini harus melewati lumpur, meski hati ini harus belajar sabar berkali-kali.

 

Terimalah setiap peluh yang jatuh sebagai saksi, bukan sebagai prestasi. Ampuni jika dalam niat baik ini masih terselip keinginan untuk dilihat, untuk disebut, untuk diingat. Bersihkan langkah saya dari riya, dan kosongkan hati saya dari rasa merasa.

 

Jika suatu hari saya pulang tanpa cerita besar, biarlah iman saya yang bertambah. Jika saya kembali tanpa hasil yang bisa dipamerkan, biarlah sabar saya yang lebih lapang. Dan jika nama saya tidak pernah tercatat, biarlah Engkau yang mencatatnya dengan kasih-Mu.

 

Ya Allah,

izinkan saya terus berangkat dalam diam,

hingga kelak, saya pulang dengan makna—

makna yang hanya Engkau dan hati saya yang tahu.

 

Post a Comment

Previous Post Next Post