Di banyak lembaga
pendamping masyarakat, pemandangan ini terlalu sering terjadi: orang yang
jujur, idealis, dan kompeten berdiri di pinggir arena, sementara mereka yang
pandai menjaga citra dan menyesuaikan diri dengan selera pimpinan menguasai
panggung. Kompetensi dan kejujuran bukan dianggap salah, tetapi sistem dan
budaya politik praktis membuatnya “tidak nyaman” berada di tengah.
Pendampingan masyarakat,
yang seharusnya menjadi ruang menumbuhkan perubahan dari akar, kerap berubah menjadi
panggung politik halus. Laporan kegiatan, foto kegiatan, dan narasi yang
menyenangkan atasan kadang lebih dihargai daripada hasil nyata di lapangan.
Budaya memilih aman daripada benar, menilai loyalitas lebih tinggi daripada
integritas, dan mempromosikan kedekatan daripada kemampuan, membuat orang jujur
dan kompeten perlahan tersingkir, seolah tak terlihat oleh sistem.
Orang jujur di masyarakat
bukan hanya kompeten, tetapi juga berani berkata apa adanya. Mereka memahami
akar masalah, tahu langkah kecil yang bisa mengubah kehidupan, dan siap
memimpin. Namun jika lembaga pendamping gagal menempatkan mereka di tengah arena,
perubahan hanya akan berhenti sebagai retorika, bukan nyata.
Pendamping sejati bukan
narasumber tunggal yang tampil paling tahu. Mereka adalah fasilitator yang
membuka ruang, menjaga proses, dan memastikan keberlanjutan. Mereka yang pandai
menyemir citra organisasi boleh saja terlihat gemilang di laporan, tetapi
masyarakat tidak membutuhkan itu. Masyarakat butuh pendamping yang berpihak
pada kompetensi dan kejujuran, yang menempatkan orang benar-benar berintegritas
sebagai pemimpin perubahan.
Politik praktis boleh
membungkam, budaya aman boleh meminggirkan, tetapi keberanian untuk memihak
kejujuran dan kompetensi tetap menjadi titik di mana perubahan lahir. Jika
pendampingan kembali menempatkan orang jujur di tengah arena, suara masyarakat
terdengar, keputusan bijak lahir, dan perubahan mulai berjalan, perlahan tapi
pasti.
إرسال تعليق