Saya Diam, Agar Suara Desa Tetap Hidup

  


Saya belajar satu hal sejak lama mendampingi desa:

masalah hidup tidak pernah menunggu program datang.

 

Ia muncul bersama musim yang berubah, harga panen yang jatuh tanpa pamit, jalan rusak yang tak sempat difoto, dan perselisihan kecil yang selesai tanpa rapat. Saya datang belakangan, membawa nama program, membawa modul, membawa istilah-istilah yang terdengar rapi. Sementara desa, diam-diam, sudah lebih dulu bekerja.

 

Saya menyaksikan sendiri bagaimana masyarakat tidak bertanya pada proposal untuk bertahan. Mereka bertanya pada pengalaman. Pada kebiasaan. Pada ingatan kolektif yang diwariskan tanpa catatan resmi. Cara-cara itu mungkin tidak tertulis, tetapi telah diuji oleh waktu. Maka ketika program datang, desa tidak menolak. Mereka hanya berhati-hati.

 

Setiap desa memiliki cara berpikir dan cara bekerja sendiri. Apa yang berhasil di satu tempat, belum tentu hidup di tempat lain. Namun dalam banyak pendampingan—baik program pemerintah, NGO, maupun CSR—saya melihat pengalaman lokal sering dipaksa menyesuaikan diri dengan bahasa luar. Bukan karena desa tidak tahu apa-apa, tetapi karena laporan membutuhkan kepastian, sementara hidup jarang berjalan serapi indikator.

 

Saya mulai gelisah ketika melihat desa menunjukkan hasil, tetapi yang dicatat justru keberhasilan program. Laporan tersusun rapi, grafik naik, istilah teknis berjejer. Sementara cerita masyarakat dipersempit menjadi kata “partisipasi”, seolah mereka hanya ikut, bukan pelaku utama perubahan.

 

Di situlah saya menyadari: banyak pengalaman baik di desa tidak pernah ditulis. Tidak dicatat. Tidak diarsipkan. Lalu perlahan hilang. Padahal pengalaman itu lahir dari kerja bersama masyarakat. Ketika pengalaman baik tidak dituliskan, makna keberdayaan ikut kabur. Desa terlihat berhasil, tetapi tidak pernah benar-benar diakui cerdas dan berdaulat. Yang tampak kuat adalah programnya, bukan manusianya.

 

Lebih jauh lagi, tidak menuliskan pengalaman baik berarti memutus desa dari akar budayanya sendiri. Pengetahuan lokal yang lahir dari adat, kebiasaan, dan nilai hidup tergeser oleh bahasa program. Masyarakat dipaksa menyesuaikan diri dengan istilah luar, sementara cara hidup mereka sendiri tidak pernah diangkat sebagai sumber pengetahuan.

 

Padahal, mencatat pengalaman baik berarti ikut melestarikan dan menguatkan budaya masyarakat. Catatan itu menjadi bekal bagi generasi yang akan datang. Dari sana, anak-anak desa kelak tahu bahwa leluhur mereka pernah berpikir, pernah memilih, dan pernah bertahan dengan caranya sendiri. Desa tidak hanya mewariskan tanah dan bangunan, tetapi juga hikmah dan kebijaksanaan hidup.

 

Saya memahami, salah satu sebab minimnya pencatatan adalah kebiasaan menulis yang masih rendah. Pendamping sibuk mengejar laporan, masyarakat merasa apa yang mereka lakukan hanyalah hal biasa. Namun justru di situlah peran pendamping seharusnya hadir. Bukan hanya menjalankan kegiatan, tetapi membantu masyarakat menyadari bahwa pengalaman mereka bernilai dan layak dicatat.

 

Karena ketika cerita desa tidak ditulis oleh masyarakatnya sendiri, ia akan ditulis oleh pihak yang lebih kuat. Keberhasilan warga berubah wajah menjadi keberhasilan proyek. Desa kembali menjadi pelengkap dalam cerita pembangunan. Dan saya tidak ingin menjadi bagian dari pengaburan itu.

 

Bagi saya, pendamping bukan hanya pelaksana program. Ia penjaga cerita. Ia saksi. Ia pengingat bahwa keberdayaan tidak boleh dirampas oleh bahasa laporan.

 

Saya mulai percaya, menulis adalah kerja paling sunyi dalam pendampingan. Ia bermula dari catatan-catatan kecil yang jujur. Dari situlah pikiran dirapikan, pengalaman diberi makna, lalu tumbuh menjadi narasi. Dari narasi itu, kisah desa bisa menjelma apa saja: artikel reflektif, monolog, puisi, atau bahkan video. Ia bisa hidup di media sosial, koran, atau ruang-ruang publik lain.

 

Bukan untuk mengejar nama.

Bukan untuk sorak.

 

Melainkan sebagai amanah.

 

Agar pengalaman baik masyarakat tidak menguap bersama waktu, tidak dipindahkan ke tangan yang lebih berkuasa, dan tidak dicabut dari akarnya. Sebab setiap pengalaman desa yang ditulis dengan jujur adalah kesaksian: bahwa masyarakat pernah bekerja, pernah bertahan, dan pernah memuliakan hidup dengan caranya sendiri—di hadapan sesama, dan di hadapan Tuhan.

 

Dan di titik itulah, saya memilih diam.

Bukan karena tidak tahu, 

tetapi karena sedang belajar mendengar—agar suara desa tetap hidup.

 

Post a Comment

أحدث أقدم