Pendampingan Bukan Sekadar Program, tapi Soal Cara Pandang



Suatu hari, di dua tempat yang berbeda, saya bertemu dua orang yang sama-sama sedang membicarakan sudut pandang. Mereka tidak saling mengenal, tidak pula bersepakat untuk membahas hal yang sama. Namun dari kegelisahan yang mereka sampaikan, saya justru menemukan satu benang merah yang penting untuk direnungkan, terutama dalam konteks pendampingan masyarakat.

 

Orang pertama saya temui dalam sebuah obrolan yang awalnya ringan. Ia menyayangkan sudut pandang sebagian ibu-ibu muda tentang susu bayi. Banyak yang meyakini bahwa susu bayi dengan harga mahal sudah pasti lebih baik. Padahal, jika dibaca lebih jujur, kandungan gizinya sering kali tidak jauh berbeda dengan susu bayi yang harganya lebih terjangkau. Yang mahal ternyata bukan selalu isinya, melainkan mereknya. Bayi, atau anak kita, sejatinya tidak tumbuh dari label, tetapi dari apa yang benar-benar ia konsumsi. Namun sudut pandang yang dibentuk oleh iklan dan gengsi sosial membuat banyak orang merasa lebih aman membayar mahal, meski tidak sepenuhnya memahami kebutuhannya.

 

Di tempat lain, orang kedua berbicara dengan kegelisahan yang berbeda, tetapi berakar pada masalah yang sama. Ia menyayangkan banyak orang Lampung asli yang tidak lagi mengajarkan anak-anaknya bertutur dan berkomunikasi dalam bahasa Lampung. Bahkan, tidak sedikit yang jelas-jelas orang Lampung, tetapi ketika diajak berbahasa Lampung justru menjawab dengan bahasa Indonesia. Seolah bahasa ibu sendiri terasa asing. Padahal, bahasa bukan hanya identitas, melainkan media untuk memahami kearifan lokal—pengetahuan hidup yang membuat sebuah masyarakat mampu beradaptasi, hidup, dan bertahan di wilayahnya sendiri. Ketika bahasa ditinggalkan, yang perlahan menghilang bukan hanya kosakata, tetapi cara pandang terhadap kehidupan.

 

Dua cerita ini, meski berasal dari konteks yang berbeda, bertemu pada satu persoalan mendasar: sudut pandang. Cara manusia memandang sesuatu akan menentukan apa yang ia nilai penting, apa yang ia rawat, dan apa yang ia anggap sepele. Dalam pendampingan masyarakat, hal inilah yang kerap luput disentuh. Kita terlalu sibuk dengan program, target, dan laporan, tetapi lupa bahwa semua itu akan dijalankan oleh manusia dengan sudut pandang tertentu.

 

Padahal, sudut pandang adalah kompas. Ia yang menentukan arah sebelum langkah diambil. Pendampingan yang hanya memindahkan pengetahuan atau bantuan, tanpa menyentuh cara pandang, sering kali berhenti di permukaan. Program boleh selesai, anggaran boleh terserap, tetapi perubahan tidak sungguh-sungguh terjadi.

 

Pendampingan sejatinya bukan soal seberapa banyak yang diberikan, melainkan sejauh mana cara pandang diluruskan. Sebab manusia lebih sering salah melangkah bukan karena kekurangan bekal, tetapi karena kompas batinnya melenceng. Ketika sudut pandang keliru, yang tampak bernilai sering kali hanya bungkusnya, sementara makna dan amanah justru terabaikan. Maka meluruskan cara pandang adalah kerja paling sunyi sekaligus paling menentukan, karena dari sanalah langkah yang benar, dan perubahan yang diridai, menemukan arahnya.

 

Post a Comment

أحدث أقدم