Ada hal-hal yang menopang hidup kita, tetapi justru paling sering kita
hindari untuk dibicarakan. Ia bekerja dalam diam, tersembunyi, dan baru
disadari ketika masalah datang. Salah satunya adalah sanitasi—khususnya urusan
tinja. Kita bisa dengan mudah berbincang tentang kesehatan, lingkungan bersih,
dan pembangunan berkelanjutan, namun ketika pembicaraan menyentuh lumpur tinja,
banyak orang spontan merasa jijik, tidak sopan, lalu memilih diam. Padahal,
dari sanalah banyak persoalan kesehatan dan kerusakan lingkungan bermula.
Layanan Lumpur Tinja Terjadwal hadir sebagai kerja sunyi yang kerap luput
dari perhatian, tetapi dampaknya sangat nyata. Ia bukan sekadar urusan sedot
WC, melainkan sistem pencegahan yang menjaga agar tinja tidak mencemari tanah
dan sumber air. Ketika tangki septik disedot secara berkala dan lumpur tinja
diolah dengan benar, rantai penularan penyakit berbasis lingkungan dapat
diputus sebelum menyebar. Diare, tifus, hingga infeksi saluran pencernaan
sering kali bukan datang tiba-tiba, melainkan hasil dari pengelolaan sanitasi
yang diabaikan bertahun-tahun. LLTT bekerja jauh sebelum itu terjadi, menjaga
yang kotor tetap di tempatnya dan yang bersih tetap layak dikonsumsi.
Di titik ini, banyak orang masih menyamakan antara tangki septik dan
“septitank”, seolah keduanya adalah hal yang sama. Padahal ada perbedaan
mendasar yang sering luput dipahami. Tangki septik yang benar dirancang untuk dua ruang yang kedap air tanpa ada kebocoran atau air limbahnya meresap ke tanah. Sementara itu, banyak “septitank” di masyarakat dibuat
seadanya—sekadar lubang penampung tanpa sistem pengolahan yang memadai. Akibatnya,
bakteri berbahaya seperti Escherichia coli, Salmonella, dan Shigella dapat
dengan mudah meresap ke air tanah dan mencemari sumur warga. Bakteri inilah
yang kerap menjadi penyebab utama diare berulang, terutama pada balita.
Sayangnya, pemahaman yang berkembang di masyarakat sering kali justru
keliru. Masih banyak anggapan bahwa tangki septik tidak perlu disedot selama
belum penuh, bahkan meskipun sudah digunakan puluhan tahun. Selama WC masih
bisa dipakai dan tidak meluap, dianggap tidak ada masalah. Padahal lumpur tinja
bekerja secara senyap. Ia bisa bocor, meresap, dan membawa bakteri patogen ke
sumber air tanpa gejala yang kasat mata. Secara ideal, tangki septik seharusnya
disedot secara berkala setiap tiga hingga lima tahun, bukan menunggu penuh atau
menunggu rusak. Prinsipnya bukan reaktif, melainkan preventif.
Diare yang berulang akibat air minum tercemar sering dianggap penyakit biasa.
Namun bagi anak-anak, kondisi ini bisa berdampak jauh lebih serius. Infeksi
pencernaan yang terjadi terus-menerus dapat mengganggu penyerapan gizi dan
berkontribusi pada stunting—sebuah kondisi gagal tumbuh yang tidak hanya
memengaruhi tinggi badan, tetapi juga perkembangan kognitif dan masa depan
generasi. Di sinilah sanitasi menjadi persoalan jangka panjang, bukan sekadar
urusan hari ini.
Namun persoalan terbesar bukan semata pada sistem, melainkan pada cara
kita memandangnya. Di banyak komunitas, pembicaraan tentang tinja masih
terkurung oleh budaya tabu. Ia dianggap tidak pantas dibawa ke ruang publik.
Akibatnya, pemahaman warga tentang fungsi tangki septik, waktu penyedotan, dan
risiko pencemaran menjadi sangat terbatas. Selama masalah belum terlihat, semua
dianggap baik-baik saja. Padahal pencemaran sering bergerak perlahan, tanpa bau
dan tanpa tanda, hingga suatu hari dampaknya terasa luas.
Karena itu, meyakinkan masyarakat tidak bisa dilakukan dengan pendekatan
teknis semata. Yang dibutuhkan adalah perubahan sudut pandang. Bukan dengan
menakut-nakuti, melainkan dengan mengaitkan sanitasi pada hal-hal yang dekat
dengan kehidupan sehari-hari: kesehatan anak, keamanan air minum, serta masa
depan generasi. Cerita nyata tentang lingkungan yang membaik atau keluarga yang
terhindar dari penyakit sering kali lebih menyentuh daripada angka dan grafik.
Layanan Lumpur Tinja Terjadwal perlu dihadirkan sebagai layanan yang
melindungi, bukan sebagai kewajiban yang menambah beban.
Upaya ini juga tidak mungkin berjalan jika hanya dibebankan pada satu
pihak. Sanitasi adalah urusan bersama. Pemerintah daerah memegang peran
penting, tetapi dukungan tokoh masyarakat, tenaga kesehatan, pendamping sosial,
media lokal, hingga lembaga keagamaan akan sangat menentukan keberhasilan.
Ketika pesan disampaikan oleh figur yang dipercaya warga, resistensi akan jauh
berkurang. Dunia usaha dan sektor swasta pun memiliki ruang untuk terlibat,
karena lingkungan yang sehat bukan hanya menguntungkan warga, tetapi juga
menciptakan ruang hidup dan aktivitas ekonomi yang berkelanjutan.
Tulisan ini bukan untuk menyederhanakan persoalan atau menyalahkan siapa
pun, melainkan untuk mengajak melihat sanitasi sebagai urusan martabat manusia
yang selama ini terlalu lama disembunyikan. Pada akhirnya, Layanan Lumpur Tinja
Terjadwal mengingatkan kita bahwa tidak semua hal penting selalu nyaman untuk
dibicarakan. Menjaga lumpur tinja berarti menjaga air, tanah, dan kesehatan
manusia. Ia mungkin tidak pernah menjadi topik favorit, tetapi tanpanya, kesehatan
dan lingkungan hanya akan tinggal sebagai slogan. Dan barangkali, kemajuan
sebuah masyarakat justru dapat diukur dari caranya merawat hal-hal yang paling
ingin ia tutupi.
Post a Comment