Pemberdayaan dan Dosa-dosa yang Tak Tertulis

 


Kerja pemberdayaan hampir selalu dimulai dengan niat baik. Tidak ada pendamping yang berangkat dengan kehendak untuk melukai, sebagaimana tidak ada program yang dirancang untuk merendahkan manusia. Namun iman mengajarkan satu hal yang kerap kita lupakan: niat baik tidak selalu berujung pada kebaikan, jika ia berjalan tanpa adab dan kejujuran.

 

Di situlah pemberdayaan menjadi ujian. Bukan semata ujian kemampuan, melainkan ujian iman.

 

Kita terlalu sering sibuk menghitung hasil, tetapi lupa menimbang cara. Kita merayakan capaian, namun jarang bertanya tentang harga yang dibayar oleh masyarakat demi capaian itu. Maka lahirlah kesalahan-kesalahan sunyi—dosa-dosa yang tak pernah tertulis di laporan, tetapi pelan-pelan mengendap di dalam nurani.

 

Dosa itu bermula ketika manusia direduksi. Masyarakat hadir sebagai angka, sebagai latar foto, sebagai cerita keberhasilan. Mereka dipanggil untuk melengkapi indikator, bukan untuk menentukan arah. Kita menyebutnya partisipasi, padahal sering kali itu hanya kehadiran yang dipinjam. Dalam iman, mengurangi manusia menjadi alat bukan sekadar kelalaian metodologis, melainkan luka martabat.

 

Lalu ada kebohongan yang dibungkus profesionalisme. Data disesuaikan agar terlihat hidup, realitas dipoles agar tampak berhasil. Kita berdalih demi keberlanjutan. Padahal iman tidak pernah mengajarkan kebaikan yang bertumbuh dari dusta. Kebenaran mungkin tidak selalu menguntungkan, tetapi ia selalu memerdekakan.

 

Kesalahan lain hadir dalam rupa yang lebih sopan: merasa paling tahu. Pendamping datang membawa konsep dan teori, lalu tanpa sadar meminggirkan pengalaman hidup masyarakat. Tradisi dianggap beban, nilai lokal dianggap penghambat. Kita lupa bahwa hikmah sering tidak lahir dari ruang seminar, melainkan dari tanah yang telah lama diinjak dengan sabar.

 

Pemberdayaan juga kehilangan maknanya ketika ia melahirkan ketergantungan. Bantuan datang berulang, tetapi daya tidak tumbuh. Masyarakat diajari menunggu, bukan menguatkan diri. Kita lupa bahwa dalam iman, memberi bukan sekadar memindahkan kepemilikan, melainkan memulihkan kemampuan untuk berdiri.

 

Ada kalanya dosa-dosa itu berkelindan dengan kuasa. Kerja sosial diseret ke wilayah kepentingan. Penderitaan dijadikan modal pengaruh. Program berubah menjadi alat. Di titik ini, pemberdayaan tidak lagi berjalan sebagai amanah, melainkan sebagai strategi. Kesuciannya terkikis, tanpa suara.

 

Yang tak kalah sunyi adalah pemaksaan perubahan. Adat disingkirkan atas nama kemajuan, iman lokal dipinggirkan demi model baru. Padahal masyarakat hidup bukan hanya dari perut, tetapi dari makna. Mengubah tanpa menghormati makna sama saja dengan membangun di atas tanah yang rapuh.

 

Keadilan sering disebut, tetapi jarang benar-benar dihadirkan. Perempuan dilibatkan sekadarnya, yang lemah disebut dalam dokumen, lalu dilupakan dalam keputusan. Kita menyebutnya keterbatasan teknis. Padahal sering kali itu adalah pilihan yang tidak berani diakui.

 

Dan ada satu dosa yang paling jarang disesali: pergi tanpa tanggung jawab. Proyek selesai, pendamping pamit, masyarakat ditinggalkan dengan harapan yang belum sempat tumbuh kuat. Tidak ada transisi yang utuh, tidak ada penguatan yang cukup. Dalam iman, datang membawa harapan berarti siap memikul konsekuensinya, bukan sekadar meninggalkan jejak.

 

Pemberdayaan sejati menuntut kerendahan hati yang dalam. Kesediaan untuk suatu hari tidak lagi dibutuhkan. Tidak dikenal, tidak disebut, tidak dikenang. Sebab tujuan tertingginya bukan keberlanjutan program, melainkan keberlanjutan martabat manusia.

 

Barangkali, dosa-dosa yang paling berat bukanlah yang melanggar aturan, melainkan yang melukai tanpa suara. Yang tidak tercatat di laporan, tetapi tercermin di wajah-wajah yang kecewa dan diam.

 

Dan pada akhirnya, kerja pemberdayaan tidak diadili oleh tabel dan grafik. Ia diadili oleh nurani—dan oleh Tuhan, yang mengetahui niat sebelum kerja, dan menimbang kerja sebelum kata-kata disusun.

 

Post a Comment

Previous Post Next Post