Pernah suatu pagi, saya menuliskan nama saya sendiri—Ali Rukman—di kolom pencarian Google. Bukan karena ingin memastikan siapa saya di mata mesin pencari, melainkan karena saya sedang mencari tulisan lama yang entah sejak kapan tak lagi saya temukan di laptop.
Dari sekian tautan yang muncul—foto-foto
usang, potongan tulisan yang dulu lahir dari niat baik dan kegelisahan yang
jujur—ada satu yang membuat saya berhenti lebih lama. Saya membacanya perlahan.
Bukan karena judulnya memuat nama saya, tetapi karena nada tulisannya terasa
berbeda. Ia tidak memuja, tidak pula menuntut. Ia bertanya, dengan cara yang
santun dan penuh rasa.
Tulisan di waktuindonesia.id berjudul 29 Tahun Lampung Barat, Dimana Sosok Ali Rukman? ini sejatinya bukan barang baru bagi saya. Saya pernah membacanya. Bahkan menerimanya langsung dari penulisnya, Reki Fahlevi—seorang penulis muda dari Lampung Barat, yang saya tahu menulis bukan sekadar untuk hadir di linimasa, melainkan untuk merawat ingatan dan kejujuran. Namun entah mengapa, pada pagi 16 Januari 2026, tulisan itu kembali saya baca dengan rasa yang sama sekali lain.
Mungkin karena waktu telah mengendapkan banyak
hal.
Mungkin karena jarak membuat kata-kata menjadi
lebih jujur.
Atau mungkin karena pada usia tertentu,
seseorang mulai membaca bukan lagi dengan mata, melainkan dengan hati.
Tulisan itu menyentuh saya bukan karena ia
bercerita tentang saya, tetapi karena ia mengingatkan pada alasan-alasan lama
mengapa saya memilih jalan pendampingan—jalan yang sering sepi, kerap luput
dicatat, dan acap disalahpahami sebagai “menghilang”.
Pagi ini, saya memberanikan diri untuk
menulis. Bukan untuk menjawab, apalagi membela diri. Saya hanya ingin menyapa.
Dan jika kelak Reki membaca catatan ini—entah hari ini, entah di waktu
lain—saya ingin ia tahu: tulisannya telah menjalankan fungsinya. Ia membuat
seseorang berhenti, merenung, lalu pulang sejenak ke dalam dirinya sendiri.
Dan bukankah itu hakikat tulisan yang baik?
Ia tidak harus segera dibalas.
Cukup bekerja diam-diam,
menemani seseorang di pagi yang sunyi,
lalu tinggal sebagai pengingat
bahwa rasa masih hidup.
Terima kasih, Reki.
Tulisanmu tidak memanggil saya kembali ke
panggung,
tetapi menguatkan saya untuk tetap setia
pada jalan yang sejak awal saya pilih.
.
إرسال تعليق