Pagi itu, embun masih menempel di daun padi. Suara ayam jantan
bersahut-sahutan, aroma tanah basah menyelimuti Desa Kota Jawa, Pesawaran. Di
tengah sawah yang hijau, seorang pria berdiri memeriksa mesin Heuler dan
combine-nya, seolah berbicara lembut dengan tanah yang digarapnya. Namanya
Bapak Mahaad.
Ia lulusan STM jurusan Mesin Produksi, tapi hidupnya tidak tentang gelar
atau kemegahan. Yang terlihat hanyalah senyum ramah, canda ringan, dan
kesederhanaan yang membuat siapa pun nyaman di dekatnya. Tangan yang kotor oleh
tanah itu menandakan kerja keras, tapi di baliknya tersimpan filosofi hidup
yang sederhana dan dalam: konsistensi lebih berharga daripada kemampuan.
Bapak Mahaad adalah Ketua Kelompok Tani Pasundan. Sawahnya menjadi contoh
pengembangan wilayah prioritas IPDMIP Kabupaten Pesawaran. Dari lahan lima
hektar, ia berhasil menghasilkan puluhan ton gabah kering panen per musim.
Mesin dan teknologi hanyalah alat, yang nyata adalah kesabaran, ketekunan, dan
disiplin yang ia jalani setiap hari.
Meski baru mulai bertani pada tahun 1996, setiap langkahnya dijalani dengan
penuh kesadaran: menyiapkan lahan, memeriksa mesin, menimbang hasil panen.
Empat anaknya, Gausal Alam, Ibnu Alwa, Sulton Ali, dan Khaidir Ghumani, tumbuh
melihat ayah mereka hidup dengan prinsip sederhana: cepat jangan mendahului,
tajam jangan melukai, pintar jangan menggurui. Dari cara ia berbicara dan
menebar canda, terlihat jelas pelajaran hidup yang ia ingin tinggalkan bagi
anak-anak dan masyarakat di sekitarnya.
Ketika ditanya tujuan dari semua jerih payahnya, Bapak Mahaad menunduk
sebentar lalu tersenyum pelan. “Ini semua bukan hanya untuk saya,” katanya.
“Anak-anak saya sedang menuntut ilmu, dan suatu hari nanti, ketika mereka
kembali, mereka bisa membimbing pemuda desa yang belum sempat menempuh
pendidikan di luar.”
Selain bertani, ia juga menjadi penangkar benih padi, program dari Dinas
Tanaman Pangan Provinsi Lampung. Keberhasilannya menjadi teladan bagi petani
lain. Dari sini terlihat jelas: sukses bukan sekadar soal hasil, tapi soal
bagaimana manfaat yang kita tebarkan bagi orang lain.
Dari Bapak Mahaad kita belajar banyak hal: kesederhanaan adalah kekuatan,
konsistensi lebih mahal daripada kemampuan, dan hidup bukan soal keuntungan
pribadi, tapi tentang manfaat bagi sesama. Mesin hanyalah alat, kerja keras dan
hati yang tuluslah yang membuahkan hasil. Ilmu dan kebaikan yang dibagikan akan
lebih berharga daripada harta yang disimpan sendiri.
Saat matahari mulai meninggi, sawah bersinar keemasan. Saya meninggalkan
Bapak Mahaad, tapi kata-katanya tetap bergaung di kepala: hidup itu seperti
bertani, butuh kesabaran, ketekunan, konsistensi, dan hati yang tulus. Setiap
batang padi yang tumbuh, setiap butir gabah yang dipanen, adalah cermin dari
kehidupan yang dijalani dengan kesadaran dan ketulusan.
Dan pelajaran terbesar dari seorang petani sederhana ini adalah: hidup yang
konsisten, tulus, dan bermanfaat akan selalu meninggalkan jejak abadi. Lebih
mahal daripada kemampuan sekalipun. Di balik kesederhanaannya tersimpan
kekayaan yang tak terlihat, tapi terasa dalam hati siapa pun yang mau belajar.
Hidup itu sederhana, tapi keindahannya menempel selamanya.
إرسال تعليق