Seorang
pendamping bisa menguasai seluruh istilah pemberdayaan, hafal metodologi
partisipatif, dan rapi menyusun laporan. Namun semua itu bisa kehilangan makna
jika ia lupa satu hal paling mendasar: mengenali dirinya sendiri. Tanpa
kesadaran diri, kehadiran pendamping tidak menumbuhkan; ia hanya mengarahkan,
diam-diam menguasai dengan bahasa yang terdengar santun.
Kesadaran
diri bukan sekadar tahu apa yang kita pikirkan atau rasakan, tetapi keberanian
untuk jujur pada mengapa kita berpikir dan merasa demikian. Dalam psikologi
humanistik, Carl Rogers menyebutnya congruence—keselarasan antara batin dan
tindakan. Ketika retak, pendamping terlihat peduli, tetapi sesungguhnya sedang
memuaskan ego. Kepedulian pun berubah menjadi panggung, dan warga sekadar
menjadi latar.
Pendamping
yang kehilangan kesadaran diri mudah tergelincir menjadi pusat kebenaran. Ia
datang membawa program, lalu tanpa sadar membawa rasa lebih tahu. Paulo Freire
mengingatkan bahwa relasi semacam ini adalah penindasan halus: manusia tidak
lagi diperlakukan sebagai subjek berpikir, melainkan objek yang harus
mengikuti. Pendampingan yang kehilangan kesadaran diri akan selalu gagal
memerdekakan, meski dibungkus niat baik.
Yang paling
merusak kesadaran diri bukan ketidaktahuan, melainkan pembenaran. Kritik
dianggap gangguan, penolakan warga ditafsir sebagai ketidakmampuan mereka
memahami konsep. Pendamping berhenti mendengar dan mulai menyusun dalih.
Padahal, Donald Schön menegaskan profesional sejati lahir dari kemampuan
merefleksikan praktik sendiri—termasuk kesalahan dan kegagalan.
Kesadaran
diri juga kerap runtuh oleh kelelahan emosional yang tidak diakui. Target
menumpuk, tekanan administratif, minim ruang aman untuk jujur membuat banyak
pendamping menyimpan luka batin. Luka ini tidak hilang, hanya berubah: nada
bicara dingin, empati menipis, relasi menjauh. Psikologi menyebutnya compassion
fatigue—kelelahan peduli yang sering disangkal atas nama profesionalisme.
Ketergantungan
pada validasi luar juga menggerogoti batin. Pujian atasan, pengakuan forum,
citra “pendamping ideal” perlahan menggantikan suara nurani. Abraham Maslow
mengingatkan: kebutuhan penghargaan yang tidak ditopang aktualisasi diri melahirkan
pribadi defensif yang gemar mengontrol. Dalam pendampingan, kontrol sering
disamarkan sebagai bimbingan.
Kesadaran
diri mengajarkan pendamping memberi jeda. Jeda sebelum bereaksi. Jeda untuk
bertanya: apakah aku sedang mendampingi, atau sedang ingin diakui? Jeda untuk
menyadari masyarakat bukan ruang kosong yang menunggu diisi, melainkan
kehidupan yang telah lama bertumbuh. Dalam tradisi spiritual, jeda ini dikenal
sebagai muhasabah; dalam praktik kontemporer, ia disebut kehadiran penuh.
Hakikatnya sama: kembali pada kejujuran batin.
Perubahan
sejati bekerja seperti proses menetaskan telur ayam. Kehidupan dalam telur
tidak lahir karena cangkangnya dipecahkan dari luar, tetapi karena daya hidup
yang matang dari dalam. Jika cangkang dipaksa pecah terlalu cepat, yang keluar
bukan kehidupan, melainkan kematian. Pendampingan pun demikian. Perubahan yang
dipaksakan melalui program, target, atau ambisi, menumbuhkan ketergantungan,
bukan kemandirian.
Di titik
paling sunyi itu, pendamping belajar merendah. Meletakkan ego, menurunkan suara
batin yang ingin merasa paling benar, dan bertanya jujur: apakah aku sedang
menghangatkan proses tumbuh, atau memecahkan cangkang terlalu cepat? Pertanyaan
ini tidak nyaman, tetapi darinya lahir kesadaran.
Al-Qur’an
mengingatkan:
“Sesungguhnya
Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang
ada pada diri mereka sendiri” (QS. Ar-Ra‘d: 11)
Ayat ini
bukan hanya pesan bagi masyarakat yang didampingi, tetapi peringatan bagi
pendamping itu sendiri. Perubahan tidak bisa dipercepat, dipaksakan, atau
dititipkan dari luar.
Maka
pendampingan, pada akhirnya, adalah menjaga suhu, bukan memecahkan cangkang;
menemani proses, bukan menggantikan kehidupan. Pendamping hanya memastikan
ruang tetap hangat dan aman, sementara perubahan bertumbuh dari dalam. Di
hadapan Tuhan, pendamping yang paling diterima bukan yang paling banyak
mengubah orang lain, melainkan yang paling jujur menahan diri—agar setiap
perubahan yang lahir benar-benar hidup, bermartabat, dan berasal dari dalam.
Post a Comment