Saya, yang Sedang Belajar




Saya tidak menulis untuk dikenang. Tulisan ini lahir dari kebutuhan untuk memahami diri sendiri—tentang bagaimana saya berjalan di tengah hidup yang kerap riuh, tanpa selalu tahu ke mana arah pasti. Bagi saya, hidup bukan perlombaan untuk tiba lebih dulu, melainkan proses panjang agar tidak kehilangan niat di setiap langkah.

 

Sejak awal, kegelisahan menjadi guru pertama saya. Ia hadir melalui pertanyaan-pertanyaan sederhana yang sering dihindari: mengapa kebenaran mudah dikalahkan oleh kebisingan, mengapa kejujuran terasa mahal, dan mengapa iman kerap berhenti sebagai simbol, bukan laku. Dari kegelisahan itulah saya belajar bahwa berpikir adalah bagian dari ibadah, dan menulis adalah cara bertanggung jawab kepada batin sendiri.

 

Saya menyadari, saya bukan siapa-siapa. Saya tidak lahir sebagai tokoh, juga tidak bercita-cita menjadi pusat perhatian. Saya hanyalah manusia biasa yang terlalu sering bercakap dengan dirinya sendiri. Namun justru dalam percakapan sunyi itulah saya menemukan bahwa suara hati jauh lebih jujur daripada sorak sorai. Zaman sering berisik, tetapi tidak selalu benar; sebab itu, saya memilih belajar mendengar nurani, meski pelan dan kerap menyakitkan.

 

Tulisan-tulisan saya tidak dimaksudkan untuk menggurui. Ia lebih menyerupai pengingat—terutama bagi diri saya sendiri. Bahwa hidup terlalu singkat jika dihabiskan mengejar pengakuan, tetapi terlalu berharga jika dijalani tanpa arah. Saya menulis dengan kalimat yang sederhana, bahkan pendek, seolah takut berlebihan. Sebab ada hal-hal yang justru kehilangan makna ketika dijelaskan terlalu lantang.

 

Dalam perjalanan ini, saya semakin percaya bahwa iman tidak selalu tumbuh di mimbar, tetapi sering bersembunyi dalam sikap sehari-hari. Dalam kemampuan menahan diri ketika bisa membalas, dalam keberanian diam ketika bisa berbicara, dan dalam kesediaan kalah agar nilai tidak ikut tumbang. Bagi saya, sujud bukan semata gerak tubuh, melainkan latihan untuk menundukkan ego.

 

Di dunia yang gemar memamerkan pencapaian, saya belajar merapikan niat. Saya menyadari bahwa sebesar apa pun karya, jika tidak lahir dari ketulusan, hanya akan menjadi jejak yang cepat dihapus waktu. Karena itu, saya berusaha menulis seperti orang berwudhu: pelan, hati-hati, dan penuh kesadaran, agar yang tertinggal bukan sekadar kata, melainkan nilai.

 

Esai ini juga bukan pengakuan tentang kesempurnaan. Saya penuh ragu, penuh salah, dan sering terlambat memahami banyak hal. Namun justru dari keterbatasan itulah proses belajar bermula. Saya tidak mengaku telah sampai, hanya mengakui bahwa saya sedang berjalan—dan terus belajar agar langkah ini tidak kehilangan arah.

 

Jika suatu hari nama saya tak lagi disebut, itu bukan persoalan. Selama nilai yang pernah saya titipkan menemukan rumah di hati orang lain, itu sudah cukup. Sebab bagi saya, hidup bukan tentang dikenang, melainkan tentang meninggalkan arah—agar siapa pun yang lelah, tahu ke mana harus pulang.

 

Post a Comment

أحدث أقدم