Hari-hari ini Lampung patut
berbangga. Seratus persen siswa SMA Negeri 14 Bandar Lampung diterima di
Perguruan Tinggi Negeri. Dari Tegineneng Kabupaten Pesawaran Lampung, 172 dari 173 siswa SMA Negeri 1
Tegineneng juga berhasil lolos masuk PTN.
Kabar seperti ini menyenangkan. Di
tengah berita yang sering membuat kita mengernyitkan dahi, keberhasilan
anak-anak ini terasa seperti embun pagi. Menenangkan. Memberi harapan. Membuat
kita percaya bahwa pendidikan masih menjadi jalan untuk memperbaiki masa depan.
Tentu saja keberhasilan ini tidak
turun dari langit. Ada guru yang sabar membimbing. Ada orang tua yang menahan
banyak keinginan demi biaya sekolah anaknya. Ada anak-anak yang memilih belajar
ketika sebagian yang lain memilih menyerah pada keadaan.
Maka wajar jika keberhasilan ini dirayakan.
Tetapi entah mengapa, setiap kali
membaca kabar seperti ini, saya selalu teringat bahwa hidup tidak pernah
berhenti di pengumuman kelulusan.
Karena sering kali, setelah ucapan selamat selesai diucapkan, persoalan yang sesungguhnya baru dimulai.
Di negeri ini, kita memang sangat
pandai merayakan pintu masuk.
Kadang-kadang bahkan lebih ramai
daripada membicarakan isi bangunannya.
Kita bangga ketika anak-anak
diterima di perguruan tinggi. Kita membuat ucapan selamat. Kita memasang
spanduk. Kita membagikan kabar baik ke mana-mana.
Tetapi setelah itu, seolah semuanya
dianggap selesai.
Padahal bagi banyak keluarga, justru
saat itulah babak baru dimulai.
Babak menghitung.
Menghitung UKT.
Menghitung biaya kos.
Menghitung ongkos perjalanan.
Menghitung biaya makan.
Dan terkadang menghitung berapa
banyak harapan yang masih bisa ditopang oleh isi dompet.
Bagi keluarga yang berkecukupan,
mungkin ini tidak terlalu menjadi persoalan. Tetapi bagi banyak keluarga
lainnya, surat penerimaan mahasiswa baru bisa menjadi kabar bahagia yang datang
bersama kecemasan.
Anaknya diterima.
Tetapi biayanya belum tentu ikut
diterima.
Dari berbagai percakapan dengan
masyarakat di desa-desa, saya semakin sering mendengar cerita yang sama.
Sebagian keluarga yang dulu merasa cukup kini harus lebih berhitung. Sebagian
yang sebelumnya berada di lapisan menengah perlahan bergeser ke bawah. Bukan
karena mereka tidak bekerja keras, melainkan karena kehidupan hari ini memang
meminta ongkos yang semakin mahal.
Karena itu, tidak sedikit orang tua
yang merayakan kelulusan anaknya sambil diam-diam menyembunyikan kegelisahan.
Mereka tersenyum di depan keluarga.
Tetapi menghitung pengeluaran ketika
malam tiba.
Mereka mengucap syukur.
Tetapi dalam hati juga bertanya,
"Setelah ini bagaimana?"
Pertanyaan itu ternyata bukan tanpa
alasan.
Data Kementerian Pendidikan Tinggi
tahun 2025 mencatat sekitar 289 ribu mahasiswa di Indonesia mengalami putus
kuliah. Sebagian besar karena persoalan ekonomi dan ketidakmampuan membiayai
pendidikan.
Angka itu sering lewat begitu saja
di depan mata kita.
Padahal di baliknya ada ribuan mimpi
yang tidak sampai tujuan.
Ada anak-anak yang berhasil
menaklukkan soal ujian masuk perguruan tinggi, tetapi tidak berhasil
menaklukkan biaya hidup.
Mereka lulus seleksi.
Tetapi tidak lulus keadaan.
Di titik inilah saya merasa ada
sesuatu yang masih kurang dalam cara kita memandang pendidikan.
