Kita ini
makhluk yang gemar merasa selesai.
Satu tombol
ditekan, air berputar, lalu hilang dari pandangan.
Kita pun
merasa bersih.
Padahal yang
hilang dari mata tidak pernah benar-benar hilang dari bumi.
Di balik
dinding rumah, ada dua aliran yang setiap hari kita lepaskan tanpa banyak
renungan. Yang satu hitam. Yang lain abu-abu. Keduanya lahir dari kehidupan
kita sendiri—dari tubuh, dari sabun, dari dapur, dari rutinitas yang kita sebut
biasa.
Air limbah
hitam datang dari ruang paling pribadi: toilet. Ia membawa sisa metabolisme,
membawa mikroba yang tak terlihat, membawa beban biologis yang tinggi. Ia bukan
sekadar kotor; ia sarat kehidupan mikroskopis yang bisa berubah menjadi ancaman
bila dibiarkan lepas tanpa kendali. Karena itu ia menuntut ruang
pengolahan—tangki septik yang kedap, sistem yang tertib—agar tidak menjelma
menjadi jalan sunyi bagi penyakit.
Air limbah
abu-abu lebih lembut namanya. Ia berasal dari mandi, mencuci, dan dapur. Ia
membawa sabun, deterjen, minyak, dan sisa makanan. Patogennya lebih rendah,
pengolahannya lebih mudah. Bahkan ia masih bisa diberi kesempatan
kedua—disaring, dimanfaatkan kembali untuk menyiram tanaman atau kebutuhan lain
yang tak bersentuhan langsung dengan konsumsi.
Namun sering
kali, kita tidak membedakan dengan sungguh-sungguh. Kita lepaskan keduanya ke
selokan. Kita percayakan semuanya pada aliran. Seolah sungai adalah ruang tak
terbatas yang sanggup memaafkan apa saja.
Di titik
itulah, dua istilah ilmiah diam-diam berbicara: BOD dan COD.
BOD adalah
ukuran berapa banyak oksigen yang dibutuhkan makhluk-makhluk kecil di dalam air
untuk mengurai beban organik yang kita buang. COD adalah ukuran keseluruhan
kebutuhan oksigen untuk mengoksidasi seluruh zat organik itu—bahkan yang tak mampu
diurai secara biologis.
Keduanya
adalah angka.
Tetapi
sesungguhnya, keduanya adalah tanda.
Jika BOD dan
COD meningkat, itu berarti sungai sedang bekerja terlalu keras. Mikroorganisme
menghabiskan oksigen untuk membersihkan apa yang kita titipkan. Oksigen
terlarut berkurang. Ikan kehilangan napasnya. Air kehilangan kesegarannya. Bau
mulai naik ke permukaan sebagai pesan yang tak lagi bisa disembunyikan.
Kita mungkin
tidak melihatnya hari ini. Tetapi air selalu mengingat. Ia menguap, menjadi
awan, turun sebagai hujan, meresap menjadi air tanah, lalu kembali ke sumur
kita. Siklus itu tidak pernah putus. Ia membawa kembali apa yang pernah kita
lepaskan.
Maka ketika
kita berbicara tentang pembangunan, tentang kemajuan, tentang kota yang tumbuh
dan rumah yang bertambah, barangkali yang perlu kita tanyakan lebih dulu
adalah: bagaimana kita memperlakukan air setelah ia menyentuh tubuh dan tangan
kita?
Karena
peradaban bukan hanya tentang apa yang kita bangun di atas tanah, melainkan
tentang apa yang kita alirkan di bawahnya.
Antara hitam
dan abu-abu, kita sedang diuji bukan oleh warna, melainkan oleh kesadaran.
Apakah kita rela sungai menanggung kelelahan yang seharusnya kita tangani di
rumah? Apakah kita ingin anak-anak mewarisi air yang kehilangan oksigennya?
Air tidak
pernah berteriak. Ia hanya pelan-pelan kehilangan napas.
Dan mungkin,
yang sesungguhnya sedang diuji bukanlah kualitas air semata, melainkan kualitas
nurani kita—seberapa jauh kita mau bertanggung jawab atas sesuatu yang tak lagi
kita lihat, tetapi selalu kembali kepada kita.
إرسال تعليق