Sabtu, 11 Juli 2026, saya mendapat kehormatan menjadi bagian
dari panitia resepsi ngunduh mantu pernikahan Ari Prandesta Bin Anwar Rudi Irawan dengan Qarina
Zuliusman Binti Zuliusman. Alhamdulillah, seluruh rangkaian acara berlangsung lancar dan penuh
khidmat. Sebagai panitia, saya tentu merasa lega sekaligus bersyukur.
Berbulan-bulan persiapan akhirnya terbayar dengan sebuah acara yang berjalan
baik. Namun, ada satu momen yang justru terus mengikuti saya hingga saya
menyempatkan menggoreskannya disini.
Momen itu bukan ketika kedua mempelai bersanding di
pelaminan. Bukan pula ketika tamu memenuhi ruang resepsi. Hati saya justru
tersentuh saat keluarga Ari tetap melaksanakan prosesi adat; mosok atau
sesuapan hingga pemberian juluk (adok) kepada kedua mempelai. Yang mengharukan
bagi saya bukanlah juluk yang diberikan kepada Ari dan Qarina, melainkan
kenyataan bahwa di tengah derasnya arus modernitas, adat masih diberi tempat
yang terhormat. Di saat banyak prosesi adat mulai dipersingkat, bahkan
ditinggalkan karena dianggap tidak lagi relevan, keluarga ini justru memilih
merawatnya.
Saya memang berasal dari Lampung Sai Batin, sedangkan
prosesi yang berlangsung adalah adat Pepadun, Abung Siwo Mego. Terus terang,
tidak semua petuah yang disampaikan petugas adat saya pahami. Mungkin saya
tidak sendiri. Bisa jadi banyak tamu yang hadir juga merasakan hal yang sama.
Bahasa adat perlahan menjadi bahasa yang semakin jarang terdengar. Kita masih
bangga mengaku orang Lampung, tetapi belum tentu akrab dengan bahasa dan makna
adat yang diwariskan leluhur.
Lalu tibalah satu bagian yang membuat saya tersenyum
sekaligus merenung. Ketika petugas adat berseru lantang,
"Suraaak...", hampir seluruh isi tarup spontan menjawab,
"Yeeeewww...". Keluarga mempelai perempuan, keluarga mempelai
laki-laki, panitia, hingga para tamu undangan menjawab serempak. Tidak ada yang
memberi aba-aba. Tidak ada yang memimpin latihan. Semuanya seolah tahu kapan
harus menjawab. Pemandangan sederhana itu justru menyimpan makna yang dalam.
Barangkali kami belum memahami seluruh petuah adat yang diucapkan, tetapi
ingatan kolektif tentang adat ternyata belum benar-benar hilang.
Saya kemudian berpikir, mungkin adat kita bukan sedang
ditinggalkan. Yang mulai hilang justru ruang untuk mempelajarinya. Kita
mewariskan prosesi, tetapi sering lupa menjelaskan maknanya. Kita mengenalkan
pakaian adat, tetapi jarang mengisahkan filosofi yang dikandungnya. Akibatnya,
generasi muda mengenal adat sebatas seremoni, bukan sebagai nilai yang
membentuk jati diri.
Saya pulang sore itu dengan keyakinan sederhana. Selama
masih ada keluarga yang bersedia melaksanakan adat, selama masih ada petugas
adat yang tetap menyampaikan petuah, dan selama masih ada orang-orang yang
spontan menjawab "Yeeeewww", harapan itu belum hilang. Tinggal satu
pekerjaan besar yang harus kita selesaikan bersama, yakni memastikan bahwa yang
kita wariskan kepada anak cucu bukan hanya seruan dan prosesi, melainkan juga
makna. Sebab, budaya tidak benar-benar hilang ketika ia berhenti dilaksanakan.
Budaya mulai hilang ketika ia masih dilaksanakan, tetapi tidak lagi dipahami.
Saat itulah, tanpa sadar, kita sedang kehilangan jalan pulang. Tabik
Post a Comment