Kita sering merayakan jumlah siswa
yang diterima di perguruan tinggi. Tetapi jarang bertanya berapa banyak yang
akhirnya berhasil menyelesaikan kuliahnya.
Kita bangga pada angka yang masuk.
Tetapi tidak terlalu akrab dengan
angka yang gugur di tengah jalan.
Mungkin karena angka kelulusan lebih
enak dipajang di baliho.
Sedangkan kisah mahasiswa yang
berhenti kuliah karena biaya tidak cukup menarik untuk dijadikan slogan.
Mungkin saya yang kurang mengikuti
berita. Tetapi sampai hari ini saya belum pernah mendengar perbincangan yang
cukup serius dari gubernur, walikota, maupun para bupati tentang bagaimana
memastikan anak-anak hebat ini tetap bisa bertahan jika orang tuanya mengalami
kesulitan ekonomi di tengah perjalanan kuliah.
Padahal mereka adalah investasi
terbaik yang dimiliki daerah ini.
Mereka bukan sekadar angka dalam
laporan tahunan. Mereka adalah calon guru, dokter, insinyur, peneliti,
pengusaha, dan pemimpin yang kelak akan mengisi ruang-ruang penting di daerah
ini.
Ironisnya, persoalan tidak berhenti
di situ.
Setelah lulus nanti, mereka akan
menghadapi pintu berikutnya yang tidak kalah sempit: lapangan pekerjaan.
Data yang pernah dipublikasikan
menunjukkan sekitar 30 ribu lulusan perguruan tinggi lahir setiap tahun di
Lampung. Sementara daya serap tenaga kerja formal masih jauh dari jumlah
tersebut.
Artinya, setelah berjuang masuk
kampus dan berjuang menyelesaikan kuliah, sebagian dari mereka masih harus
berjuang lagi mencari ruang untuk berkarya.
Kadang saya berpikir, jangan-jangan
kita sedang terlalu fokus menyiapkan anak-anak untuk masuk ke ruang kuliah,
tetapi belum cukup serius menyiapkan ruang kehidupan setelah mereka lulus.
Padahal pendidikan dan lapangan
kerja seharusnya berjalan beriringan.
Yang satu menyiapkan manusia.
Yang satu lagi menyiapkan masa
depan.
Karena itu, keberhasilan pendidikan
tidak boleh berhenti pada angka kelulusan masuk PTN. Ia harus berlanjut pada
kemampuan menyelesaikan kuliah, memperoleh pekerjaan yang layak, dan hidup
dengan martabat yang baik.
Pemerintah daerah tentu tidak bisa
bekerja sendiri. Dunia usaha, kampus, organisasi sosial, dan komunitas perantau
juga perlu ikut mengambil peran. Jika anak-anak ini adalah masa depan Lampung,
maka menjaga mereka agar tidak berhenti di tengah jalan seharusnya menjadi
urusan bersama.
Sebab mereka tidak membutuhkan tepuk
tangan yang panjang.
Mereka membutuhkan kesempatan yang
panjang.
Mereka tidak membutuhkan ucapan
selamat yang meriah.
Mereka membutuhkan keyakinan bahwa
setelah berhasil menembus gerbang kampus, masih ada jalan yang bisa mereka
tempuh dengan wajar.
Karena sesungguhnya, tantangan
pendidikan hari ini mungkin bukan lagi bagaimana membuat anak-anak diterima di
perguruan tinggi.
Tantangan yang lebih besar adalah
memastikan mereka tidak tersingkir oleh keadaan.
Jangan sampai kita terlalu sibuk
merayakan mereka yang berhasil masuk.
Sementara mereka yang diam-diam gagal bertahan hanya menjadi angka kecil di catatan kaki laporan tahunan.
Sebab sejarah sering kali tidak diubah oleh mereka yang pandai membuat perayaan.
Melainkan oleh mereka yang
sungguh-sungguh menjaga harapan agar tidak padam di tengah perjalanan.
Post a Comment