Pada mulanya, pendamping desa yang merupakan pendamping di Program P3MD di Kementerian Desa yang awalnya di gadang-gadang sebagai penyempurnaan dari program PNPM-MPd dibayangkan sebagai nurani kebijakan. Ia
hadir di desa bukan untuk mengajar dari atas mimbar, melainkan untuk belajar
bersama warga; bukan untuk membawa kebenaran dari pusat, tetapi untuk merawat
pengetahuan yang tumbuh dari bawah. Pendamping desa semestinya menjadi penanda
bahwa negara masih mau mendengar.
Namun dalam perjalanan waktu, posisi itu mengalami pergeseran yang
nyaris tak terasa, tetapi dampaknya dalam. Pendamping desa tidak lagi berdiri
sebagai penguat masyarakat, melainkan semakin sering tampil sebagai penjaga
narasi kekuasaan. Mereka sibuk memastikan program tampak berhasil, bahkan
ketika desa sendiri belum sepenuhnya memahami untuk apa program itu dijalankan.
Pertanyaan mendasarnya sederhana, tetapi kerap dihindari: apakah
pendamping desa masih bekerja untuk pemberdayaan, atau telah berubah menjadi
buzzer kebijakan—yang tugas utamanya bukan menemani proses, melainkan merapikan
citra?
Perubahan ini jarang terjadi secara kasar. Ia bekerja melalui mekanisme
yang halus: bahasa yang dilunakkan, kritik yang disaring, dan realitas desa
yang dipoles agar selaras dengan laporan. Pendamping desa perlahan lebih
terlatih menghafal jargon daripada membaca konteks, lebih piawai menyusun
narasi keberhasilan daripada mengurai persoalan. Di titik ini, desa bukan lagi
subjek, melainkan latar.
Kondisi tersebut semakin diperparah oleh persoalan internal yang jarang
diakui secara terbuka: minimnya kapasitas pendamping, terbatasnya dan
seringkali dangkalnya peningkatan kapasitas, serta mentalitas serba instan yang
kian menguat. Ketika pembelajaran disederhanakan menjadi bimbingan teknis
singkat dan target administratif, pendamping tidak disiapkan untuk berpikir,
melainkan untuk patuh.
Mental instan ini membuat pemberdayaan kehilangan makna dasarnya.
Proses panjang yang seharusnya membangun kesadaran digantikan oleh hasil cepat
yang bisa dipamerkan. Pendamping pun tergoda memainkan peran yang lebih mudah dan
aman: menjadi semacam tim sukses kebijakan, mengumpulkan “suara” legitimasi
bagi tuannya, dan memastikan desa tetap terlihat antusias di permukaan.
Dalam situasi seperti itu, keberpihakan menjadi kabur. Pendamping tidak
lagi bertanya apa yang benar-benar dibutuhkan desa, melainkan apa yang harus
disampaikan agar kebijakan terlihat diterima. Loyalitas pada struktur
mengalahkan tanggung jawab etik pada masyarakat. Pemberdayaan direduksi menjadi
kegiatan, bukan perubahan.
Relasi kuasa pun semakin telanjang ketika kritik diperlakukan sebagai
gangguan. Pendamping yang mencoba jujur membaca lapangan sering kali dianggap
tidak adaptif, kurang positif, atau tidak sejalan. Maka yang bertahan bukan
yang paling memahami desa, melainkan yang paling pandai menyesuaikan diri.
Dalam iklim seperti ini, diam menjadi strategi bertahan hidup.
Di ruang digital, gejala ini menemukan panggungnya. Ada pendamping yang
lebih lantang membela figur dan kebijakan kementerian daripada
mendokumentasikan kegelisahan warga. Narasi dibangun seragam, penuh slogan, dan
minim keraguan. Desa tampil sebagai etalase keberhasilan, sementara
problematika yang riil disimpan rapi di balik layar.
Namun adil jika dikatakan bahwa persoalan ini tidak sepenuhnya lahir
dari individu pendamping. Sistemlah yang membentuk mereka demikian. beban kerja yang berlapis, kontrak yang rapuh, serta absennya
perlindungan bagi sikap kritis menjadikan pendamping berada dalam posisi serba
rawan. Dalam kondisi seperti ini, keberanian sering kali dibayar mahal.
Justru karena itu, menjaga marwah pendamping desa menjadi urusan serius
negara. Pendamping tidak boleh diposisikan sebagai alat legitimasi, melainkan
sebagai subjek pemberdayaan. Peningkatan kapasitas harus melatih nalar kritis,
etika sosial, dan keberanian berpihak—bukan sekadar kemampuan menyusun laporan
dan mengikuti arahan.
Desa tidak membutuhkan buzzer. Desa membutuhkan pendamping yang sanggup
berdiri di tengah: cukup dekat dengan negara untuk memahami kebijakan, tetapi
cukup berani bersama warga untuk mengatakan ketika kebijakan itu keliru.
Pembangunan desa yang berkelanjutan tidak lahir dari tepuk tangan, melainkan
dari kejujuran membaca keterbatasan.
Pada akhirnya, pendamping desa akan selalu dihadapkan pada pilihan
sunyi: berpihak pada kekuasaan yang sementara, atau setia pada masyarakat desa
yang hidupnya menanggung dampak kebijakan itu jauh lebih lama. Dari pilihan
itulah akan terlihat, apakah pendamping desa masih layak disebut pemberdaya,
atau hanya sekadar tim sukses yang berganti peran setiap periode.
Dan desa, seperti biasa, tidak pernah benar-benar bisa dibohongi. Ia
tahu siapa yang datang untuk mendampingi, dan siapa yang sekadar membawa suara.
Post a Comment