Pendampingan di Negeri yang Menukar Rasa

 



Di negeri ini, pendampingan sering kali lahir dari akal yang rapi, tetapi miskin rasa. Proposal disusun dengan bahasa canggih, indikator disusun presisi, laporan diselesaikan tepat waktu. Semuanya tampak berjalan. Namun di lapangan, manusia yang didampingi justru semakin jauh dari makna keadilan. Ada yang hilang, tetapi sulit disebutkan—itulah rasa.

 

Setiap manusia dilahirkan dengan dua anugerah: akal dan rasa. Akal mengajarkan cara bertahan hidup, menimbang risiko, dan membaca peluang. Rasa mengajarkan cara menjadi manusia—merasakan perih orang lain, gelisah melihat ketimpangan, dan tidak sanggup berdamai dengan ketidakadilan. Akal membuat hidup berlangsung, rasa membuat hidup bermartabat.

 

Masalah muncul ketika akal berdiri sendiri. Akal yang tercerabut dari rasa berubah menjadi alat pembenar. Ia mampu merapikan ketimpangan dengan bahasa kebijakan, membungkus penderitaan dengan istilah program, dan menghalalkan pengabaian atas nama prosedur. Di titik inilah pendampingan mulai kehilangan jiwanya.

 

Rasa empati kepada kaum marjinal sesungguhnya adalah awal perlawanan sosial yang paling jujur. Ia tidak lahir dari ruang rapat, melainkan dari kegelisahan batin saat menyaksikan kemiskinan yang diwariskan dan ketidakadilan yang dilembagakan. Ketika seseorang tidak lagi bisa netral, ketika ia terusik dan memilih berpihak, di situlah perlawanan dimulai—sunyi, tetapi mengguncang.

 

Namun rasa adalah sesuatu yang rapuh jika tidak dirawat. Ia mudah ditukar dengan materi dan kekuasaan. Hari ini kita mengalah demi kebutuhan, besok demi jabatan, lusa demi keamanan. Akal lalu bekerja keras mencari pembenaran. Hingga suatu hari, rasa berhenti berbicara, dan kita tidak lagi merasa bersalah.

 

Terlalu mencintai uang dan kekuasaan adalah cara paling halus untuk membunuh rasa. Keduanya tidak menyukai empati, hanya kepatuhan. Mereka tidak membutuhkan nurani, hanya loyalitas. Maka lahirlah pendamping yang pintar, tetapi dingin; berpengaruh, tetapi jauh; sibuk membangun citra, namun abai pada luka.

 

Dalam dunia pendampingan, perbedaan antara akal dan rasa terlihat jelas. Akal melahirkan program, rasa memastikan program itu tidak melukai manusia. Akal menuntut capaian, rasa menjaga keberpihakan. Tanpa rasa, pendamping berubah menjadi pelaksana proyek. Tanpa nurani, pemberdayaan menjelma pengelolaan kemiskinan yang sopan.

 

Pendampingan sejati tidak lahir dari kecerdasan semata, melainkan dari keberanian untuk tetap merasa. Merasa perih orang lain, merasa gelisah melihat ketimpangan, dan merasa berdosa jika memilih diam. Di negeri yang menukar rasa dengan materi dan kekuasaan, menjaga empati adalah bentuk perlawanan paling sunyi—dan paling berbahaya.

 

Pada akhirnya, akal akan selalu menemukan jalan untuk selamat.

Tetapi hanya rasa yang berani memilih untuk berpihak.

Post a Comment

أحدث أقدم