Perlu saya tegaskan, tulisan ini bukan hendak menolak
apresiasi. Justru sebaliknya.
Saya percaya, mereka yang menjaga hidupnya nyambai, silek,
butetah adok, dan berbagai kesenian adat lainnya layak mendapatkan penghargaan.
Tidak sedikit waktu, tenaga, bahkan biaya yang mereka keluarkan untuk berlatih.
Mereka ikut menjaga agar warisan leluhur tidak hilang ditelan zaman.
Karena itu, tidak ada yang keliru apabila seorang penampil
yang membawakan pertunjukan dengan baik memperoleh apresiasi.
Tidak salah apabila pemilik hajat memberikan imbalan kepada
sanggar seni tempat bernaungnya para penampil sebagai bentuk penghormatan atas dedikasi
mereka.
Tidak salah pula apabila dalam sebuah festival budaya,
Bupati, pemerintah daerah, atau lembaga kebudayaan memberikan tali asih kepada
penampil terbaik. Bahkan, penghargaan seperti itu patut diperbanyak agar para
pelaku seni semakin bersemangat menjaga tradisi.
Semuanya adalah bentuk penghormatan.
Namun, ruang festival tidak sama dengan ruang adat.
Festival adalah panggung pertunjukan.
Di sana kreativitas, kualitas penampilan, dan prestasi
memang layak diapresiasi.
Sedangkan nayuh bukan festival.
Nayuh adalah ruang adat.
Di sanalah para leluhur seakan kembali hadir melalui setiap
gerak, setiap irama, setiap petuah, dan setiap tata cara yang diwariskan
turun-temurun.
Di sanalah semua tamu datang bukan sebagai penonton yang
membeli tiket, melainkan sebagai keluarga yang memenuhi undangan.
Mereka datang membawa doa.
Membawa kebahagiaan.
Membawa rasa hormat.
Karena itu, terasa kurang bijak apabila kebiasaan yang lazim
di panggung hiburan atau festival dibawa begitu saja ke dalam ruang adat yang
disakralkan.
Mungkin ada yang berkata, "Zaman sudah berubah. Adat
juga harus mengikuti perkembangan."
Saya sepakat.
Adat memang tidak boleh membeku.
Adat harus mampu berdialog dengan zaman.
Namun, mengikuti zaman tidak berarti kehilangan ruhnya.
Kalau setiap perubahan diterima hanya dengan alasan agar
tidak dianggap ketinggalan zaman, bukankah tanpa sadar kita sedang mengatakan
bahwa nilai-nilai adat yang diwariskan para leluhur sudah tidak lagi cukup
untuk dipertahankan?
Saya kira tidak demikian.
Justru karena adat memiliki nilai yang luhur, ia mampu
bertahan melewati pergantian zaman, pergantian generasi, bahkan pergantian
kekuasaan.
Yang mengikuti zaman adalah cara menyampaikan.
Bukan nilai yang disampaikan.
Ada pula yang berpendapat bahwa saweran dapat membantu para
pelaku seni. Atau mungkin menjadi kesempatan berbagi rezeki karena kondisi
ekonomi masyarakat memang belum sepenuhnya baik.
Niat itu tentu baik.
Tidak ada yang salah dengan keinginan membantu sesama.
Namun, saya meyakini bahwa adat berdiri jauh lebih tinggi
daripada sekadar persoalan materi.
Adat tidak pernah dibangun di atas hitungan rupiah.
Adat dibangun di atas penghormatan.
Jika pelaku seni membutuhkan dukungan, mari kita berikan
dengan cara yang lebih terhormat.
Jika sanggar membutuhkan biaya operasional, mari kita
pikirkan mekanisme yang lebih bermartabat.
Jika pemerintah ingin mendorong pelestarian budaya, mari
perbanyak ruang apresiasi, festival, pembinaan, dan penghargaan.
Tetapi jangan sampai tamu yang datang memenuhi undangan
justru merasa sedang berada dalam situasi yang membuatnya sungkan, apalagi
malu.
Sebab ketika rasa sungkan mulai mengalahkan rasa bahagia,
saat itulah kita perlu berhenti sejenak untuk bercermin.
Saya yakin, tidak ada pemilik hajat yang ingin tamunya
pulang dengan perasaan tidak nyaman.
Saya juga yakin, tidak ada pemangku adat yang ingin marwah
adat perlahan memudar.
Karena itu, mungkin sudah waktunya kita duduk bersama.
Para pemangku adat.
Para tokoh masyarakat.
Para seniman.
Para pemilik hajat.
Dan siapa pun yang mencintai adat.
Bukan untuk saling menyalahkan.
Bukan pula untuk menghapus kegembiraan dalam sebuah nayuh.
Melainkan untuk memastikan bahwa setiap pembaruan yang kita
lakukan tetap menjaga jiwa adat itu sendiri.
Sebab adat tidak pernah menolak perubahan.
Tetapi adat selalu mengajarkan kepantasan.
Saya kembali teringat percakapan dengan kakak saya di
perantauan.
Saya berharap, suatu hari nanti tidak ada lagi anak rantau
yang ragu memenuhi undangan karena khawatir isi dompetnya menjadi ukuran
penghormatan.
Saya berharap, mereka pulang hanya karena rindu.
Rindu kepada keluarga.
Rindu kepada kampung halaman.
Rindu kepada adat yang memeluk setiap orang tanpa membedakan
siapa yang kaya dan siapa yang sederhana.
Bukankah itu yang diwariskan para leluhur?
Bahwa kehormatan seseorang tidak pernah diukur dari seberapa
banyak uang yang ia keluarkan.
Melainkan dari seberapa tulus ia menghormati sesamanya.
Sebab adat bukan panggung dangdut.
Adat adalah rumah besar tempat setiap orang merasa
dimuliakan.
Dan selama rumah itu masih mampu membuat anak rantau ingin
pulang tanpa rasa khawatir, selama itu pula adat akan tetap hidup.
Bukan karena ramai.
Bukan karena banyak saweran.
Melainkan karena marwahnya tetap terjaga.
Itulah warisan yang sesungguhnya.
Dan warisan seperti itulah yang layak kita titipkan kepada
anak cucu kita kelak.
"Sebab yang seharusnya pulang dari sebuah nayuh adalah
rasa bahagia. Bukan rasa malu."
Post a Comment