Kader: Nama Lain dari Kesetiaan



Dalam setiap kerja pendampingan masyarakat, selalu ada satu kata yang sering disebut, namun jarang diselami maknanya:  kader . Ia kerap diperlakukan sebagai posisi teknis—daftar hadir, tanda tangan, laporan bulanan. Padahal, dalam denyut yang lebih dalam, kader bukan jabatan. Ia adalah  kesetiaan yang memilih tinggal .

 

Kader lahir bukan dari SK, melainkan dari keterikatan. Ia tumbuh dari kegelisahan yang sama, dari lumpur yang sama, dari doa-doa yang diucapkan dengan bahasa kampung sendiri. Karena itu, kader bukan orang yang “membantu program”, melainkan  orang yang menjaga martabat proses .

 

Pendamping datang dengan pengetahuan, metode, dan tenggat waktu. Kader hadir dengan kesabaran. Pendamping membawa kerangka, kader merawat isi. Di antara keduanya, sesungguhnya ada relasi yang rapuh: bila pendamping tergoda menjadi pusat, kader menyusut menjadi pelengkap. Namun bila pendamping memilih menepi, kader menemukan bentuknya.

 

Kader sejati tidak berteriak tentang perubahan. Ia bekerja dalam senyap. Ia tidak sibuk mengutip konsep, tetapi setia mempraktikkan nilai. Ia tahu kapan harus bicara, dan lebih tahu kapan harus mendengar. Kepemimpinannya tidak tampak megah, tetapi terasa menenangkan—sebab ia memimpin tanpa merasa memiliki.

 

Dalam pendampingan yang sehat, kader adalah  penjaga api . Api partisipasi, api kepercayaan, api keberanian untuk menentukan nasib sendiri. Api itu kecil, mudah padam, dan sering diremehkan. Namun justru di tangan kader, api dijaga dari angin kepentingan, dari hujan proyek, dari dingin birokrasi.

 

Kesalahan terbesar pendampingan adalah ketika kader diperlakukan sebagai alat. Ia dilatih, tetapi tidak dipercaya. Ia diminta bergerak, tetapi tidak diajak berpikir. Di titik itu, pendampingan kehilangan rohnya—menjadi ramai di awal, sunyi di akhir.

 

Sebab tujuan pendampingan bukanlah keberhasilan pendamping, melainkan  ketiadaan yang bermakna . Saat pendamping pergi dan masyarakat tetap berjalan, di sanalah kader berdiri—tidak di depan kamera, tidak di halaman laporan, tetapi di tengah warganya sendiri.

 

Maka kader adalah nama lain dari kesetiaan.

Kesetiaan pada proses, pada nilai, dan pada kampung yang ingin tumbuh tanpa harus kehilangan dirinya.

 

Dan di sanalah, pendampingan menemukan maknanya yang paling sunyi—namun paling jujur.

Post a Comment

Previous Post Next Post