Dari Kebun ke Kafe: Siapa yang Sebenarnya Menikmati Manisnya Kopi?

 



Siang ini rumah kami kedatangan tamu. Adek kelas istri bersama istrinya datang berkunjung setelah sekian lama bekerja di luar provinsi. Mereka tidak hanya membawa tubuh yang pulang sesaat ke Bandar Lampung, tetapi juga membawa cerita-cerita dari tanah rantau. Tentang pekerjaan, keluarga, dan kehidupan yang terus bergerak cepat di luar sana.

 

Mereka juga membawa oleh-oleh sederhana: sebungkus kopi bubuk untuk diseduh bersama. Bukan barang mahal. Tetapi justru dari hal-hal sederhana seperti itulah percakapan sering menemukan kehangatannya. Sebab kopi tidak pernah sekadar minuman. Ia adalah alasan untuk duduk lebih lama, mendengar lebih banyak, dan mengingat kembali hal-hal yang mulai terlupakan.

 

Saya lalu meminta anakku Aqil memasak air dan menyiapkan kopi untuk kami. Ketika cangkir-cangkir mulai terisi, pilihan pemanis pun berbeda. Saya memilih gula aren, sementara sang tamu memilih gula putih.

 

Sambil bercanda saya berkata, "Kalau pakai gula putih rasanya seperti sedang berada di alam penjajahan. Kalau pakai gula aren, serasa bernostalgia ke masa lalu ketika kearifan lokal masih dipegang teguh sebagai ajaran hidup."

 

kami tertawa. Namun seperti banyak candaan di meja kopi, selalu ada ruang kecil untuk berpikir di baliknya.

 

Secara ilmu pengetahuan, kopi mengandung kafein dan berbagai antioksidan yang membantu tubuh tetap waspada. Ketika dicampur gula putih, tubuh memperoleh energi yang cepat karena kandungan sukrosa yang mudah diserap. Sedangkan gula aren selain menghadirkan rasa manis juga masih menyimpan sejumlah mineral alami seperti kalium, magnesium, dan zat besi. Tidak banyak memang, tetapi cukup untuk mengingatkan bahwa alam sering kali menyimpan nilai yang tidak selalu dimiliki oleh sesuatu yang telah terlalu lama dimurnikan.

 

Obrolan pun mengalir ke masa lalu. Ke masa ketika secangkir kopi belum menjadi bagian dari gaya hidup, melainkan bagian dari kehidupan itu sendiri.

 

Dulu masyarakat menanam kopi dengan kesabaran yang panjang. Bibit ditanam di lereng-lereng perbukitan. Bertahun-tahun dirawat hingga berbuah. Buah yang merah dipetik satu per satu. Dijemur di halaman rumah. Dikupas kulitnya. Disangrai di atas tungku kayu bakar. Lalu ditumbuk atau digiling hingga menjadi bubuk yang harum.


Saya bercerita bahwa cita rasa kopi sebenarnya tidak hanya ditentukan oleh jenis kopinya. Cara memperlakukan kopi tersebut  ikut menentukan aroma yang akhirnya sampai ke cangkir. Ada kopi yang terasa pahit pekat. Ada yang sedikit asam. Ada yang meninggalkan aroma cokelat, rempah, bahkan buah-buahan.

 

Saat obrolan sedang asyik membahas proses panjang itu, Aqil yang sejak tadi mendengarkan tiba-tiba menyela.


"Kalau sekarang harga kopi di kampung berapa, Yah?"


Pertanyaan sederhana itu membuat kami terdiam sejenak.

Karena ternyata lebih mudah menjelaskan bagaimana kopi ditanam, dipanen, dijemur, disangrai, dan digiling menjadi bubuk daripada menjelaskan mengapa harga yang diterima petani sering kali tidak seindah harga kopi yang dijual di kota.

 

Saya menyebut kisaran harga yang biasa terdengar dari para petani. Lalu pikiran saya perlahan bergeser. Dari soal rasa kopi menjadi soal nasib kopi.

