Dari Lumpur, Kita Belajar



Kabupaten Lampung Selatan tahun 2026 sedang belajar satu hal penting: membangun peradaban dari sesuatu yang selama ini kita sembunyikan. Kita terbiasa memamerkan yang tampak—jalan mulus, gedung megah, taman tertata. Namun jarang sekali kita berbicara tentang lumpur tinja, sesuatu yang tidak fotogenik, tidak layak jadi baliho, tetapi justru menentukan derajat kesehatan dan martabat sebuah daerah.

 

Melalui pendampingan implementasi Layanan Lumpur Tinja Terjadwal (LLTT), pemerintah daerah bersama Balai Penataan Bangunan, Prasarana dan Kawasan Lampung mengambil langkah yang mungkin tidak populer, tetapi sangat mendasar. LLTT bukan sekadar program teknis penyedotan septic tank. Ia adalah sistem yang memastikan lumpur tinja dikelola secara terjadwal, terdata, dan diolah hingga tuntas di Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT). Tidak lagi menunggu penuh dan meluap. Tidak lagi membuang sembarangan. Tidak lagi membiarkan yang kotor meresap pelan-pelan mencemari tanah dan air yang kita minum.

 

Kita sering lupa, sanitasi adalah fondasi sunyi dari kesehatan publik. Anak-anak yang tumbuh tanpa diare berulang, air tanah yang tidak tercemar, lingkungan yang tidak berbau—semuanya bermula dari tata kelola yang benar atas limbah domestik. Inilah mengapa LLTT tidak bisa dipandang sebagai proyek administratif tahunan. Ia terhubung dengan arah besar pembangunan nasional dan komitmen global terhadap akses sanitasi aman. Tetapi lebih dari itu, ia menyentuh kesadaran sosial paling dasar: apakah kita mau bertanggung jawab atas sisa kehidupan yang kita hasilkan sendiri?

 

Di sinilah komunikasi menjadi kunci. Banyak program baik gagal bukan karena desainnya keliru, melainkan karena pesannya tidak sampai. Regulasi bisa lengkap, SOP bisa rapi, anggaran bisa tersedia. Namun tanpa pemahaman dan partisipasi masyarakat, semua itu hanya akan tinggal di atas kertas. Pendampingan komunikasi dan sosial dalam implementasi LLTT hadir untuk menjembatani jarak antara kebijakan dan kesadaran.

 

Pekerjaan ini bukan sekadar membuat leaflet atau infografis. Ia dimulai dari menyusun rencana kerja, memetakan pemangku kepentingan, membaca kondisi sosial masyarakat, hingga merumuskan strategi komunikasi yang sesuai dengan karakter lokal. Ia hadir dalam kick-off meeting yang menyamakan persepsi, dalam technical meeting yang membedah kesiapan teknis, dalam FGD yang mempertemukan regulator, operator, dan masyarakat untuk berbicara terbuka tentang tarif, SOP, pola operasi, hingga penguatan kelembagaan.

 

Sensus terhadap 100 kepala keluarga bukan sekadar angka statistik. Ia adalah upaya memahami perilaku. Pemetaan calon pelanggan bukan hanya daftar nama, tetapi fondasi database yang akan menentukan keberlanjutan layanan. Penyusunan infografis bukan sekadar desain visual, melainkan alat untuk membuat sistem yang rumit menjadi mudah dipahami. Video dokumentasi IPLT bukan hanya arsip, tetapi sarana advokasi agar publik melihat bahwa pengolahan lumpur tinja adalah proses yang serius dan profesional.

 

Semua tahapan—dari penilaian mandiri awal, diskusi teknis, konsinyasi, advokasi kepada pimpinan daerah, hingga uji coba dan penilaian akhir—dirancang untuk memastikan LLTT tidak berhenti pada seremoni launching. Kita tidak ingin hanya memulai; kita ingin memastikan sistem berjalan. Monitoring dan evaluasi menjadi cara untuk bercermin: apakah strategi komunikasi efektif? Apakah masyarakat mulai memahami manfaat penyedotan terjadwal? Apakah kelembagaan semakin kuat? Apakah regulasi semakin jelas?

 

Keberhasilan LLTT pada akhirnya sangat ditentukan oleh komitmen kepemimpinan. Audiensi dan launching bukan sekadar acara formal, melainkan pernyataan bahwa sanitasi aman adalah prioritas. Dari komitmen itu bisa lahir penguatan kebijakan, kepastian pembiayaan, dan konsistensi tata kelola. Tanpa dukungan tersebut, LLTT berisiko menjadi proyek percobaan yang indah di laporan, tetapi lemah di lapangan.

 

Sanitasi bukan hanya urusan teknis. Ia adalah etika sosial. Cara kita mengelola limbah mencerminkan cara kita menghargai kehidupan bersama. Lumpur tinja yang dikelola dengan benar memang tidak terlihat, tetapi dampaknya terasa: kesehatan membaik, lingkungan terjaga, biaya pengobatan berkurang, kualitas hidup meningkat. Ia bekerja dalam diam, tetapi hasilnya nyata.

 

Dari lumpur, kita belajar tentang tanggung jawab. Bahwa pembangunan yang bermartabat tidak hanya sibuk mempercantik yang tampak, tetapi juga berani mengurus yang tersembunyi. Bahwa kemajuan bukan sekadar gedung tinggi, tetapi sistem yang tertata hingga ke urusan paling dasar. Bahwa peradaban diukur bukan dari seberapa megah kota kita, melainkan seberapa serius kita menjaga kebersihan dan kesehatan warganya.

 

Kabupaten Lampung Selatan memiliki peluang untuk menunjukkan bahwa sanitasi aman bisa dibangun secara sistematis, partisipatif, dan berkelanjutan. Dengan strategi komunikasi yang terarah, dengan koordinasi lintas sektor, dengan penguatan kelembagaan dan regulasi, LLTT bukan sekadar program—ia adalah langkah menuju budaya baru.

 

Sebab pada akhirnya, yang kotor bukan untuk disangkal, tetapi untuk dikelola. Dan dari sesuatu yang sering kita anggap remeh, kita justru belajar tentang keberadaban.

Post a Comment

Previous Post Next Post