Suatu pagi telepon genggam saya berdering. Di layar tertera
nama kakak yang tinggal di Jakarta. Obrolan kami mengalir seperti biasa;
tentang keluarga, kampung halaman, dan pekerjaan. Hingga kemudian beliau
bercerita bahwa dari pekon telah datang kabar, salah seorang kerabat akan
menggelar nayuh, sebutan kami untuk resepsi pernikahan.
Saya spontan ikut senang.
Sudah lama beliau tidak pulang. Saya membayangkan
kepulangannya akan menjadi obat rindu bagi keluarga. Nayuh, dalam bayangan
saya, selalu menjadi ruang yang mempertemukan kembali sanak saudara. Tempat
orang-orang saling berbagi cerita,, saling mendoakan, dan kembali merasakan
hangatnya menjadi bagian dari sebuah keluarga besar.
Namun, belum sempat saya mengucapkan selamat, beliau
melanjutkan kalimat yang membuat saya terdiam.
"Tapi yang memberi kabar juga berpesan, kalau pulang
jangan bawa uang sedikit. Kalau memang tidak siap, lebih baik tidak usah
pulang."
Saya sempat mengira beliau sedang bergurau.
"Lho, memang kenapa?" tanya saya.
Beliau menjawab pelan.
"Sekarang sudah beda. Dalam beharak ada silek, ada
nyambai, ada butetah adok. Katanya sekarang identik dengan saweran. Apalagi
kalau yang pulang dari perantauan. Orang di pekon mengira kita sudah berhasil,
sudah banyak uang."
Percakapan itu selesai. Tetapi kalimat terakhirnya tidak
ikut berakhir. Ia terus berputar di kepala saya. Sejak kapan kepulangan seorang
anak rantau diiringi rasa cemas, bukan rasa rindu?
Sejak kapan undangan menghadiri nayuh membuat orang lebih
dulu menghitung isi dompet daripada menghitung hari kepulangannya?
Dan sejak kapan adat yang dahulu menghadirkan kesejukan
justru membuat sebagian orang berpikir dua kali untuk pulang?
Saya tidak sedang menyimpulkan bahwa semua pelaksanaan adat
telah demikian. Sangat mungkin cerita itu hanya pengalaman di satu tempat.
Masih banyak pemilik hajat dan pemangku adat yang menjaga setiap prosesi dengan
penuh kehormatan. Namun, ketika kegelisahan seperti itu mulai terdengar dari
mulut masyarakat sendiri, rasanya tidak ada salahnya jika kita duduk sejenak
untuk bertanya.
Apa yang sesungguhnya sedang berubah?
Jangan-jangan yang bergeser bukan adatnya. Melainkan cara
kita memperlakukannya.
Budaya bukan sekadar warisan.
Budaya adalah amanah.
Ia lahir dari proses panjang yang dilalui para leluhur yang
mengikat nilai, tata krama, penghormatan, dan martabat manusia menjadi satu
kesatuan yang diwariskan lintas generasi. Karena itu, budaya tidak pernah
berdiri hanya sebagai tontonan.
Di dalamnya ada pesan yang ingin dijaga.
Semakin khidmat sebuah budaya dijalankan, semakin dalam pula
kesan yang ditinggalkannya.
Orang mungkin lupa siapa yang duduk di barisan depan.
Tetapi mereka akan selalu ingat bagaimana budaya itu membuat
hati mereka tersentuh.
Itulah sebabnya budaya-budaya besar selalu bertahan
melampaui zamannya. Lihatlah Keraton Yogyakarta atau Surakarta. Ribuan orang
datang setiap tahun untuk menyaksikan prosesi budaya. Tidak ada yang merasa
dipaksa. Tidak ada yang dipermalukan. Tidak ada kewajiban mengeluarkan uang
agar dianggap menghormati tradisi.
Semua orang dipersilakan menikmati.
Semua orang dipersilakan belajar.
Lalu pulang membawa rasa hormat.
Karena penghormatan terhadap budaya tidak pernah lahir dari
tekanan.
Ia tumbuh karena nilai yang dipancarkan oleh budaya itu
sendiri.
Karena itulah saya mulai merenungkan fenomena yang
belakangan sering diperbincangkan masyarakat.
Dalam beberapa pelaksanaan nyambai, butetah adok, maupun
silek pada acara nayuh, mulai muncul kebiasaan saweran. Bahkan sesekali
diselingi sindiran halus kepada tamu atau penonton agar ikut memberi.
Saya percaya, tidak semua tempat melakukannya.
Saya juga percaya, niatnya mungkin baik. Barangkali sekadar
mencairkan suasana. Barangkali ingin menambah semarak acara. Bahkan mungkin
dimaksudkan sebagai bentuk penghargaan kepada para penampil.
Tidak ada yang salah dengan niat baik.
Tetapi setiap kebiasaan baru patut direnungkan ketika mulai
memasuki ruang yang sejak dahulu dipandang sakral.
Sebab tidak semua tamu menikmati saat namanya disebut.
Tidak semua orang nyaman menjadi pusat perhatian.
Ada yang tersenyum demi menjaga sopan santun.
Ada yang merogoh saku karena merasa sungkan.
Ada pula yang memilih diam, tetapi pulang membawa kegelisahan
yang tidak pernah diceritakan kepada siapa pun.
Padahal adat sejak dahulu hadir untuk memuliakan manusia.
Bukan menguji isi dompetnya.
(Bersambung ke Bagian II)
Post a Comment