Suatu ketika saya menyaksikan
seorang pendamping di lapangan. Hampir setiap pekerjaan selalu diawali dengan
kalimat yang sama, "Tolong dong...", "Bantu
dong...". Sedikit-sedikit memerintah, sedikit-sedikit menyuruh. Yang
membuat saya heran, hampir tidak ada pekerjaan yang ia selesaikan dengan
tangannya sendiri. Seolah tugas utamanya bukan bekerja, melainkan memastikan
selalu ada orang lain yang bekerja untuknya.
Saya hanya bisa bergumam dalam hati,
"Kalau begini caranya, mungkin ia lebih cocok menjadi bos atau bekerja
di perusahaan yang memang dibangun dengan garis komando." Sebab dunia
pendampingan tidak pernah membutuhkan bos. Yang dibutuhkan adalah kawan
seperjuangan; sahabat yang rela berbagi beban, berjalan bersama, saling
mengisi, saling mengasah, saling mengasihi, dan saling mengasuh.
Celakanya, ada pendamping yang
begitu fasih mengucapkan kalimat, "Kita harus begini... kita harus
begitu..." Padahal yang dimaksud dengan "kita" adalah orang lain, sedangkan kata "harus" tidak pernah berlaku
untuk dirinya sendiri.
Peristiwa kecil itu terus mengusik
pikiran saya. Ternyata penyakit yang diam-diam menggerogoti dunia pemberdayaan
bukan semata-mata soal anggaran yang terbatas atau fasilitas yang kurang
memadai. Penyakit yang lebih berbahaya adalah ketika ada pendamping yang lupa
bahwa dirinya hadir untuk mendampingi, bukan mengendalikan.
Pakar pendidikan Brasil, Paulo
Freire, mengingatkan bahwa pendidikan yang membebaskan lahir dari dialog, bukan
dominasi. Pemberdayaan bukan hubungan antara orang yang merasa paling tahu
dengan orang yang dianggap tidak tahu. Pendamping sejati bukan pusat
pengetahuan, melainkan bagian dari proses belajar bersama. Ia datang bukan
untuk menunjukkan bahwa dirinya paling hebat, tetapi agar masyarakat menemukan
kekuatan yang telah lama mereka miliki.
Karena itu, seorang pendamping
semestinya lebih tajam matanya melihat persoalan daripada sibuk mencari
kesalahan. Lebih peka telinganya mendengar keluhan daripada gemar memotong
pembicaraan. Lebih ringan tangannya membantu daripada menunjuk-nunjuk
pekerjaan. Lebih kuat kakinya melangkah ke lapangan daripada betah duduk
memberi arahan. Dan lebih jernih pikirannya mencari solusi daripada sibuk
mencari kambing hitam.
Sebab masyarakat tidak belajar dari
panjangnya pidato. Mereka belajar dari pendeknya jarak antara ucapan dan
perbuatan.
Di
lapangan, contoh selalu lebih mahal daripada komando.
Komando hanya bekerja selama jabatan
masih melekat. Keteladanan tetap hidup sekalipun jabatan telah lama berakhir.
Komando bisa membuat orang bergerak karena kewajiban. Keteladanan membuat orang
bergerak karena kepercayaan.
Saya berkali-kali menyaksikan pendamping
yang tidak banyak bicara justru paling dicintai masyarakat. Ia datang lebih
awal tanpa diminta. Ikut mengangkat kursi. Membantu menata tempat kegiatan.
Menyapa warga satu per satu. Duduk mendengar keluhan tanpa tergesa-gesa. Bahkan
ketika acara selesai dan orang-orang mulai pulang, ia masih membantu
membereskan tikar dan kursi.
Tidak ada pidato tentang pengabdian.
Tidak ada unggahan yang memamerkan kebaikan. Tetapi namanya tinggal di hati
masyarakat.
Sebaliknya, ada pula pendamping yang
bekerja tanpa jiwa. Hadir karena absensi. Bergerak karena diperintah. Turun ke
lapangan karena takut ditegur. Akibatnya, pekerjaan terasa berat, masyarakat
tidak merasakan manfaat, dan rekan-rekannya harus menanggung beban yang ia
tinggalkan. Tugasnya diselesaikan orang lain. Kekeliruannya diperbaiki orang
lain. Bahkan hubungan yang rusak dengan masyarakat sering kali dipulihkan oleh
orang lain.
Pemberdayaan akhirnya berubah
menjadi pemberatan.
Ironisnya, orang seperti ini sering
merasa dirinya paling berjasa. Barangkali karena ia mengira banyak bicara
adalah tanda banyak bekerja. Padahal organisasi tidak pernah maju karena suara
yang paling keras. Organisasi maju karena orang-orang yang diam-diam
menyelesaikan pekerjaan tanpa merasa perlu mencari tepuk tangan.
Hakikat pendampingan bukanlah
membangun ketergantungan kepada pendamping. Hakikatnya adalah melahirkan
masyarakat yang semakin mandiri, semakin percaya diri, dan semakin mampu
menyelesaikan persoalannya sendiri.
Maka ukuran keberhasilan seorang
pendamping bukanlah seberapa sering ia memberi instruksi, melainkan seberapa
sedikit masyarakat bergantung kepadanya. Sebab pendamping terbaik adalah mereka
yang suatu hari nanti tidak lagi dibutuhkan, karena masyarakat telah mampu
berjalan dengan kekuatannya sendiri.
Pada akhirnya saya semakin yakin,
dunia pendampingan tidak membutuhkan orang yang gemar berdiri di depan untuk
didengar. Dunia pendampingan membutuhkan orang yang bersedia berdiri di samping
untuk berbagi beban, berjalan bersama, dan memberi contoh lebih dahulu sebelum
mengajak orang lain melangkah.
Sebab
masyarakat tidak pernah kekurangan orang yang pandai menyuruh. Yang mereka
rindukan adalah orang yang rela ikut berkeringat.
Dan
sejarah selalu mencatat, perubahan besar tidak pernah dipimpin oleh mereka yang
paling lantang memberi komando, melainkan oleh mereka yang diam-diam memberi
teladan.
إرسال تعليق