Ketika Aktivisme Terlalu Akrab dengan Funding

 


Ada masa ketika kerja-kerja pendampingan lahir dari kegelisahan yang tulus.

Dari keberpihakan yang pelan, nyaris sunyi.

Namun seiring waktu, ada juga jalan yang berbelok tanpa kita sadari—

bukan karena niat jahat, melainkan karena terlalu lama berdamai dengan kenyamanan.

 

Di situlah funding mulai mengambil peran yang berbeda.

Bukan lagi sebagai penopang,

melainkan sebagai penentu arah.

 

Aktivisme pun perlahan menyesuaikan bahasa.

Isu dipilih dengan lebih hati-hati—

bukan hanya soal kedekatan dengan warga,

tetapi juga tentang kesesuaian dengan skema, termin, dan peluang keberlanjutan.

Bukan salah, barangkali.

Hanya saja, di titik tertentu, keberpihakan menjadi lebih administratif daripada batiniah.

 

Masyarakat tetap hadir dalam setiap rancangan.

Namanya tertulis rapi, kegiatannya terdokumentasi,

wajahnya hadir dalam laporan akhir.

Namun sering kali, ruang untuk menentukan arah masih terlalu sempit.

Mereka diajak terlibat,

tetapi belum sepenuhnya dipercaya untuk memimpin prosesnya sendiri.

 

Bahasa partisipasi pun bekerja dengan sopan.

Ia terdengar inklusif,

terlihat rapi,

dan terasa aman.

Namun partisipasi yang sejati bukan sekadar hadir dan menyetujui,

melainkan keberanian untuk melepaskan kendali—

sesuatu yang tidak selalu mudah bagi pendamping mana pun.

 

Dalam dinamika seperti ini, laporan menjadi penanda keberhasilan.

Indikator terpenuhi, jadwal terlaksana, anggaran terserap.

Sementara proses yang seharusnya mematangkan kesadaran warga

kerap berjalan di belakang layar—

pelan, tidak tercatat, dan sering kali tak sempat ditunggu.

 

Bukan berarti niatnya keliru.

Hanya saja, ada kalanya kita terlalu sibuk memastikan program berjalan,

hingga lupa memastikan warga benar-benar tumbuh.

Dan ketika pendanaan usai,

kerja pendampingan pun ikut mereda—

meninggalkan pertanyaan yang belum sepenuhnya selesai.

 

Tulisan ini bukan hendak menuding siapa pun.

Ia lebih menyerupai cermin kecil,

yang barangkali perlu sesekali kita tengok bersama.

Agar kita ingat kembali:

bahwa dalam kerja pemberdayaan,

yang paling berharga bukanlah dana yang terserap,

melainkan kepercayaan yang dititipkan warga.

 

Sebab funding bisa dicari kembali,

tetapi kepercayaan—

sekali retak,

ia jarang benar-benar utuh.

Post a Comment

Previous Post Next Post