Antara Fasilitator, Pelatih, Guru, Narasumber, dan Pendamping



Ada satu kebingungan yang terus berulang dalam berbagai ruang belajar, program sosial, dan kerja-kerja pemberdayaan: semua peran dianggap serupa, seolah bisa saling menggantikan tanpa konsekuensi. Guru dipanggil fasilitator, fasilitator diminta menjadi pendamping, pendamping ditarik bertindak seperti pelatih. Istilahnya berubah, tetapi cara berpikirnya tetap sama—mengatur, mengarahkan, dan memastikan orang lain berjalan sesuai skenario.

 

Guru berdiri di depan dengan otoritas pengetahuan. Ia diperlukan untuk membangun dasar, menata pemahaman, dan menjaga disiplin berpikir. Namun relasi ini bersifat vertikal. Murid ditempatkan sebagai penerima. Ketika pola ini dibawa ke semua ruang, setiap forum berubah menjadi kelas, dan setiap peserta dianggap belum tahu apa-apa sebelum diberi penjelasan.

 

Pelatih melangkah lebih dekat, tetapi tetap membawa target. Fokusnya keterampilan dan hasil. Ukurannya jelas: bisa atau tidak bisa, cepat atau lambat. Pendekatan ini efektif untuk kebutuhan tertentu, namun sering menyempitkan manusia menjadi sekadar alat produksi. Yang tidak sesuai indikator dianggap tertinggal, padahal bisa jadi ia sedang belajar dengan ritme yang berbeda.

 

Fasilitator hadir dengan wajah yang lebih lunak. Ia menjaga proses, membuka ruang bicara, dan memastikan semua terlibat. Diskusi menjadi hidup, suasana terasa setara. Namun tidak jarang, fasilitasi berhenti pada keramaian. Banyak bicara, banyak catatan, sedikit keberanian untuk benar-benar melangkah setelah forum usai.

 

Narasumber datang membawa pengalaman dan sudut pandang. Ia memberi inspirasi, membuka wawasan, lalu pergi. Perannya penting, tetapi terbatas. Masalah muncul ketika peran sesingkat ini dibebani harapan sebesar perubahan perilaku jangka panjang. Ketika itu gagal, yang disalahkan bukan desain program, melainkan orang yang hanya diminta berbagi cerita.

 

Pendamping justru memilih posisi yang paling sunyi: di samping. Ia tidak memimpin, tidak menjadi pusat perhatian. Relasinya setara dan berjangka panjang. Pendamping tidak sibuk menanamkan solusi, melainkan menjaga agar subjek berani menemukan solusinya sendiri. Ia sadar, keberdayaan tidak bisa dipercepat, apalagi dipaksakan.

 

Dalam konteks pendampingan, satu hal sering luput diperhatikan: bagaimana peran ditempatkan secara sadar saat pelatihan berlangsung. Peserta kerap diposisikan sebagai objek yang harus diisi, padahal merekalah pemilik pengalaman paling otentik. Di titik inilah, peserta semestinya diperlakukan sebagai narasumber—bukan karena gelar, tetapi karena pengetahuan yang lahir dari praktik hidup mereka sendiri.

 

Sebaliknya, aparatur atau pelaksana program tidak selalu harus tampil sebagai pengajar. Dalam banyak situasi, peran yang lebih jujur adalah sebagai fasilitator: menjaga alur, membuka ruang, dan memastikan pengalaman peserta saling berjumpa. Ketika aparatur berani menahan diri untuk tidak mendominasi, proses belajar menjadi lebih hidup dan relevan.

 

Di sinilah ironi sering bekerja diam-diam. Pendamping dipaksa tampil seperti guru, fasilitator dituntut seperti pelatih, narasumber diminta bertanggung jawab atas hasil. Aktivitas semakin padat, laporan semakin rapi, tetapi ketergantungan justru tumbuh. Pendamping terlihat semakin sibuk, sementara yang didampingi tetap menunggu arahan.

 

Paulo Freire sejak lama mengingatkan bahwa ketika manusia diperlakukan sebagai objek, yang lahir bukan kesadaran, melainkan kepatuhan. Robert Chambers juga mempertanyakan realitas siapa yang sesungguhnya dipakai dalam program—realitas warga atau realitas perencana. David Korten menegaskan bahwa perubahan yang bertahan lama hampir selalu lahir dari kekuatan manusia dan komunitas, bukan dari proyek yang silih berganti. Dalam praktik pendampingan, sebagaimana banyak ditulis Jim Ife, tantangan terbesarnya justru terletak pada kemampuan menahan diri: membantu tanpa mengambil alih, hadir tanpa menguasai. Sementara itu, Carl Rogers mengingatkan bahwa manusia belajar paling dalam bukan ketika terus diarahkan, melainkan ketika dipercaya.

 

Pengalaman lapangan di Indonesia memperlihatkan hal yang sama. Forum berjalan tertib, partisipasi tercatat, indikator terpenuhi. Namun keberanian untuk mengambil risiko dan keputusan sendiri tak kunjung tumbuh. Kita terlalu takut kehilangan kendali, hingga lupa bahwa belajar dan bertumbuh selalu mengandung kemungkinan salah.

 

Sebab pendampingan yang jujur memang tidak nyaman. Ia menuntut kesabaran, kesediaan menepi, dan keberanian untuk tidak selalu terlihat bekerja. Pendamping yang berhasil bukan yang paling sering bicara, tetapi yang tahu kapan harus diam. Bukan yang paling sibuk di laporan, tetapi yang rela menghilang ketika subjek mulai berdiri.

 

Maka membedakan fasilitator, pelatih, guru, narasumber, dan pendamping bukan soal istilah teknis. Ia adalah soal cara hadir—apakah kehadiran kita sedang menumbuhkan daya, atau justru merawat ketergantungan dengan bahasa yang terdengar mulia.

Post a Comment

Previous Post Next Post