Bukan Siapa Kita di Desa, Tapi Apa yang Kita Tinggalkan

 




Di desa, orang datang dan pergi membawa banyak nama. Ada yang dipanggil pendamping, ada yang disapa fasilitator. Tetapi waktu, yang paling jujur dalam menilai, mengajarkan satu hal sederhana: tidak semua yang datang untuk mendampingi benar-benar membantu orang lain berdiri.

 

Tidak semua fasilitator pantas menyebut dirinya fasilitator. Pernyataan ini bukan untuk meniadakan peran siapa pun, melainkan untuk mengingatkan bahwa fasilitasi bukan perkara status atau penugasan administratif semata. Ia adalah soal kepantasan moral dan kebermaknaan sosial—dua hal yang tidak selalu sejalan dengan indikator kinerja dan laporan kegiatan.

 

Pemberdayaan masyarakat kerap disalahpahami sebagai serangkaian kegiatan. Padahal, pemberdayaan masyarakat adalah proses yang sengaja dan berkesinambungan untuk membangkitkan daya yang sudah ada dalam masyarakat, agar mereka mampu mengambil keputusan, mengelola sumber daya, dan menentukan arah hidupnya sendiri secara bermartabat. Artinya, pemberdayaan bukan menambahkan kuasa dari luar, melainkan membuka ruang agar daya yang telah lama hidup dapat tumbuh dengan tenang.

 

Namun dalam praktik pembangunan, fasilitator sering hadir membawa regulasi, pedoman teknis, target capaian, dan angka-angka. Semua itu diperlukan. Persoalan muncul ketika prosedur menjadi tujuan, bukan alat. Ketika laporan lebih dirawat daripada relasi, dan capaian lebih dikejar daripada pemahaman, pendampingan pelan-pelan berubah menjadi pengawasan, dan pemberdayaan kehilangan jiwanya.

 

Situasi ini terasa semakin kompleks ketika fasilitator ditempatkan oleh negara. Penugasan memberi legitimasi formal dan kewenangan administratif. Namun legitimasi tidak selalu berbanding lurus dengan kepercayaan. Negara dapat mengutus seseorang ke desa, tetapi tidak dapat memerintahkan kepercayaan. Ia hanya tumbuh dari sikap: kesediaan mendengar, belajar, dan berjalan bersama warga.

 

Fasilitator yang pantas datang dengan kerendahan hati. Ia tidak memosisikan warga sebagai ruang kosong yang menunggu diisi program, melainkan sebagai subjek yang telah lama hidup dengan pengetahuan dan pengalaman mereka sendiri. Dalam posisi ini, fasilitator tidak menggantikan peran warga, melainkan menguatkannya. Ia mendampingi tanpa menguasai dan mengarahkan tanpa mematikan inisiatif.

 

Ukuran keberhasilan fasilitasi tidak terletak pada seberapa sering fasilitator dibutuhkan, melainkan pada seberapa jauh masyarakat mampu berdiri tanpa bergantung. Fasilitator yang baik justru bekerja menuju ketidakperluannya sendiri. Ia memahami bahwa ketergantungan—baik pada individu maupun program—adalah kegagalan pemberdayaan yang paling sunyi.

 

Di sisi lain, masyarakat desa bukan pihak pasif. Mereka memiliki hak untuk bersikap dan menilai. Bukan dengan konfrontasi, melainkan dengan kedaulatan sosial. Musyawarah desa, forum warga, dan ruang kolektif lainnya menjadi mekanisme sah untuk memastikan tidak ada kuasa yang bekerja sepihak. Dengan cara ini, masyarakat menjaga dirinya dari fasilitasi yang lebih sibuk mengatur daripada mendampingi.

 

Namun tanggung jawab tidak boleh sepenuhnya dibebankan kepada masyarakat. Negara memikul kewajiban yang tidak kecil. Menugaskan fasilitator berarti juga bertanggung jawab atas dampak sosial dari kehadirannya. Rekrutmen tidak cukup administratif; integritas dan kepekaan sosial harus menjadi pertimbangan utama. Evaluasi tidak boleh berhenti pada laporan, tetapi harus mendengar suara warga sebagai penerima dampak langsung.

 

Mekanisme pengaduan perlu aman dan benar-benar ditindaklanjuti. Ketika keluhan diabaikan, yang rusak bukan hanya program, tetapi kepercayaan. Negara juga perlu berani melakukan pembenahan ketika fasilitasi tidak berjalan sebagaimana mestinya, agar praktik yang keliru tidak terus berulang dengan wajah yang berbeda.

 

Pada akhirnya, fasilitator yang sungguh-sungguh tidak sibuk menyebut dirinya apa pun. Ia datang, bekerja, lalu pelan-pelan menghilang dari pusat cerita. Bukan karena gagal, tetapi karena masyarakat telah mampu melangkah sendiri. Di desa, nama mudah dilupakan, tetapi nilai tinggal lebih lama.

 

Sebab di desa,

yang dikenang bukan siapa kita,

bukan pula oleh siapa kita diutus,

melainkan apa yang kita tinggalkan—

keberanian yang tumbuh,

kepercayaan yang terjaga,

dan martabat yang dibiarkan hidup.

 

Post a Comment

Previous Post Next Post