 

Dulu ketika ada tamu datang, kopi terbaik yang dimiliki akan disuguhkan. Bukan untuk menunjukkan kemewahan, melainkan sebagai penghormatan. Secangkir kopi adalah tanda persaudaraan. Tanda penerimaan. Tanda bahwa tamu tidak dianggap orang lain.

 

Karena itu dahulu orang tidak bertanya kopi ini merek apa. Tidak bertanya berasal dari kedai mana. Tidak pula sibuk memotret cangkirnya sebelum diminum. Yang penting adalah kebersamaan yang tumbuh di sekelilingnya.

 

Hari ini kopi telah menjelma menjadi industri besar. Kedai kopi tumbuh hampir di setiap sudut kota. Interiornya dibuat menarik. Pencahayaannya ditata sedemikian rupa. Nama menunya kadang terdengar lebih rumit daripada proses menanam kopinya.

 

Secangkir kopi bisa dihargai puluhan ribu hingga mendekati seratus ribu rupiah. Bahkan lebih. Tidak ada yang salah dengan itu. Kafe juga menggerakkan ekonomi. Membuka lapangan pekerjaan. Menjadi ruang bertemu bagi banyak orang.

 

Namun di tengah aroma kopi yang semakin mahal itu, pertanyaan Aqil terus terngiang di kepala saya.

 

"Kalau sekarang harga kopi di kampung berapa, Yah?"


Pertanyaan itu terdengar biasa. Tetapi semakin dipikirkan, semakin terasa dalam.

Mengapa harga secangkir kopi terus naik, sementara kesejahteraan petani kopi sering kali tidak ikut terangkat dengan kecepatan yang sama?

 

Petani tetap harus menghadapi cuaca yang tidak menentu. Harga pupuk yang berubah-ubah. Risiko gagal panen. Biaya produksi yang terus meningkat. Sementara harga jual sering kali ditentukan oleh banyak faktor yang tidak berada dalam kendali mereka.

 

Mereka yang menanam.

Mereka yang merawat,

Mereka yang memanen.

 

Tetapi nilai terbesar dari kopi sering kali baru muncul setelah kopi itu berpindah tangan berkali-kali.

 

Mungkin karena itu, setiap kali menikmati secangkir kopi, kita sebenarnya tidak hanya sedang meminum hasil seduhan. Kita sedang menikmati perjalanan panjang yang dimulai dari sebuah kebun.

 

Ada tangan petani yang bekerja sejak fajar. Ada punggung yang membungkuk saat memetik buah. Ada keluarga yang menunggu hasil panen. Ada desa-desa yang menggantungkan harapan pada pohon-pohon kopi yang tumbuh di lereng bukit.

 

 Bukankah hidup memang tidak pernah hanya tentang pahit dan manis?

 

 

Kopi mengajarkan bahwa sesuatu yang bernilai selalu membutuhkan proses. Gula mengajarkan bahwa kebaikan sering kali hadir dalam bentuk yang sederhana. Sedangkan petani mengajarkan bahwa kesabaran adalah akar dari hampir semua hasil yang baik.

 

Percakapan siang ini akhirnya usai. Cangkir-cangkir mulai kosong. Tamu berpamitan pulang. Aroma kopi perlahan menghilang bersama sore yang turun pelan-pelan.

 

Namun ada satu hal yang tertinggal di kepala saya.

 

Kopi yang kami minum tadi mungkin berasal dari kebun yang jauh dari kampung. Ditanam oleh petani yang bangun sebelum matahari terbit. Dipetik oleh tangan yang kasar karena bekerja. Dijual dengan harga yang sering kali membuat mereka hanya bisa tersenyum pasrah.

 

Lalu kopi yang sama berjalan lebih jauh lagi. Berganti kemasan. Berganti cerita. Berganti suasana. Hingga suatu hari disajikan dengan harga berkali-kali lipat di meja-meja yang nyaman.

 

Entah mengapa, tiba-tiba saya tidak lagi memikirkan rasa kopi di dalam cangkir.

Saya justru sibuk menghitung, sebenarnya siapa yang paling banyak menikmati manisnya kopi itu?

Post a Comment

Previous Post Next Post